• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jangan Percaya Mitos tentang Gula Ini

Jangan Percaya Mitos tentang Gula Ini

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Jangan Percaya Mitos tentang Gula Ini

Halodoc, Jakarta - Selama bertahun-tahun, gula telah digunakan sebagai pemanis di dalam makanan maupun minuman. Gula sendiri merupakan karbohidrat yang larut, yaitu suatu molekul biologis yang terdiri dari atom karbon, hidrogen, dan oksigen.  

Gula sederhana, atau disebut juga monosakarida, termasuk glukosa dan fruktosa. Sementara itu, gula pasir termasuk gula majemuk atau disakarida, yang dikenal sebagai sukrosa, terdiri dari glukosa dan fruktosa. Selama proses pencernaan berlangsung, tubuh memecah disakarida menjadi monosakarida.

Baca juga: Inilah Tanda-tanda Kalau Kamu Kelebihan Gula Darah

Meski begitu, masih banyak sekali mitos tentang gula di internet yang belum tentu benar. Jadi, mengetahui faktanya akan lebih baik agar kamu tidak mendapatkan informasi yang keliru. Berikut ini beberapa di antaranya: 

  • Gula Membuat Anak Menjadi Hiperaktif

Mitos ini sangat dipercaya sebagian besar orangtua sehingga tak jarang mereka membatasi pemberian gula pada sang buah hati. Nyatanya, belum ada studi ilmiah yang berhasil membuktikan bahwa gula menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Studi yang dipublikasikan dalam JAMA menyimpulkan bahwa gula, terutama sukrosa tidak memengaruhi kinerja kognitif atau perilaku anak-anak. 

  • Gula Menjadi Penyebab Diabetes

Mitos lain yang masih dipercaya adalah gula secara langsung menyebabkan diabetes. Namun, tidak ada hubungan langsung antara keduanya. Kelebihan berat badan memang menjadi faktor risiko diabetes tipe 2, di mana mengonsumsi gula dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya obesitas.

Akan tetapi, gula bukanlah penyebab langsung diabetes tipe 2. Sedangkan untuk diabetes tipe 1, faktor makanan dan gaya hidup tidak memiliki peran yang signifikan.

Baca juga: 2 Cara Sederhana Mengendalikan Gula Darah

  • Tidak Menambah Gula pada Makanan

Mengonsumsi gula berlebih memang berdampak buruk bagi kesehatan, jadi banyak orang yang lantas mengurangi asupannya dalam pola makan. Namun, sebenarnya, kamu tidak perlu menghilangkan gula sepenuhnya dari makanan.

Misalnya, buah mengandung gula, tetapi bermanfaat bagi kesehatan, jadi tidak mengonsumsinya justru akan merugikan. Sebaliknya, mengurangi konsumsi minuman manis, seperti soda bisa menjadi pilihan tepat, karena minuman ini bisa memicu kerusakan ginjal, penuaan sel, patah tulang pinggul, obesitas, dan diabetes tipe 2. 

  • Gula Menyebabkan Kanker

Sebagian besar ahli tidak percaya gula secara langsung menyebabkan kanker atau menjadi bahan bakar penyebarannya. Sel kanker membelah dengan cepat, artinya mereka membutuhkan banyak energi yang dapat disediakan gula. Inilah mungkin akar dari mitos tersebut.

Namun, semua sel membutuhkan gula, dan sel kanker juga membutuhkan nutrisi lain untuk bertahan hidup, seperti asam amino dan lemak, jadi ini tidak semua adalah akibat dari gula. Menurut Cancer Research UK, tidak ada bukti bahwa mengikuti diet bebas gula menurunkan risiko terkena kanker atau meningkatkan peluang untuk bertahan hidup jika terdiagnosis. 

Seperti diabetes, peningkatan asupan gula memiliki kaitan dengan penambahan berat badan, sementara itu kelebihan berat badan dan obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker. Jadi, meskipun gula tidak secara langsung menyebabkan kanker dan tidak membantunya berkembang, tetapi jika seseorang mengonsumsi gula dalam jumlah tinggi dan mengembangkan obesitas, maka risikonya meningkat.

Baca juga: Cegah Diabetes dengan Cara Ini

Rutin memeriksakan kondisi kesehatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah ada masalah pada tubuh, termasuk mengetahui kadar gula dalam darah. Jadi, jangan lupa untuk melakukan cek kesehatan, ya! Kamu sekarang akan lebih mudah untuk berobat ke rumah sakit, karena bisa membuat janji terlebih dahulu melalui aplikasi Halodoc. Jadi, tak perlu lagi mengantre untuk berobat. 



Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2021. Medical myths: All about sugar.
Mark, L.W., et al. 1995. Diakses pada 2021. The Effect of Sugar on Behavior or Cognition in Children: A Meta-analysis. JAMA 274(20):1617-1621.