• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Anhedonia, Kondisi yang Sebabkan Sulit Merasa Bahagia
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kenali Anhedonia, Kondisi yang Sebabkan Sulit Merasa Bahagia

Kenali Anhedonia, Kondisi yang Sebabkan Sulit Merasa Bahagia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 18 Januari 2021
Kenali Anhedonia, Kondisi yang Sebabkan Sulit Merasa BahagiaKenali Anhedonia, Kondisi yang Sebabkan Sulit Merasa Bahagia

Halodoc, Jakarta - Apa kamu pernah melihat seseorang yang sulit merasa bahagia, atau tak ada lagi hal yang terasa menarik dalam hidupnya? Atau barangkali dirimu pernah berada di kondisi ini? Di dunia medis, kondisi ini disebut dengan anhedonia.

Anhedonia membuat hidup pengidapnya terasa hampa, tidak nyaman, dan membosankan. Anhedonia adalah kondisi di mana pengidapnya kehilangan minat terhadap kegiatan yang dahulu menyenangkan atau disukainya. Masalah psikis ini juga membuat penurunan kemampuan untuk merasakan kesenangan. Pertanyaannya, apa yang menjadi penyebab anhedonia?

Baca juga: Tidak Bahagia dengan Pekerjaan, Coba Atasi dengan Cara Ini

Adanya Gangguan Pada Otak

Hal yang perlu ditegaskan, anhedonia berbeda dengan depresi. Namun, anhedonia adalah salah satu dari ciri utama depresi. Di samping itu, ada pula gangguan kejiwaan lain yang bisa ditandai dengan anhedonia, contohnya skizofrenia. Meski begitu, anhedonia juga bisa saja terjadi pada mereka yang tidak memiliki gangguan kesehatan mental.

Anhedonia terdiri dari dua jenis, yaitu anhedonia sosial dan fisik. Anhedonia sosial membuat pengidapnya tak tertarik pada kontak sosial, atau terjadinya penurunan minat atau kesenangan terhadap situasi sosial. Sementara itu, anhedonia fisik ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan terhadap sentuhan kasih sayang, seks, atau kehilangan minat terhadap makanan (bahkan yang dulu disukainya).

Kembali ke pertanyaan di atas, apa sih penyebab anhedonia? Penyebab anhedonia terkait erat dengan depresi, tetapi seseorang tidak perlu mengidap depresi untuk mengalami anhedonia. Anhedonia juga bisa disebabkan oleh penyakit mental seperti skizofrenia atau gangguan bipolar. Pada beberapa kasus, anhedonia juga muncul pada mereka yang memiliki riwayat penyakit Parkinson, diabetes, penyakit arteri koroner, dan masalah penyalahgunaan zat. 

Sebenarnya apa yang terjadi pada otak pengidap anhedonia? Ingat, respon emosional di dalam otak sangat kompleks. Sirkuit otak yang berhubungan dengan rasa senang atau “reward” samat pada, berbelit-belit, dan sangat sibuk. Anhedonia bukan sekadar apresiasi terhadap rasa senang atau “cokelat” yang berkurang. Di sini mekanisme “reward” yang mendasarinya rusak. 

Di samping itu, ada pula pakar yang berpendapat bahwa anhedonia mungkin terkait dengan perubahan aktivitas otak. Pengidapnya mungkin memiliki masalah dengan cara otak memproduksi atau merespons dopamin, zat kimia suasana hati yang "membuat perasaan senang". 

Beberapa penelitian awal (pada tikus) menunjukkan bahwa neuron dopamin di area otak (korteks prefrontal) mungkin terlalu aktif pada orang dengan anhedonia. Nah, entah bagaimana kondisi mengganggu jalur yang mengontrol cara kita mencari “reward” dan merasakannya.

Baca juga: 5 Penyebab Depresi yang Sering Diabaikan

Selain hal-hal di atas, ada pula beberapa kondisi yang diduga dapat memicu terjadi anhedonia, yaitu:

  • Mengalami peristiwa traumatis atau stres baru-baru ini.
  • Riwayat pelecehan atau pengabaian.
  • Penyakit yang memengaruhi kualitas hidup.
  • Penyakit berat.
  • Gangguan makan.

Menarik Diri Hingga Emosi Palsu

Berbicara tentang kondisi anhedonia sama halnya membicarakan banyak keluhan. Anhedonia terbagi menjadi dua jenis, yaitu fisik dan sosial. Ketika seseorang mengalami anhedonia, maka akan mengalami beberapa hal berikut ini: 

  • Menarik diri dari kehidupan sosial.
  • Hubungan dengan orang lain berkurang, atau menarik diri dari hubungan sebelumnya. 
  • Kemampuan emosional yang berkurang, termasuk kurang ekspresi verbal atau nonverbal.
  • Masalah fisik yang terus-menerus, seperti sering sakit.
  • Kesulitan menyesuaikan diri dengan situasi sosial.
  • Penurunan libido atau kurangnya minat pada keintiman fisik.

Kecenderungan untuk menunjukkan emosi palsu, seperti berpura-pura bahagia di sebuah pesta.

Baca juga: Jangan Abaikan Stres, Ini Cara Mengatasinya

Nah, bagi kamu atau terdapat anggota keluarga yang mengalami kondisi di atas, cobalah berdiskusi dengan dokter atau psikolog melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Selain itu, kamu juga bisa membeli obat atau vitamin untuk mengatasi keluhan kesehatan di tengah pandemi, menggunakan aplikasi Halodoc sehingga tidak perlu repot keluar rumah. Sangat praktis, bukan? 



Referensi:
Web MD. Diakses pada 2021. What Is Anhedonia?
Healthline. Diakses pada 2021. What Is Anhedonia?
Medical News Today. Diakses pada 2021. Understanding anhedonia: What happens in the brain?