
Ketahui Fakta Medis di Balik Tato di Tangan
Mengetahui fakta medis tato penting dilakukan sebelum mulai menggambar tubuh dengan tinta.

DAFTAR ISI
- Beragam Fakta Medis di Balik Tato
- Apakah Penderita Penyakit Autoimun Boleh Membuat Tato?
- Mengapa Tato Berisiko Tinggi bagi Penderita Autoimun?
- Kondisi yang Memungkinkan Penderita Autoimun untuk Ditato
- Kapan Harus Menunda atau Menghindari Pembuatan Tato?
- Tips Keamanan Medis Sebelum Melakukan Tato
Bagi sebagian orang, tato di tubuh bisa jadi memiliki makna mendalam serta kenangan tersendiri. Sementara sebagian lainnya mungkin membuat tato untuk alasan estetika atau menunjang penampilan belaka.
Apapun alasannya, sangat penting untuk terlebih dahulu mengetahui apa yang dimaksud dengan tato serta dampak medis yang bisa terjadi. Pembuatan tato dilakukan dengan menyuntikkan pigmen atau tinta warna ke lapisan kulit.
Proses penyuntikan dilakukan menggunakan jarum suntik. Inilah yang menjadi alasan mengapa pembuatan tato bisa memicu efek samping medis, sebab masuknya benda asing ke lapisan kulit bisa memicu beragam reaksi, termasuk alergi, infeksi, hingga risiko kanker kulit. Ketahui lebih lanjut fakta medis tato di artikel berikut!
Beragam Fakta Medis di Balik Tato
Hampir semua bagian tubuh bisa ditato, tetapi banyak orang yang memutuskan untuk membuat tato di tangan. Ada yang membuat tato di punggung tangan atau di pergelangan tangan.
Sebelum memutuskan untuk melakukan hal tersebut, pastikan untuk mempertimbangkannya dengan matang dan mengetahui beragam fakta medis di balik tato pada permukaan kulit. Salah satu dampak dari tato adalah rasa nyeri yang muncul, dan biasanya akan terasa lebih sakit jika tato dilakukan pada area tangan.
Hal ini terjadi karena kulit pada area tangan lebih tipis serta memiliki banyak ujung saraf. Selain itu, area tangan rentan terpapar kotoran, air, dan sabun. Ini bisa menjadi masalah tersendiri pada tato. Faktanya, ada beberapa kondisi medis yang bisa muncul akibat tato di kulit, antara lain:
1. Infeksi Kulit
Salah satu risiko paling sering muncul adalah infeksi pada kulit, terutama kulit tangan. Kondisi ini bisa muncul akibat penggunaan alat tato, terutama jarum, yang tidak steril. Selain itu, risiko infeksi kulit juga meningkat akibat perawatan yang tidak dilakukan dengan baik.
Pahami lebih dalam soal Infeksi Kulit – Gejala, Penyebab, dan Pengobatan agar kamu waspada terhadap kondisi ini.
2. Reaksi Alergi
Fakta medis tato selanjutnya adalah bisa memicu reaksi alergi pada kulit. Kondisi ini umumnya ditandai dengan muncul ruam kemerahan dan gatal. Reaksi alergi disebut bisa muncul akibat penggunaan tinta tato, utamanya yang berwarna terang seperti kuning, hijau, dan biru.
3. Jaringan Parut
Tato juga bisa menimbulkan jaringan parut di permukaan kulit. Jaringan parut yang muncul berupa guratan keloid yang menonjol atau benjolan. Biasanya ditemukan pada area kulit yang ditato. Kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan kulit juga bisa mengurangi kesan keindahan atau estetika dari gambar tato.
4. Risiko Kanker Kulit
Risiko kesehatan lain yang juga bisa muncul akibat tato adalah kanker pada kulit. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya. Meski begitu, tidak bisa dimungkiri bahwa penggunaan tinta dan proses pembuatan tato sangat rentan memicu masalah pada kesehatan kulit.
5. Gangguan Kesehatan Lain
Selain masalah pada kesehatan kulit, membuat tato juga bisa meningkatkan risiko penyakit, seperti hepatitis, HIV, hingga tetanus. Kondisi ini bisa disebabkan oleh penggunaan jarum suntik yang tidak steril, efek samping tinta tato, serta tidak menjaga kebersihan pada saat pembuatan tato.
Apakah Penderita Penyakit Autoimun Boleh Membuat Tato?
Secara umum, penderita penyakit autoimun diperbolehkan membuat tato, namun prosedur ini tidak selalu aman dan membutuhkan kehati-hatian ekstra. Keputusan ini sangat bergantung pada stabilitas kondisi kesehatan pasien saat itu.
Dalam banyak kasus, praktisi medis menyarankan untuk menunda atau bahkan menghindari prosedur ini jika penyakit sedang aktif. Sangat penting untuk menjaga integritas kulit bagi individu dengan sistem imun yang rentan.
Luka akibat jarum tato dapat menjadi pintu masuk kuman yang sulit dikendalikan oleh tubuh penderita autoimun. Konsultasi dokter spesialis menjadi langkah wajib yang tidak boleh dilewatkan sebelum mendatangi studio tato.
Pahami lebih lanjut Apa itu Penyakit Autoimun? Penyebab & Pengobatannya berikut ini.
Mengapa Tato Berisiko Tinggi bagi Penderita Autoimun?
Penderita autoimun sering kali mengonsumsi obat imunosupresan yang menekan sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini membuat tubuh lebih sulit melawan bakteri yang masuk saat proses pentatoan berlangsung.
Risiko infeksi kulit yang parah menjadi ancaman nyata bagi individu dengan sistem imun yang lemah. Selain itu, tato dapat memicu fenomena yang disebut sebagai “flare” atau kekambuhan gejala.
Sistem imun yang semula menyerang jaringan tubuh sendiri dapat bereaksi berlebihan terhadap benda asing berupa tinta tato. Hal ini dapat memperburuk kondisi penyakit yang sudah ada, seperti Lupus atau Psoriasis, terutama jika kulit sedang sensitif.
Kondisi yang Memungkinkan Penderita Autoimun untuk Ditato
Tato dianggap relatif lebih aman bagi penderita autoimun jika penyakit sedang dalam masa remisi atau tidak aktif. Kondisi remisi menunjukkan bahwa peradangan di dalam tubuh terkontrol dengan baik.
Selain itu, penderita sebaiknya tidak sedang mengonsumsi obat penekan imun dosis tinggi yang dapat menghambat penyembuhan luka. Area kulit yang akan ditato juga harus dipastikan bebas dari lesi, kemerahan, atau tanda-tanda peradangan lainnya.
Memilih artis tato yang memahami protokol kesehatan dan sterilitas tingkat tinggi sangat disarankan. Pastikan untuk selalu melakukan tes alergi kecil pada kulit sebelum melanjutkan ke desain tato yang lebih besar.
Punya pertanyaan terkait pembuatan tato? Ini Rekomendasi Dokter Spesialis Kulit di Halodoc yang bisa kamu hubungi.
Kapan Harus Menunda atau Menghindari Pembuatan Tato?
Penderita autoimun sangat disarankan untuk menunda pembuatan tato apabila sedang mengalami gejala aktif atau kekambuhan. Kulit yang sedang meradang atau memiliki luka terbuka sangat rentan terhadap komplikasi permanen.
Penggunaan obat-obatan steroid jangka panjang juga meningkatkan risiko kulit menjadi tipis dan sulit pulih. Riwayat alergi berat terhadap logam atau bahan kimia tertentu menjadi alasan kuat untuk menghindari tato permanen.
Pasalnya, zat kimia dalam tinta dapat menetap di kelenjar getah bening dan memengaruhi respons imun dalam jangka panjang.
Tips Keamanan Medis Sebelum Melakukan Tato
Bagi yang tetap memutuskan untuk membuat tato, pilihlah studio yang memiliki sertifikasi higienis dan menggunakan alat sekali pakai. Gunakan tinta berkualitas tinggi yang minim kandungan logam berat untuk mengurangi risiko reaksi inflamasi.
Memulai dengan desain ukuran kecil dapat membantu memantau bagaimana tubuh merespons zat asing tersebut. Pantau reaksi kulit secara ketat selama masa penyembuhan yang biasanya memakan waktu 2 hingga 4 minggu.
Jika muncul tanda infeksi seperti nanah, demam, atau nyeri hebat yang tidak kunjung hilang, segera hubungi fasilitas kesehatan. Perawatan pasca-tato yang tepat adalah kunci utama mencegah komplikasi pada penderita autoimun.
Itulah penjelasan seputar fakta medis pembuatan tato yang perlu kamu ketahui. Jika kamu punya pertanyaan lain terkait hal ini, jangan ragu menghubungi dokter spesialis kulit di Halodoc.
Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:



