• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kerja Tanpa Istirahat Alias Hustle Culture, Apa Dampaknya bagi Tubuh?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kerja Tanpa Istirahat Alias Hustle Culture, Apa Dampaknya bagi Tubuh?

Kerja Tanpa Istirahat Alias Hustle Culture, Apa Dampaknya bagi Tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 07 September 2021
Kerja Tanpa Istirahat Alias Hustle Culture, Apa Dampaknya bagi Tubuh?

“Produktivitas adalah hal baik yang perlu dijaga. Namun, bila itu dijadikan suatu standar sosial, hingga mengesampingkan waktu istirahat dan kehidupan pribadi, tentunya tak baik. Budaya seperti ini disebut dengan istilah hustle culture. Dampaknya bagi kesehatan fisik dan mental tidaklah main-main.”

Halodoc, Jakarta – Bekerja keras adalah hal yang baik, tetapi bila tak kenal istirahat tentunya bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Budaya untuk bekerja secara maksimal tanpa istirahat ini disebut dengan istilah hustle culture. Bagai sebuah standar sosial, hustle culture dapat memberikan tekanan yang tidak perlu pada seseorang. 

Satu dampak yang sering terjadi adalah rasa lelah karena status sosial dikaitkan dengan jumlah pekerjaan yang dilakukan, dan mengabaikan kehidupan pribadi di luar pekerjaan. Lambat laun, hal ini dapat memberikan dampak buruk, tak hanya pada fisik, melainkan juga psikologis.

Baca juga: Selain untuk Istirahat, Ini Manfaat Sehat Mengambil Cuti

Dampak Buruk Hustle Culture pada Fisik

Untuk mengetahui dampak hustle culture pada kesehatan fisik, penelitian pada 2018 yang dipublikasikan di Current Cardiology Reports, mengambil sampel subjek dari Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Cina. Hasilnya, mereka yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu ditemukan memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular, seperti infark miokard (serangan jantung) dan penyakit jantung koroner.

Jam kerja yang panjang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan detak jantung karena aktivasi psikologis yang berlebihan dan stres. Ini juga berkontribusi terhadap resistensi insulin, aritmia, hiperkoagulasi, dan iskemia di antara individu yang sudah memiliki beban aterosklerotik tinggi dan metabolisme glukosa yang terganggu (diabetes). 

Risiko fibrilasi atrium juga meningkat pada orang yang bekerja 55 jam atau lebih per minggu. Fibrilasi atrium adalah irama jantung yang tidak teratur, yang menyebabkan darah terkumpul di ruang atrium kiri dan dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, yang kemudian dapat menyebabkan stroke.

Baca juga: 5 Cara Mudah Meningkatkan Produktivitas saat Bekerja

Selain itu, mereka yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu mengalami peningkatan cedera akibat kerja. Penduduk Jepang yang bekerja 80 hingga 99 jam per minggu memiliki risiko 2,83 persen lebih besar terkena depresi, yang mengarah pada perilaku tidak sehat seperti merokok, mengonsumsi alkohol, dan tidak aktif secara fisik.

Bagaimana Dampaknya pada Kesehatan Mental?

Bekerja keras tanpa istirahat dalam hustle culture meningkatkan risiko gangguan pada kesehatan mental. Beberapa masalah yang sering dialami adalah gejala depresi, kecemasan, hingga pikiran untuk bunuh diri. 

Dengan memaksa diri dengan pola pikir “go hard or go home”, hustle culture menempatkan tubuh dalam kondisi fight or flight. Stres terus-menerus ini melepaskan hormon stres (kortisol) dalam jumlah yang lebih tinggi dan untuk periode yang lebih lama. 

Untuk menormalkan kadar kortisol yang meningkat ini, tubuh harus memasuki keadaan istirahat. Namun, hustle culture tidak memberikan waktu untuk istirahat, sehingga kelelahan mental tidak bisa dihindari. Stres terus-menerus dapat membahayakan kesehatan mental dan fisik. 

Baca juga: Jam Kerja Tetap Efektif saat WFH, Ini Triknya

Nah, setelah memahami dampak buruk hustle culture bagi kesehatan fisik dan mental, kamu sebaiknya menghindari budaya ini, ya. Produktivitas tentu penting, tetapi ada saatnya untuk memprioritaskan kesejahteraan fisik dan mental. 

Cobalah untuk meluangkan waktu untuk diri sendiri hari ini, dan berusahalah untuk menjalani kehidupan yang seimbang setiap harinya. Luangkan juga waktu untuk merawat diri, dengan cara makan makanan bergizi, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup. Bila butuh tambahan vitamin, kamu bisa beli vitamin yang kamu butuhkan melalui aplikasi Halodoc.

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi:
Current Cardiology Reports. Diakses pada 2021. Long Working Hours and Risk of Cardiovascular Disease.
Race to A Cure. Diakses pada 2021. Psychological and Physiological Effects of Hustle Culture.
UW Medicine. Diakses pada 2021. What is Hustle Culture and How Does it Impact Your Health? 
Headversity. Diakses pada 2021. The Toxicity of Hustle Culture: The Grind Must Stop.