• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jangan Keliru, Inilah Cara Membedakan Sariawan Biasa dan Gejala Kanker Mulut
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jangan Keliru, Inilah Cara Membedakan Sariawan Biasa dan Gejala Kanker Mulut

Jangan Keliru, Inilah Cara Membedakan Sariawan Biasa dan Gejala Kanker Mulut

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 11 Januari 2022
Jangan Keliru, Inilah Cara Membedakan Sariawan Biasa dan Gejala Kanker Mulut

“Sebaiknya jangan abaikan sariawan yang kamu alami. Perhatikan waktu sariawan, proses penyembuhan, bentuk sariawan, hingga warna yang terjadi pada sariawan dan pinggirannya. Jika sariawan tidak kunjung membaik dalam waktu 2-4 minggu ada baiknya untuk segera melakukan pemeriksaan.”

Halodoc, Jakarta - Sariawan menjadi masalah kesehatan mulut yang sering terjadi dan dialami oleh semua orang. Lesi berwarna putih di area mulut dan gusi ini sudah pasti sangat menyakitkan dan membuat tidak nyaman. Bahkan, sariawan bisa membuat seseorang kehilangan nafsu makan karena gesekan yang membuat luka terasa lebih perih.

Pada 2012, data dari Jurnal Harefuah menunjukkan terdapat sekitar 369.200 kasus kanker mulut terbaru di dunia. Bahkan, angka kasus kanker mulut terus meningkat. Untuk itu, sebaiknya ketahui beberapa gejala terkait kanker mulut, sehingga kondisi ini bisa ditangani lebih dini.

Cara Membedakan Sariawan Biasa dan Kanker Mulut

Lalu, bagaimana membedakan antara sariawan dan gejala kanker mulut agar bisa dideteksi sejak dini? Berikut ini cara mengetahui perbedaanya:

1. Tidak Kunjung Sembuh

Sariawan bisa sembuh dalam waktu 2-4 minggu disesuaikan dengan kondisi luka. Namun, jika sariawan tidak kunjung membaik meskipun sudah diobati, sebaiknya kamu perlu waspada. Hal ini bisa saja menjadi pertanda dari suatu penyakit.

Cara membedakan sariawan dengan kanker mulut bisa diamati melalui perkembangan dan dampak sariawan. Perhatikan apakah sariawan bertambah besar, bertambah sakit, dan tidak kunjung sembuh, sehingga mengganggu fungsi mengunyah atau bicara. 

2. Perhatikan Bentuk Luka

Perhatikan bentuk luka yang terbentuk pada area mulut. Luka atau lesi yang terbentuk bisa saja bukan sariawan biasa. Biasanya, sariawan biasa memiliki bentuk bulat atau oval, nyeri, berwarna putih kekuningan, hingga pinggiran yang merah akibat peradangan. Segera periksakan kondisi kesehatan jika luka atau sariawan berbentuk tidak teratur dan sering mengeluarkan darah.

3. Amati Perubahan Warnanya

Membedakan sariawan dengan kanker mulut juga bisa melalui perubahan warnanya. Sariawan atau stomatitis aftosa memiliki ciri pinggiran merah dan dasar luka berwarna putih atau kekuningan. 

Nah, ketika luka berubah menjadi tak sesuai seperti yang digambarkan, sudah sepatutnya kamu merasa curiga. Apalagi jika pinggirannya tiba-tiba saja mengalami perubahaan. Misalnya, jadi mengeras atau menggulung yang tidak menimbulkan rasa sakit. Selain itu, sariawan yang berbentuk bintil-bintil juga patut dipertanyakan. 

Kesimpulannya, sariawan umumnya akan mereda dan hilang dalam waktu satu atau dua minggu. Namun, bila kamu mengalami sariawan secara berkali-kali, luka sariawan bertambah sakit (menjadi merah, indikasi infeksi bakteri), dan tak kunjung reda dalam waktu tiga minggu, segeralah tanyakan pada dokter. 

Bukan hanya sariawan, kanker mulut juga ditandai dengan gejala lainnya. Mulai dari gigi yang goyang tanpa sebab, muncul bercak putih dan merah pada bagian mulut dalam, nyeri saat menelan dan mengunyah, benjolan di dinding dalam mulut, perubahan pada suara, hingga kesulitan berbicara.

Jadi, jangan abaikan apabila sariawan yang kamu alami juga diikuti dengan sederetan gejala lain seperti di atas. Segera lakukan pengobatan agar komplikasi tidak terjadi. Jangan lupa untuk cek kebutuhan medis yang kamu butuhkan melalui aplikasi Halodoc

Kamu juga bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Ada beberapa dokter spesialis yang bisa kamu tanyakan langsung mengenai keluhan kesehatan yang kamu alami terkait dengan kanker mulut. Berikut rekomendasinya:

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi yang aktif melayani pasien di RS Omni Pulomas dan RS EMC Sentul. dr. I Made Chandra Ari Kumara mendapatkan gelar spesialisnya setelah menamatkan pendidikan di Universitas Udayana, Bali.

Beliau yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) sebagai anggota ini bisa memberikan layanan konsultasi seputar bedah khususnya terkait onkologi (kanker).

Dokter Spesialis Bedah Onkologi yang aktif melayani pasien di RS Mayapada Jakarta Selatan, RS Puri Cinere, dan RS Pondok Indah. dr. Ismairin mendapatkan gelar spesialisnya setelah menamatkan pendidikan di Universitas Indonesia, Depok.

Beliau yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia bisa memberikan layanan Konsultasi, dan Tindakan terkait Bedah Onkologi (Kanker).

Dokter Spesialis Bedah Onkologi yang aktif melayani pasien di RS Siloam Makassar, RS Stella Maris Makassar. dr John Sammy Leids Alfawin Pieter mendapatkan gelar spesialisnya setelah menamatkan pendidikan di Universitas Hasanuddin, Makassar pada tahun 2017.

Beliau yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI),Perhimpunan Bedah Onkologi Indonesia sebagai anggota ini bisa memberikan layanan medis terkait Kemoterapi, Konsultasi Kanker, Mammografi, Skrining Kanker, USG Mammae dan lain lain.

Kamu bisa menghubungi dokter spesialis melalui Video/Voice Call dan Chat. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga melalui App Store atau Google Play!

Referensi:

NHS. Diakses pada 2021. Health A-Z. Mouth Ulcers.

Healthline. Diakses pada 2021. Stomatitis. 

Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Diseases & Conditions. Mouth cancer.

Harefuah. Diakses pada 2022. Global Incidence and Risk Factors of Oral Cancer.

Diperbarui pada 11 Januari 2022.