Inilah Dampak Kesepian pada Berbagai Kelompok Umur

Ditinjau oleh  dr. Verury Verona Handayani   08 Januari 2021
Inilah Dampak Kesepian pada Berbagai Kelompok UmurInilah Dampak Kesepian pada Berbagai Kelompok Umur

Halodoc, Jakarta - Sejak duduk di sekolah menengah, kamu pasti sudah paham mengenai konsep manusia sebagai makhluk sosial. Sayangnya, di berbagai lapisan masyarakat, jejaring sosial cenderung menipis seiring bertambahnya usia, yang dalam banyak kasus mengarah pada isolasi dan kesepian. Para ilmuwan berpendapat bahwa kesepian adalah masalah kesehatan masyarakat yang umum dan tidak boleh dianggap sepele karena bisa berdampak pada kesehatan, kesejahteraan, dan angka harapan hidup.

Apalagi kini dengan diberlakukannya kebijakan work from home, physical distancing, dan karantina mandiri, telah memengaruhi beberapa kelompok umur lebih buruk daripada yang lain. Dalam buku karangan Dr. Vivek Murthy, Together: The Healing Power of Human Connection in a When Lonely World, ia menggambarkan kesepian sebagai krisis. Ia juga mengatakan bahwa hal itu bisa menyebabkan penurunan angka harapan hidup, meningkatkan risiko penyakit jantung, demensia, depresi, dan kecemasan yang lebih tinggi. Kesepian juga memiliki efek yang mendalam pada performa seseorang di tempat kerja, sekolah, dan masyarakat. 

Baca juga: Merasa Kesepian di Tempat Ramai Jadi Tanda Depresi?

Dampak Kesepian pada Berbagai Kalangan 

Sebuah tim peneliti menerbitkan studi baru tentang kesepian di Journal of Clinical Psychiatry. Mereka ingin mengidentifikasi faktor risiko psikologis dan lingkungan yang terkait dengan kesepian pada kelompok usia yang berbeda. Mereka menggunakan survei berbasis web terhadap 2.843 peserta, berusia 20 hingga 69 tahun, dari seluruh Amerika Serikat antara 10 April 2019 dan 10 Mei 2019.

Para peneliti menemukan bahwa tingkat empati dan kasih sayang yang lebih rendah, jaringan sosial yang lebih kecil, tidak memiliki pasangan, dan gangguan tidur yang lebih besar berkorelasi dengan kesepian di semua dekade kehidupan. Kemampuan untuk mencerminkan kepercayaan diri dalam melakukan kontrol atas motivasi, perilaku, dan lingkungan sosial seseorang serta kecemasan yang lebih tinggi dikaitkan dengan kesepian yang lebih buruk dalam semua kelompok umur, kecuali pada mereka yang berusia 60-an. Mereka menemukan bahwa tingkat kesepian tertinggi, rata-rata terjadi pada usia 20-an dan menunjukkan puncak lainnya pada pertengahan 40-an, dan paling rendah pada 60-an.

Studi tersebut menunjukkan bahwa orang-orang berusia 20-an menghadapi stres dan tekanan tinggi saat mencoba membangun karier dan menemukan pasangan hidup. Banyak orang dalam usia ini terus-menerus membandingkan diri mereka sendiri di media sosial dan khawatir tentang popularitas dan citra mereka. Selain itu, tingkat efikasi diri yang lebih rendah dapat menyebabkan rasa kesepian yang lebih besar. Sementara, orang berusia 40-an mulai mengalami tantangan fisik dan masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi dan diabetes yang membuat mereka jadi lebih terbatas untuk bisa bersosialisasi.

Menurut para peneliti, dengan memberikan kasih sayang, ini bisa mengurangi tingkat kesepian di semua usia. Ini diduga bisa memungkinkan seseorang untuk secara akurat memahami dan menafsirkan emosi orang lain bersama dengan disertai perilaku membantu terhadap orang lain. Dengan demikian, ini akan meningkatkan social self-efficacy dan jaringan sosial mereka.

Baca juga: Benarkah Perempuan Sukses Cenderung Merasa Kesepian?

Solusi untuk Atasi Kesepian

Para ahli merekomendasikan pendekatan yang berbeda dalam mengatasi kesepian pada berbagai rentang usia. Misalnya, studi baru lainnya yang dilakukan sebelum pandemi dan diterbitkan dalam The American Journal of Geriatric Psychiatry menemukan bahwa manula yang mengikuti kelas latihan kelompok melaporkan lebih sedikit kesepian dan isolasi sosial. 

Sementara bagi kaum yang lebih muda, dengan adanya perangkat elektronik untuk bersosial media, bukan berarti mereka terbebas dari kesepian. Hal yang terpenting dalam mengatasi kesepian adalah meningkatkan kualitas koneksi kamu dengan orang lain. Teknologi terkadang dapat menjadi koneksi yang berkualitas, tetapi terkadang dapat mengurangi kualitas koneksi. Ingat, jenis percakapan yang kamu lakukan melalui teks berbeda secara kualitatif dari percakapan yang kamu lakukan secara langsung atau melalui telepon ketika kamu dapat mendengar suara seseorang dan memahami nada, perasaan, dan niatnya. 

Habiskan waktu dan berusahalah untuk hadir sepenuhnya dengan orang-orang terdekat. Misalnya, coba untuk makan malam bersama keluarga tanpa melihat ponsel. Selain itu, cobalah untuk melayani, membantu rekan kerja di tempat kerja, atau menjadi sukarelawan untuk suatu tujuan di komunitas. Ini tidak hanya membuat kamu bisa terhubung dengan orang lain, tetapi juga bisa meningkatkan harga diri. 

Baca juga: Tanpa Disadari, Pikiran Ini Memicu Rasa Kesepian

Namun, jika solusi di atas kurang membantu, kamu bisa coba ceritakan masalah dan keluhan mengenai kesepian yang kamu rasakan pada psikolog. Kamu bisa buat janji untuk bertemu psikolog di rumah sakit pakai aplikasi Halodoc. Praktis bukan? Yuk, manfaatkan aplikasi Halodoc untuk menikmati layanan kesehatan yang lebih mudah!

Referensi:
Aging Life Care Association. Diakses pada 2020. Health Effects of Social Isolation and Loneliness.
Forbes. Diakses pada 2020. The Detrimental Effect Of Loneliness On Your Health And What You Can Do About It.
Psychology Today. Diakses pada 2020. The Impact of Loneliness on Different Age Groups.


Mulai Rp50 Ribu! Bisa Konsultasi dengan Ahli seputar Kesehatan