Ad Placeholder Image

Jangan Keliru! Anak GTM Perlu Susu Tambahan?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Mei 2026

Apakah Anak GTM Perlu Susu Tambahan? Simak Penjelasannya

Jangan Keliru! Anak GTM Perlu Susu Tambahan?Jangan Keliru! Anak GTM Perlu Susu Tambahan?

Apa Itu GTM pada Anak?

Gerakan Tutup Mulut atau GTM merupakan kondisi ketika anak menolak untuk makan, baik dengan cara menutup mulut rapat, memalingkan wajah, hingga menyemburkan makanan yang sudah masuk. Fenomena ini sering kali menimbulkan kekhawatiran pada orang tua karena berkaitan dengan kecukupan nutrisi harian yang dibutuhkan untuk proses pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.

GTM biasanya terjadi pada fase transisi makanan atau saat anak mulai mengeksplorasi kemandirian dalam memilih makanan. Kondisi ini dapat bersifat sementara namun bisa pula berlangsung dalam jangka waktu lama jika tidak segera diidentifikasi faktor pemicunya. Pemahaman mengenai definisi GTM membantu orang tua untuk tetap tenang dalam menyusun strategi pemberian makan yang tepat.

Karakteristik umum GTM meliputi:

  • Anak menangis atau rewel saat melihat sendok atau piring makan.
  • Proses makan berlangsung lebih dari 30 menit tanpa hasil maksimal.
  • Anak hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu saja secara berulang.
  • Terdapat kecenderungan anak untuk lebih memilih cairan dibandingkan makanan padat.

Penyebab Anak Melakukan Gerakan Tutup Mulut

Penyebab anak melakukan gerakan tutup mulut sangat beragam, mulai dari faktor psikologis, perilaku, hingga adanya gangguan kesehatan medis yang mendasari. Secara psikologis, anak mungkin merasa tertekan akibat paksaan saat makan, sedangkan secara medis, kondisi seperti tumbuh gigi atau sariawan dapat membuat proses mengunyah menjadi tidak nyaman bagi anak.

Sering kali, kesalahan dalam penerapan aturan makan atau feeding rules menjadi pemicu utama anak melakukan GTM. Misalnya, memberikan camilan atau susu terlalu dekat dengan waktu makan utama sehingga anak merasa kenyang sebelum waktunya. Selain itu, distraksi seperti penggunaan gawai atau televisi saat makan juga dapat mengurangi fokus anak terhadap rasa dan tekstur makanan.

Beberapa faktor penyebab umum meliputi:

  • Rasa bosan terhadap menu makanan yang monoton atau tekstur yang tidak sesuai usia.
  • Kondisi medis seperti infeksi saluran kemih atau anemia defisiensi besi.
  • Trauma pada proses makan sebelumnya yang melibatkan paksaan atau kekerasan.
  • Anak sedang dalam fase ingin menunjukkan kontrol atas dirinya sendiri.

Apakah Anak GTM Perlu Susu Tambahan?

Pemberian susu tambahan pada anak GTM tidak selalu menjadi solusi tepat dan harus dilakukan berdasarkan pertimbangan medis serta status gizi anak. Susu sebaiknya tetap diposisikan sebagai pelengkap nutrisi, bukan pengganti makanan padat, karena ketergantungan pada susu dapat mengurangi keinginan anak untuk belajar mengunyah dan mengenal berbagai macam rasa makanan yang penting bagi perkembangannya.

Secara medis, jika berat badan anak masih berada dalam kurva pertumbuhan yang normal, pemberian susu tambahan secara berlebihan tidak disarankan. Fokus utama tetap harus dikembalikan pada perbaikan pola makan dan kualitas asupan makanan pendamping ASI atau makanan keluarga. Konsumsi susu yang terlalu banyak justru berisiko membuat anak merasa kenyang lebih lama sehingga siklus GTM terus berlanjut.

Memahami pilihan makanan penambah berat badan bayi 6-12 bulan yang tepat dapat membantu orang tua memenuhi kebutuhan gizi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada susu. Nutrisi dari makanan padat menyediakan zat besi dan seng yang tidak selalu tercukupi hanya dari susu sapi atau susu pertumbuhan standar.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian susu pada anak usia di atas satu tahun sebaiknya tidak melebihi 500 ml per hari. Hal ini bertujuan agar porsi makan utama tidak tergeser oleh asupan cairan yang minim serat dan zat besi.

Dampak Pemberian Susu Berlebihan

Pemberian susu berlebihan sebagai kompensasi saat anak melakukan GTM dapat memicu risiko kesehatan jangka panjang yang cukup serius. Dampak yang paling sering ditemukan adalah terjadinya anemia defisiensi besi, karena kalsium dalam susu dalam jumlah tinggi dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan lain di dalam saluran pencernaan anak.

Selain risiko anemia, anak yang terlalu banyak minum susu cenderung mengalami sembelit atau konstipasi karena kurangnya asupan serat dari sayuran dan buah-buahan. Secara perilaku, anak akan kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan oromotor atau otot-otot mulut yang diperlukan untuk kemampuan bicara dan makan di masa depan. Hal ini dapat memperpanjang durasi masalah makan pada anak.

Beberapa dampak negatif lainnya meliputi:

  • Risiko obesitas akibat asupan kalori cair yang tidak terkontrol.
  • Karies gigi jika susu diberikan menggunakan botol dalam waktu lama, terutama menjelang tidur.
  • Kurangnya variasi asupan mikronutrisi yang hanya didapatkan dari makanan padat beragam.
  • Keterlambatan perkembangan kemampuan makan secara mandiri.

Strategi Mengatasi Anak Susah Makan

Strategi utama untuk mengatasi GTM adalah dengan menerapkan aturan makan yang konsisten, yakni mengatur jadwal makan utama dan camilan secara teratur setiap hari. Pastikan tidak ada asupan cairan selain air putih di antara waktu makan agar anak benar-benar merasakan sensasi lapar. Durasi makan juga harus dibatasi maksimal 30 menit untuk menciptakan disiplin pada anak.

Orang tua juga disarankan untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan tanpa tekanan atau paksaan yang berlebihan. Menyajikan makanan dengan variasi warna dan bentuk menarik dapat menstimulasi rasa ingin tahu anak. Libatkan pula anak dalam proses pemilihan bahan makanan atau persiapan sederhana untuk meningkatkan minatnya terhadap apa yang akan dikonsumsi.

Selain makanan seimbang, pemberian susu sesuai usia dapat membantu memenuhi kebutuhan makro dan mikro nutrisi penting karena umumnya telah difortifikasi sesuai kebutuhan tumbuh kembang bayi sehingga membantu menjaga pertambahan berat badan yang sehat. Jika berat badan bayi sulit naik atau terdapat kekhawatiran terkait tumbuh kembangnya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak atau tenaga kesehatan melalui Halodoc untuk mendapatkan saran yang sesuai dengan kondisi bayi.

Kapan Harus Menghubungi Tenaga Medis?

Konsultasi dengan tenaga medis diperlukan jika perilaku GTM sudah disertai dengan indikasi gangguan pertumbuhan atau masalah kesehatan yang nyata. Orang tua perlu waspada jika grafik pertumbuhan anak menunjukkan tren menurun atau mendatar selama beberapa bulan berturut-turut. Kondisi ini menandakan bahwa asupan nutrisi harian sudah tidak mencukupi kebutuhan metabolisme dasar anak.

Selain masalah berat badan, tanda-tanda dehidrasi, kelesuan yang tidak biasa, atau adanya gejala infeksi juga memerlukan penanganan segera. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan mungkin menyarankan pemeriksaan laboratorium untuk menyingkirkan kemungkinan anemia atau infeksi tersembunyi. Intervensi dini sangat penting untuk mencegah terjadinya stunting atau gangguan perkembangan lainnya.

Tanda bahaya yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Anak menolak semua jenis makanan dan minuman secara total.
  • Terjadi penurunan berat badan yang drastis dalam waktu singkat.
  • Anak tampak pucat, lemas, dan tidak aktif bermain seperti biasanya.
  • Adanya gangguan menelan atau muntah setiap kali makanan masuk.

Kesimpulan

Anak GTM tidak selalu membutuhkan susu tambahan sebagai pengganti makanan utama karena fokus perbaikan harus dilakukan pada pola dan aturan makan yang tepat. Penggunaan susu secara berlebihan justru berisiko memicu anemia dan menghambat perkembangan kemampuan makan anak. Segera lakukan pemantauan grafik pertumbuhan dan konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan penanganan medis yang sesuai jika GTM berdampak pada berat badan anak.