• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui 4 Risiko yang Terjadi setelah Hamil Anggur

Ketahui 4 Risiko yang Terjadi setelah Hamil Anggur

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Ketahui 4 Risiko yang Terjadi setelah Hamil Anggur

Halodoc, Jakarta - Setiap ibu hamil pasti menginginkan perkembangan janin yang sehat dan normal. Pada beberapa calon ibu, risiko hamil anggur bisa saja dialami, di mana terjadi kegagalan dalam pembuahan sel telur oleh sperma. Hamil anggur memicu pertumbuhan sel-sel abnormal atau kantung berisi air di dalam rahim. Jika mengalaminya, apa saja risiko setelah hamil anggur yang mungkin dialami? Berikut pembahasannya!

Baca juga: Apa Saja Faktor yang Bisa Sebabkan Hamil Anggur?

Risiko Setelah Hamil Anggur yang Mungkin Dialami

Seperti pada ulasan sebelumnya, hamil anggur terjadi akibat sel telur yang dibuahi tumbuh secara tidak normal. Penyebabnya sendiri adalah gangguan kromosom atau malnutrisi pada ibu hamil. Hamil anggur memiliki dua jenis, yaitu:

  1. Hamil anggur utuh, yaitu tidak ada embrio atau jaringan plasenta yang terjadi saat kromosom sel telur ibu hilang atau tidak berfungsi.
  2. Hamil anggur parsial, yaitu embrio yang tumbuh tidak bisa bertahan dengan baik akibat dua sel sperma membuahi satu sel telur.

Hamil anggur merupakan kondisi yang jarang terjadi, tetapi mungkin saja dialami. Meski dapat diatasi, ada beberapa risiko setelah hamil anggur yang bisa saja terjadi pada wanita. Berikut ini beberapa di antaranya:

Baca juga: Ketahui Komplikasi Kesehatan Akibat Hamil Anggur

1. Mengalami Hamil Anggur Berulang

Risiko setelah hamil anggur yang pertama adalah, mengalami kejadian berulang. Dari 100 wanita, risiko hamil anggur berulang ada sebanyak 1 persen. Jika kamu pernah mengalaminya, silahkan lakukan pemeriksaan rutin sejak awal kehamilan agar kondisi ini bisa diatasi segera. Pemeriksaan setidaknya dilakukan pada 13 minggu pertama kehamilan guna memastikan proses kehamilan, serta janin berkembang dengan baik.

2. Harus Menunda Kehamilan

Wanita yang pernah mengalami hamil anggur harus terpaksa menunda kehamilan, setidaknya setelah prosedur pengobatan selesai. Perlu diketahui jika penyakit ini terkait dengan janin yang berkembang di dalam rahim. Jadi, pengobatan perlu dilakukan hingga selesai, agar kamu dapat memiliki kehamilan normal di kemudian hari. Jika tidak, risiko lahir mati, cacat lahir, bayi prematur, atau komplikasi lainnya bisa saja terjadi.

3. Jangan Menggunakan KB Spiral

Langkah yang satu ini perlu dilakukan karena menggunakan KB spiral dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan, infeksi, atau menusuk dinding rahim setelah hamil anggur. Oleh karena itu, kamu perlu membicarakan dengan dokter mengenai berapa lama kontrol dan perawatan berlangsung. Jika ingin tetap memakai alat kontrasepsi, tanyakan pilihan terbaik.

4. Berisiko Mengalami Kanker

Risiko setelah hamil anggur yang terakhir adalah mengidap kanker. Risiko yang satu ini sangat jarang dialami. Dari hasil penelitian yang dilakukan menyebutkan bahwa, kehamilan anggur memang tidak berkaitan dengan peningkatan risiko kanker. Meski demikian, beberapa obat kemoterapi yang digunakan untuk pengobatan hamil anggur dapat meningkatkan risiko jenis kanker tertentu, termasuk leukemia.

Mengenai hal yang satu ini, kamu tidak usah khawatir, ya. Pasalnya, risiko yang satu ini sangat jarang dialami, dan hanya umum terjadi pada pengobatan dengan risiko tinggi.

Baca juga: Hamil Anggur pada Wanita, Berbahayakah?

Itulah penjelasan mengenai risiko setelah hamil anggur. Jika kamu ada pertanyaan terkait dengan penjelasan di atas, silahkan diskusikan langsung dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya.

Referensi:
American Cancer Society. Diakses pada 2021. What Are the Risk Factors for Gestational Trophoblastic Disease?
Medscape. Diakses pada 2021. What are the complications of hydatidiform mole?
Mayoclinic. Diakses pada 2021. Molar pregnancy.