• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kalazion Lebih Sering Dialami Anak-Anak, Benarkah? 

Kalazion Lebih Sering Dialami Anak-Anak, Benarkah? 

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Kalazion adalah kondisi yang menyebabkan muncul benjolan kecil, umumnya berukuran 2–8 milimeter di kelopak mata. Benjolan ini muncul akibat penyumbatan yang terjadi pada kelenjar meibom atau kelenjar minyak yang ada di mata. Benjolan kalazion biasanya muncul pada kelopak mata bagian atas, tetapi juga bisa di kelopak mata bawah atau keduanya.

Benjolan yang muncul di kelopak mata biasanya akan hilang sendiri setelah beberapa saat. Kalazion bisa menyerang siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. Kalazion jarang menimbulkan rasa sakit dan umumnya tidak mengganggu penglihatan. 

Meski bisa terjadi pada siapa saja, risiko kalazion disebut lebih tinggi pada orang yang mengalami blefaritis, mengidap diabetes, serta memiliki kondisi kulit tertentu, seperti rosacea atau dermatitis seboroik. 

Baca juga: Ketahui 4 Faktor yang Tingkatkan Munculnya Kalazion

Mengatasi Kalazion pada Anak-Anak

Gejala khas dari kondisi ini adalah muncul benjolan pada kelopak mata. Kalazion juga bisa menyebabkan muncul rasa mengganjal, kulit di kelopak mata berubah merah, serta mata mengeluarkan air. Kalazion biasanya akan hilang sendiri tanpa penanganan khusus. Namun, kondisi ini mungkin akan mengakibatkan anak-anak menjadi lebih rewel. 

Mengatasi kalazion pada anak bisa dilakukan dengan perawatan di rumah. Beberapa cara yang bisa membantu mengatasi benjolan kalazion pada kelopak mata adalah: 

  • Kompres Air Hangat 

Salah satu perawatan rumah yang bisa dilakukan untuk mengatasi kalazion adalah kompres air hangat pada mata. Ibu bisa menggunakan handuk bersih yang sebelumnya sudah direndam dalam air hangat, kemudian kompres pada mata anak yang mengalami masalah. Tempelkan handuk hangat selama 2–5 menit kemudian singkirkan. Ulangi cara ini sebanyak 2–5 kali sehari. Kompres hangat bisa membantu mengatasi rasa nyeri dan gatal yang mungkin muncul pada kelopak mata. 

Baca juga: Sama-Sama Menyerang Mata, Ini Perbedaan Bintitan dan Kalazion

  • Pijat Lembut 

Setelah mengompres air hangat, ibu bisa memijat lembut kelopak mata Si Kecil. Pastikan untuk membersihkan tangan dan jari sebelum melakukan pijatan dan minta anak untuk menutup matanya. Cara ini akan membantu mengurangi rasa tidak nyaman dan gejala lain yang muncul akibat kalazion. 

  • Membersihkan Mata 

Pastikan juga untuk selalu menjaga kebersihan area mata. Hal ini bisa membantu menghindari kalazion menjadi lebih buruk. Untuk menjaga kebersihan mata, biasakan untuk mencuci bagian tersebut secara rutin. 

Ibu bisa membersihkan area mata anak sekali atau dua kali sehari dengan cara yang disesuaikan. Saat anak mengalami kalazion, cobalah untuk membersihkan area mata dengan air hangat atau air matang yang dicampur dengan garam. Saat suhu air sudah cukup rendah dan bisa diterima kulit anak, ibu bisa mulai membersihkan area mata. 

  • Obat-obatan 

Selai dengan perawatan di rumah, kalazion juga diatasi dengan konsumsi obat-obatan tertentu. Cara ini sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan jika gejala kalazion masih tergolong ringan, apalagi benjolan ini nantinya akan hilang sendiri setelah beberapa saat. Jika dibutuhkan, kalazion mungkin akan diatasi dengan konsumsi obat antibiotik. Pada kondisi yang parah, benjolan pada kelopak mata mungkin perlu diangkat melalui prosedur operasi. 

Baca juga: Bekerja di Luar Ruangan Sebabkan Kalazion, Benarkah?

Masih  penasaran tentang kalazion atau apa saja pemicu munculnya benjolan pada kelopak mata anak? Tanya dokter di aplikasi Halodoc saja. Ibu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi: 
Children’s Health Queensland Hospital and Health Service. Diakses pada 2020. Chalazion.
Healthline. Diakses pada 2020. Chalazion.
American Academy of Ophthalmology. Diakses pada 2020. Chalazion Management: Evidence and Questions.