Ad Placeholder Image

Kode ICD 10 TB Abdomen Lengkap untuk Rekam Medis Pasien

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 19 Agustus 2026

Kode ICD 10 TB abdomen penting diketahui untuk pendataan medis dan diagnosis akurat pasien.

Kode ICD 10 TB Abdomen Lengkap untuk Rekam Medis PasienKode ICD 10 TB Abdomen Lengkap untuk Rekam Medis Pasien

DAFTAR ISI


Tuberkulosis (TB) tidak hanya menginfeksi paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ di luar paru, salah satunya adalah organ pencernaan dan rongga perut. Kondisi ini secara medis dikenal sebagai tuberkulosis abdominal atau TB abdomen. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar ke organ seperti usus, peritoneum (selaput perut), hingga kelenjar getah bening mesenterium.

Dalam dunia medis, penetapan diagnosa yang tepat sangat penting untuk pengobatan pasien dan pencatatan rekam medis. Oleh karena itu, digunakan sistem kode klasifikasi internasional yang disebut ICD-10 (International Classification of Diseases 10th Revision). Mengetahui rincian kode ICD-10 untuk TB abdomen membantu tenaga medis dalam dokumentasi klinis serta pengelolaan klaim asuransi.

TB abdomen merupakan infeksi sistemik serius yang tidak boleh diabaikan. Kondisi ini memerlukan penanganan khusus menggunakan obat resep dokter dan tidak bisa diatasi dengan obat bebas tanpa pengawasan medis.

Kode ICD-10 TB Abdomen

Di dalam sistem ICD-10, tuberkulosis pada organ pencernaan dan rongga perut secara umum dikategorikan di bawah kode utama A18.3 (Tuberculosis of intestines, peritoneum, and mesenteric glands). Kode ini terbagi lagi menjadi beberapa sub-kode yang lebih spesifik tergantung lokasi organ yang terinfeksi:

  • A18.31 (Tuberculosis of intestines): Digunakan untuk tuberkulosis yang menginfeksi saluran usus.
  • A18.32 (Tuberculous peritonitis): Digunakan untuk kasus TB peritonitis, yaitu peradangan pada selaput pembungkus rongga perut akibat infeksi TB.
  • A18.39 (Tuberculosis of retroperitoneal and mesenteric lymph nodes): Digunakan untuk infeksi TB pada kelenjar getah bening di area mesenterium atau retroperitoneal.

Gejala dan Penyebab TB Abdomen

Penyebab utama kondisi ini adalah penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis melalui aliran darah, cairan limfa, atau akibat tertelannya dahak yang mengandung bakteri pada penderita TB paru aktif. Gejala yang ditimbulkan sering kali mirip dengan gangguan pencernaan lainnya, sehingga memerlukan kecermatan tinggi dalam diagnosis.

Beberapa gejala umum TB abdomen meliputi:

  • Nyeri atau kram perut yang berlangsung kronis dan berkepanjangan.
  • Perut membesar atau membengkak akibat penumpukan cairan (asites).
  • Demam ringan yang hilang timbul (sumeng) terutama di sore atau malam hari.
  • Penurunan berat badan dan penurunan nafsu makan secara signifikan.
  • Mual, muntah, serta perubahan pola buang air besar (diare berkelanjutan atau konstipasi).

Penanganan dan Pengobatan TB Abdomen

Pengobatan TB abdomen wajib dilakukan dengan pemberian kombinasi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dalam jangka panjang, umumnya minimal selama 6 hingga 9 bulan. Regimen obat OAT lini pertama terdiri dari rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol. Obat ini termasuk golongan obat keras. Penggunaan harus dengan resep dokter.

Pasien diwajibkan mengonsumsi obat secara teratur tanpa terputus untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri (multi-drug resistant TB). Pengobatan pendukung seperti terapi nutrisi dan pemantauan fungsi hati secara berkala juga diperlukan selama masa pemulihan.

Studi Terkait

Penelitian medis terbaru menunjukkan bahwa TB abdomen merupakan salah satu bentuk TB ekstra-paru yang paling sering memicu keterlambatan diagnosis karena gejalanya yang menyerupai penyakit radang usus (IBD) atau keganasan abdomen. Diagnosis dini yang dikombinasikan dengan kepatuhan regimen terapi OAT selama 6 bulan terbukti efektif memberikan angka kesembuhan hingga lebih dari 90% tanpa memerlukan intervensi bedah, kecuali terjadi komplikasi seperti obstruksi atau perforasi usus.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau kerabat mengalami nyeri perut kronis, penurunan berat badan drastic tanpa alasan jelas, serta demam yang tak kunjung sembuh, segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja. Kamu juga bisa berkonsultasi langsung dengan Dokter Penyakit Dalam di Halodoc untuk pemeriksaan medis lebih lanjut.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
  • ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • ✅ Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan. 
  • ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc  (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada. 
  • ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.

Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?

Layanan konsultasi medis online Halodoc memudahkan kamu mendapatkan diagnosis awal dan penanganan tepat langsung dari ahlinya tanpa harus keluar rumah.

  • ✅ Dokter spesialis berpengalaman: Kamu bisa terhubung langsung dengan dokter umum maupun dokter spesialis penyakit dalam yang terverifikasi dan memiliki STR/SIP aktif.
  • ✅ Layanan 24/7: Konsultasi medis siap melayani kamu kapan pun dan di mana pun dibutuhkan.
  • ✅ Privasi terjamin: Kerahasiaan data medis dan isi percakapan kamu terlindungi dengan aman.
  • ✅ Resep obat langsung: Jika dokter menilai kamu memerlukan terapi obat, resep resmi akan langsung diterbitkan dan bisa kamu pesan melalui layanan beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.

Referensi

World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Global Tuberculosis Report and Guidelines for Extrapulmonary Tuberculosis.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis.
PubMed Central. Diakses pada 2026. Abdominal Tuberculosis: Diagnostic Approaches and Treatment Outcomes.
WebMD. Diakses pada 2026. Abdominal Tuberculosis Symptoms, Causes, and Diagnosis.

FAQ tentang ICD 10 TB Abdomen

Apa kode ICD-10 untuk TB abdomen?

Kode ICD-10 utama untuk TB abdomen adalah A18.3. Kode ini mencakup infeksi tuberkulosis pada usus (A18.31), peritonitis tuberkulosa (A18.32), serta kelenjar getah bening mesenterium (A18.39).

Apakah TB abdomen bisa sembuh total?

Ya, TB abdomen dapat sembuh total jika pasien rutin mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) sesuai petunjuk dokter selama minimal 6 bulan. Pengobatan tidak boleh dihentikan secara sepihak untuk mencegah kekebalan kuman.

Pemeriksaan apa yang dilakukan untuk mendiagnosis TB abdomen?

Dokter biasanya melakukan kombinasi pemeriksaan seperti tes darah, USG atau CT scan abdomen, tes Mantoux/IGRA, analisis cairan asites, hingga biopsi jaringan peritoneum atau usus.

Apakah TB abdomen menular ke orang lain?

TB abdomen sendiri tidak menular secara langsung melalui udara. Namun, jika pasien juga menderita TB paru aktif yang bersamaan, penularan dapat terjadi lewat percikan dahak atau batuk.