Ad Placeholder Image

Ketahui Perbedaan Benching dan Ghosting dalam Hubungan

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 23 Juni 2026

Benching dan ghosting jadi dua istilah kencan yang sering digunakan anak muda belakangan ini.

Ketahui Perbedaan Benching dan Ghosting dalam HubunganKetahui Perbedaan Benching dan Ghosting dalam Hubungan

DAFTAR ISI


Di era kencan digital dan komunikasi instan saat ini, fenomena menghilang tiba-tiba tanpa kabar sudah menjadi hal yang sangat umum terjadi. Secara sederhana, arti ghosting adalah tindakan memutuskan semua bentuk komunikasi dengan seseorang secara sepihak dan tiba-tiba, tanpa memberikan peringatan, alasan, atau penjelasan apa pun. Perilaku ini seolah-olah membuat pelakunya berubah menjadi “hantu” yang lenyap tak berbekas.

Meski istilah ini paling sering dikaitkan dengan hubungan asmara atau fase pendekatan (PDKT), ghosting sebenarnya bisa terjadi dalam berbagai dinamika hubungan. Mulai dari persahabatan, hubungan keluarga, hingga konteks profesional seperti di tempat kerja. Dalam psikologi, tindakan ini dianggap sebagai bentuk penolakan sosial yang sangat pasif-agresif.

Mengapa fenomena ini penting untuk dibahas dari kacamata kesehatan medis dan psikologis? Karena dampak yang ditimbulkan dari ghosting bukanlah sekadar patah hati biasa. Ketidakpastian yang ditinggalkan oleh pelaku memicu apa yang disebut oleh para ahli psikologi sebagai ambiguous loss atau kehilangan yang ambigu. Kondisi ini membuat otak kesulitan memproses rasa kehilangan karena tidak ada penyelesaian atau penutup (closure) yang jelas.

Akibatnya, korban ghosting sering kali mengalami kebingungan mendalam, penurunan harga diri yang drastis, kecemasan (anxiety), stres berkepanjangan, hingga depresi. Karena penolakan sosial ini memicu respons rasa sakit di otak yang sama dengan rasa sakit fisik, sangat penting bagi kamu untuk memahami dinamika psikologis di baliknya agar bisa merawat kesehatan mentalmu dengan baik.

Nah, mau tahu apa saja alasan psikologis di balik perilaku ini, dampaknya bagi kesehatan, dan bagaimana cara memulihkan diri? Berikut ulasannya secara mendalam!

Alasan Seseorang Melakukan Ghosting

Banyak korban ghosting yang menyalahkan diri sendiri dan terus bertanya-tanya, “Apa salahku sehingga dia pergi begitu saja?” Padahal, dalam pandangan psikologi klinis, perilaku ghosting lebih banyak mencerminkan kondisi emosional, karakter, dan ketidakmampuan pelaku dalam mengelola konflik, dibandingkan dengan kekurangan dari pihak korban. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa seseorang memilih untuk melakukan ghosting:

1. Penghindaran Konflik (Fear of Confrontation)

Alasan paling umum seseorang memilih untuk menghilang adalah ketakutan yang ekstrem terhadap konfrontasi atau percakapan yang tidak nyaman. Mengatakan secara langsung bahwa mereka sudah tidak tertarik, merasa tidak cocok, atau ingin mengakhiri hubungan membutuhkan keberanian emosional. Bagi individu yang tidak memiliki kecerdasan emosional yang cukup, menghilang secara diam-diam terasa seperti jalan keluar yang paling mudah, cepat, dan aman dari stres interpersonal.

2. Gaya Kelekatan Menghindar (Avoidant Attachment Style)

Teori kelekatan (attachment theory) sangat relevan dalam kasus ghosting. Orang dengan gaya kelekatan menghindar (avoidant attachment) cenderung merasa kewalahan atau terancam ketika suatu hubungan mulai menjadi terlalu dekat, intim, atau menuntut komitmen emosional. Sebagai mekanisme pertahanan diri untuk melindungi otonomi mereka, mereka akan menarik diri secara tiba-tiba dan memutus komunikasi ketika kedekatan tersebut memicu kecemasan di alam bawah sadar mereka.

3. Kemudahan Teknologi dan Dating Apps

Pesatnya penggunaan aplikasi kencan dan media sosial menciptakan ilusi bahwa pilihan pasangan itu tidak terbatas (paradox of choice). Teknologi membuat interaksi antarmanusia terasa lebih transaksional. Ketika seseorang hanya dikenal melalui layar ponsel dan tidak memiliki ikatan sosial yang beririsan (seperti teman yang sama atau lingkungan kerja yang sama), empati cenderung menurun. Hal ini membuat mereka lebih mudah untuk melakukan “unmatch”, memblokir nomor, atau mengabaikan pesan tanpa merasa bersalah akan konsekuensi sosialnya.

4. Kelelahan Emosional (Burnout)

Dalam beberapa kasus, pelaku ghosting mungkin sedang menghadapi masalah kesehatan mental mereka sendiri, seperti depresi, stres berat, atau burnout. Kondisi ini membuat mereka kehabisan energi mental (social battery) untuk berinteraksi dengan siapa pun. Mereka tidak bermaksud menyakiti, namun mereka benar-benar tidak memiliki kapasitas emosional untuk merangkai kata-kata dan memberikan penjelasan, sehingga mereka memilih untuk mengisolasi diri secara total.

Dampak Ghosting terhadap Kesehatan Mental

Di-ghosting sering kali terasa lebih menyakitkan daripada ditolak secara terang-terangan. Ketika seseorang memutuskan hubungan dengan jelas, kamu bisa mulai bersedih dan memproses emosimu. Namun, ghosting merampas kesempatan tersebut. Berikut adalah rentetan dampak psikologis dan fisik yang bisa terjadi:

1. Kehilangan yang Ambigu (Ambiguous Loss)

Ini adalah istilah psikologis untuk kehilangan yang tidak memiliki kejelasan. Otak manusia pada dasarnya dirancang untuk mencari pola dan jawaban. Ketika seseorang tiba-tiba menghilang, otak akan terus bekerja tanpa henti untuk mencari tahu “mengapa”. Siklus overthinking ini menguras energi kognitif, membuat kamu sulit berkonsentrasi, dan menjebakmu dalam siklus harapan dan keputusasaan yang tidak berujung.

2. Disonansi Kognitif

Korban sering kali mengalami disonansi kognitif—sebuah konflik batin karena adanya ketidaksesuaian antara apa yang mereka percayai sebelumnya dengan realitas yang terjadi. Misalnya, “Dia bilang dia sangat menyukaiku dan peduli padaku, tapi mengapa dia memblokir semua kontakku?” Kebingungan ini memicu stres psikologis tingkat tinggi yang membuat emosi menjadi sangat tidak stabil.

3. Penurunan Self-Esteem (Harga Diri)

Karena tidak ada alasan yang diberikan oleh pelaku, korban cenderung mengisi kekosongan informasi tersebut dengan menyalahkan diri sendiri. Muncul pemikiran irasional seperti, “Apakah aku kurang menarik?”, “Apakah aku mengatakan hal yang salah?”, atau “Apakah aku tidak berharga untuk sekadar diberikan ucapan selamat tinggal?”. Jika dibiarkan, hal ini bisa menghancurkan rasa percaya diri dan memicu rasa insecurity yang parah dalam hubungan di masa depan.

4. Reaksi Psikosomatis dan Fisik

Trauma emosional dari ghosting memicu tubuh untuk melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin secara terus-menerus. Akibatnya, korban bisa mengalami gejala fisik seperti gangguan tidur (insomnia), kehilangan nafsu makan, sakit kepala tegang, mual, hingga jantung berdebar-debar. Pada fase ini, stres yang berlarut-larut juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga memenuhi asupan gizi harian melalui makanan utuh maupun suplemen atau vitamin bisa menjadi langkah kecil untuk menjaga daya tahan tubuh secara fisik selama masa pemulihan emosional.

Tanda-Tanda Awal Kamu Akan Di-Ghosting

Meski terkesan tiba-tiba, sering kali ada red flags atau tanda peringatan sebelum pelaku benar-benar menghilang secara permanen:

  1. Pola Komunikasi Menurun: Balasan pesan yang tadinya cepat dan antusias, berubah menjadi berjam-jam atau berhari-hari, dengan alasan sibuk yang tidak spesifik.
  2. Jawaban Singkat: Balasan pesan mulai terasa sangat pendek, dingin, dan tidak ada upaya untuk melanjutkan percakapan.
  3. Membatalkan Rencana Terus-Menerus: Mereka sering membatalkan janji bertemu di menit-menit terakhir tanpa inisiatif untuk menjadwalkan ulang.
  4. Menghindari Topik Serius: Mereka menolak membicarakan kejelasan status, komitmen, atau masalah yang sedang terjadi dalam hubungan.
  5. Tarik-Ulur Emosional: Kadang mereka bersikap sangat manis, namun keesokan harinya bersikap sangat acuh (hot and cold behavior).

Cara Sehat Menghadapi dan Bangkit dari Ghosting

Menjadi korban ghosting memang menyakitkan, namun membiarkan diri berlarut-larut dalam kesedihan dan self-blame hanya akan merugikan dirimu sendiri. Kamu memiliki kendali penuh atas bagaimana kamu merespons situasi ini. Berikut adalah langkah-langkah psikologis untuk bangkit dan menyembuhkan luka:

1. Terapkan Penerimaan Radikal (Radical Acceptance)

Langkah pertama yang paling sulit namun krusial adalah menerima kenyataan bahwa mereka telah pergi dan tidak akan memberikan penjelasan. Jangan mengirimkan pesan berulang kali (double texting) atau memohon kejelasan. Pahami bahwa tindakan mereka menghilang adalah sebuah pesan. Diamnya mereka adalah bentuk jawaban bahwa mereka tidak memiliki kapasitas atau niat untuk melanjutkan hubungan. Terimalah realitas ini tanpa harus menyukainya.

2. Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Ingatkan dirimu berulang kali: perilaku ghosting mencerminkan kelemahan emosional si pelaku, bukan cerminan nilai (value) dirimu. Fakta bahwa mereka memilih lari dari percakapan orang dewasa menunjukkan bahwa mereka belum matang secara emosional. Kamu tidak bisa mengontrol tindakan orang lain, kamu hanya bisa mengontrol responsmu. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang menghargaimu cukup besar untuk berkomunikasi secara jujur.

3. Validasi Emosimu

Jangan menekan perasaan sedih, marah, atau kecewa yang kamu alami. Adalah hal yang sangat normal dan manusiawi untuk merasa terluka ketika ditolak dengan cara yang tidak sopan. Berikan waktu bagi dirimu untuk bersedih. Menangislah jika perlu, tuliskan perasaanmu dalam jurnal, atau bicarakan dengan sahabat terdekat yang bisa memberikan empati. Memvalidasi emosi adalah kunci untuk mencegah emosi tersebut menumpuk menjadi trauma.

4. Lakukan Boundaries dan Digital Detox

Salah satu cara menyiksa diri sendiri setelah di-ghosting adalah dengan terus-menerus memantau media sosial si pelaku (stalking). Untuk bisa sembuh, kamu harus memutus akses informasi tentang mereka. Jangan ragu untuk unfollow, mute, atau bahkan memblokir akun mereka. Kamu sedang melindungi kedamaian mentalmu. Lakukan detoks digital sementara waktu untuk menghindari pemicu stres yang bisa membuatmu kembali bersedih.

5. Fokus pada Perawatan Diri (Self-Care)

Alihkan energi yang tadinya kamu gunakan untuk memikirkan pelaku kepada dirimu sendiri. Kembalilah pada rutinitas harian yang menyehatkan fisik dan mental. Mulailah berolahraga secara teratur untuk melepaskan hormon endorfin (hormon kebahagiaan), konsumsi makanan bergizi, pastikan jam tidur tercukupi, dan lakukan hobi yang kamu senangi. Merawat tubuh fisik akan sangat membantu menstabilkan kondisi psikologis yang sedang goyah.

Studi Terkait Dampak Penolakan Sosial pada Otak

Mengapa ghosting terasa sangat menyakitkan secara fisik? Sebuah penelitian yang sangat terkenal di bidang neurosains sosial memberikan jawabannya. Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menerbitkan studi di tahun 2011 yang menjelaskan bahwa penolakan sosial dan rasa sakit fisik mengaktifkan wilayah otak yang sama.

Dalam penelitian yang dipimpin oleh Ethan Kross tersebut, para peserta yang baru saja mengalami putus cinta atau penolakan tiba-tiba dimasukkan ke dalam mesin fMRI. Ketika mereka melihat foto orang yang menolak mereka, otak mereka menunjukkan aktivasi pada korteks somatosensori sekunder dan insula posterior dorsal—dua area di otak yang memproses rasa sakit fisik akut (seperti saat ketumpahan air panas). Ini membuktikan bahwa rasa sakit akibat di-ghosting bukan sekadar “perasaan berlebihan” atau dramatisasi semata, melainkan respons biologis dan neurologis yang nyata dari tubuh yang sedang terluka.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Psychological Association (APA). Diakses pada 2026. Understanding the Psychological Impact of Ghosting.
Psychology Today. Diakses pada 2026. Why People Ghost and How to Get Over It.
Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Diakses pada 2026. Social rejection shares somatosensory representations with physical pain.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. How Ghosting Affects Your Mental Health and How to Cope.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2026. Ambiguous Loss and the Psychology of Unresolved Grief.

FAQ

1. Apa arti ghosting adalah hal yang sama dengan silent treatment?

Meski mirip, keduanya memiliki niat yang berbeda. Ghosting dilakukan dengan tujuan untuk mengakhiri hubungan dan memutus kontak secara permanen tanpa penjelasan. Sementara itu, silent treatment (mendiamkan seseorang) sering kali digunakan sebagai alat manipulasi atau hukuman emosional dalam sebuah hubungan yang masih berjalan, dengan harapan korban akan mengalah atau merasa bersalah.

2. Apakah wajar jika saya menangis berhari-hari karena di-ghosting?

Sangat wajar dan normal. Menangis adalah cara tubuh melepaskan hormon stres dan memproses rasa sakit. Di-ghosting memicu rasa kehilangan yang membingungkan dan penolakan sosial yang tajam. Berikan waktu pada dirimu untuk bersedih, namun pastikan kamu juga mulai melangkah maju secara perlahan.

3. Apakah saya harus mengirim pesan terakhir untuk meminta penjelasan penutup (closure)?

Dalam ilmu psikologi, closure atau penyelesaian yang sesungguhnya berasal dari dalam diri kamu sendiri, bukan dari orang lain. Mengirim pesan panjang atau memohon penjelasan sering kali tidak akan dijawab, atau justru dibalas dengan dingin, yang hanya akan membuat luka hatimu semakin dalam. Diamnya mereka sudah menjadi bentuk “closure” yang menunjukkan karakter asli mereka.

4. Kapan saya harus mencari bantuan profesional setelah di-ghosting?

Kamu disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater jika rasa sedih akibat ghosting mulai mengganggu fungsi harianmu selama lebih dari dua minggu. Tanda-tandanya meliputi: tidak bisa tidur, tidak mau makan sama sekali, kinerja di sekolah atau pekerjaan menurun drastis, menarik diri secara total dari lingkungan sosial, atau muncul pikiran-pikiran untuk menyakiti diri sendiri.