Mengidap Sindrom Kompartemen, Bolehkah Berolahraga?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Mengidap Sindrom Kompartemen, Bolehkah Berolahraga?

Halodoc, Jakarta – Menyebabkan cedera pada kompartemen otot yang meliputi jaringan otot, pembuluh darah, dan saraf, sindrom kompartemen adalah kondisi yang terjadi akibat meningkatnya tekanan dalam kompartemen otot. Kondisi ini dapat terjadi pada bagian tangan, lengan, bokong, tungkai, dan kaki.

Ketika mengalami sindrom kompartemen, pengidapnya biasanya akan disarankan untuk mengurangi frekuensi atau mengganti jenis olahraga, dan istirahat yang cukup. Selain itu, kondisi ini juga perlu segera ditangani, guna mencegah risiko iskemia dan nekrosis atau kematian jaringan.

Baca Juga: Inilah yang Terjadi pada Tubuh Saat Berhenti Olahraga

Secara umum, terdapat 2 jenis sindrom kompartemen yang dapat terjadi, yaitu:

  • Sindrom kompartemen akut. Jenis ini terjadi secara mendadak, terutama setelah mengalami cedera atau patah tulang. 
  • Sindrom kompartemen kronis (exertional). Jenis ini terjadi karena olahraga yang melibatkan gerakan berulang, seperti bersepeda atau berlari. Biasanya dapat mereda dalam beberapa saat setelah olahraga dihentikan.

Gejala yang Dirasakan Pengidap Sindrom Kompartemen

Pengidap sindrom kompartemen dapat mengalami gejala yang bervariasi, tergantung pada tingkat keparahan kondisi yang dialami. Namun, gejala umum yang dapat dirasakan adalah:

  • Nyeri hebat, khususnya saat otot digerakkan.
  • Rasa penuh pada otot dan nyeri bila ditekan.
  • Otot bengkak.
  • Kesemutan atau rasa seperti terbakar.
  • Kram otot saat berolahraga.
  • Warna kulit di sekitarnya terlihat pucat dan terasa dingin.
  • Otot terasa lemas dan mati rasa.

Segera temui dokter jika mengalami gejala sindrom kompartemen, terutama setelah terjadi cedera berat. Jika gejala dialami tanpa adanya cedera, kamu juga perlu memeriksakan diri. Agar lebih mudah, download dan gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter lewat chat, atau buat janji dengan dokter di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Baca Juga: Lakukan 3 Tips Olahraga Ini agar Tidak Cedera

Hal-Hal yang Dapat Menyebabkan Sindrom Kompartemen

Sindrom kompartemen umumnya merupakan komplikasi akibat cedera tertentu, baik yang berkaitan dengan otot maupun tulang. Beberapa kondisi yang dapat memicu terjadinya sindrom kompartemen adalah:

  • Patah tulang.
  • Tuka tembak. 
  • Luka tusuk. 
  • Luka bakar. 
  • Gigitan ular. 
  • Perdarahan. 
  • Komplikasi operasi pembuluh darah. 
  • Perban yang dibebat terlalu ketat.
  • Olahraga berlebihan.

Lebih lanjut, mengapa cedera dapat memicu terjadinya sindrom kompartemen? Hal ini karena jaringan di dalam kompartemen dilindungi oleh membran bernama fascia, yang tidak dapat mengembang. Itulah sebabnya, ketika terjadi cedera dan pembengkakan, tekanan di dalam kompartemen akan meningkat.

Kemudian, aliran darah dan pasokan oksigen akan menurun dan mengakibatkan kerusakan otot. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, pembengkakan akan memburuk dan merusak saraf yang menjadi bagian dari kompartemen. Akibatnya, otot juga akan rusak dan mengalami kematian jaringan secara permanen. 

Baca Juga: Dosis Olahraga yang Dianjurkan agar Tetap Sehat

Bagaimana Pengobatan untuk Sindrom Kompartemen?

Pada kebanyakan kasus, operasi sering menjadi pilihan utama bagi pengidap sindrom kompartemen akut, untuk menghindari risiko komplikasi. Prosedur operasi yang akan dilakukan adalah fasciotomy, yaitu tindakan membuka lapisan pelindung kompartemen otot. Prosedur ini dilakukan untuk mengurangi tekanan dan mengangkat sel otot yang telah mati.

Kemudian, luka bekas operasi biasanya akan ditutup selama beberapa hari agar tidak menimbulkan sindrom kompartemen kembali. Salah satu teknik penutupan luka yang sering digunakan selain jahitan adalah skin grafting. Metode ini dilakukan dengan mengambil kulit sehat dari bagian tubuh yang lain dan menggunakannya untuk menutup luka. 

Pada sindrom kompartemen akut, operasi sebisa mungkin perlu dilakukan segera, dengan tetap mengawasi kondisi pengidap. Sementara itu, pada pengidap sindrom kompartemen kronis, dokter biasanya akan menyarankan untuk mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid dan melakukan fisioterapi, untuk meregangkan otot.

Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Compartment Syndrome.
Healthline. Diakses pada 2019. Compartment Syndrome.
WebMD. Diakses pada 2019. Compartment Syndrome.