• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kapan Operasi Diperlukan untuk Atasi Sindrom Kompartemen?

Kapan Operasi Diperlukan untuk Atasi Sindrom Kompartemen?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar keluhan kesehatan bernama sindrom kompartemen? Kalau tidak, pernah atau sedang mengalami nyeri hebat dan rasa penuh ketika otot digerakan atau ditekan (pada bagian kaki, lengan, atau kaki)? Nah, bisa saja kondisi ini menandai adanya sindrom kompartemen. 

Sindrom ini merupakan kondisi serius yang terjadi ketika ada sejumlah tekanan besar di dalam kompartemen otot. Kompartemen otot ini merupakan kelompok jaringan otot, pembuluh darah, dan saraf di lengan dan kaki. Mereka dikelilingi oleh membran yang sangat kuat, sebutannya fasia. 

Jangan main-main dengan sindrom kompartemen lho. Alasannya simpel, kondisi ini bisa memicu terjadinya komplikasi yang tidak main-main dampaknya. Lantas, bagaimana sih cara mengatasi sindrom kompartemen? Apakah masalah ini harus diatasi lewat prosedur operasi? 

Baca juga: Alami Sindrom Kompartemen, Coba Fisioterapi

Harus Selalu Operasi? 

Benarkah operasi selalu menjadi jalan keluar untuk mengatasi sindrom kompartemen? Faktanya, tidak demikian. Pengidap sindrom kompartemen kronis biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi obat-obatan, seperti anti-iflamasi nonsteroid. Selain itu, mereka juga direkomendasikan untuk menjalani fisioterapi untuk meregangkan otot.

Lalu, kapan operasi dibutuhkan untuk mengatasi sindrom kompartemen? Nah, prosedur medis yang satu dini dipilih untuk pengidap sindrom kompartemen akut. Tujuannya, untuk menghindari komplikasi lanjutan. Dalam dunia medis, operasi sindrom kompartemen disebut dengan fasciotomy. Di sini dokter akan membuka lapisan pelindung kompartemen otot, untuk mengurangi tekanan dan mengangkat sel otot yang sudah mati jika ditemukan. 

Baca juga: Mengidap Sindrom Kompartemen, Bolehkah Berolahraga?

Bukan Cuma Nyeri

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, tak ada salahnya untuk berkenalan terlebih dahulu dengan gejalanya. Seseorang yang mengidap sindrom kompartemen bisa mengalami beragam gejala. Namun, gejala yang dirasakan tiap individu bisa berbeda-beda yang bergantung dengan keparahan kondisi yang diidapnya. Nah, berikut ini gejala yang umumnya terjadi:

  • Nyeri hebat, khususnya saat otot digerakkan.

  • Warna kulit di sekitarnya terlihat pucat dan terasa dingin.

  • Kram otot saat berolahraga.

  • Otot bengkak.

  • Rasa penuh pada otot dan nyeri bila ditekan.

  • Kesemutan atau rasa, seperti terbakar.

  • Otot terasa lemas dan mati rasa.

Nah, andaikan mengalami gejala-gejala di atas, segeralah tanyakan atau temui dokter. Tujuannya jelas untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan terhindari dari komplikasi. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc

Kembali ke judul utama, apa penyebab sindrom kompartemen? 

Awasi Faktor Penyebabnya 

Faktanya, banyak kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya sindrom kompartemen. Sebagian besar penyebabnya akibat cedera yang berkaitan dengan otot atau tulang. Contohnya, luka tembak, luka tusuk, perdarahan, patah tulang, komplikasi operasi pembuluh darah, perban yang dibebat terlampau ketat, hingga celana ketat atau benda lainnya yang menimbulkan tekanan kencang pada otot. 

Andaikan ada terlalu banyak tekanan dari darah yang mengalir di kompartemen itu, maka bisa membuat vena yang tugasnya mengembalikan darah ke jantung jadi terblokir. Seram, kan? Dalam kebanyakan kasus, sindrom kompartemen ini menyerang bagian tangan, lengan, bokong, dan kaki. 

Nah, sindrom kompartemen aku ini sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu: 

  • Sindrom Kompartemen Akut

Sindrom kompartemen jenis ini umumnya terjadi setelah seseorang mengalami cedera berat. Pada kasus yang lebih jarang, kondisi ini juga dapat terjadi setelah cedera kecil. Sebagai contoh, seseorang dapat mengalami sindrom kompartemen akut setelah mengalami patah tulang, cedera yang merusak lengan atau tungkai, ataupun sebagai akibat dari kerusakan otot yang berat.

  • Sindrom Kompartemen Kronis (Eksersional)

Sindrom kompartemen jenis ini bisa terjadi akibat cedera olahraga, terutama yang melibatkan gerakan repetitif. Hal ini cukup sering terjadi pada mereka di kelompok usia bawah 40 tahun, tetapi sebetulnya dapat dialami pada usia berapa pun.

Baca juga: Kram Otot saat Olahraga, Awas Gejala Sindrom Kompartemen

Seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami sindrom kompartemen tipe ini jika ia sering melakukan aktivitas, seperti berenang, bermain tenis, ataupun berlari. Aktivitas yang intens dan kerap berulang juga dapat meningkatkan risiko. Kaitan antara olahraga dan sindrom kompartemen kronik belum dipahami secara pasti.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Compartment Syndrome. 
Web MD. Diakses pada 2020. . Compartment Syndrome.
NHS Choices UK. Diakses pada 2020. Compartment Syndrome.
Healthline. Diakses pada 2020. Compartment Syndrome.