• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kurang Empati pada Orang Lain Bisa Jadi Gangguan Narsistik

Kurang Empati pada Orang Lain Bisa Jadi Gangguan Narsistik

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Empati adalah kemampuan untuk memahami perspektif atau pandangan dari orang lain, seolah-olah kamu menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain dan merasakan apa yang orang lain rasakan. Kemampuan ini sebenarnya sangat diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain. Sayangnya, orang dengan gangguan kepribadian narsistik cenderung tidak memiliki empati terhadap orang lain. Itulah mengapa pengidap narsistik sering mengalami masalah dalam pekerjaan maupun lingkungan sosial.  

Kurangnya rasa empati terhadap orang lain menjadi salah satu ciri khas pengidap gangguan kepribadian narsistik. Orang dengan gangguan mental ini akan mengacuhkan maupun mengabaikan kebutuhan orang lain. Mereka sering memandang orang lain hanya sebagai objek untuk melayani atau memenuhi kebutuhan mereka. Orang dengan gangguan narsistik juga tidak peduli terhadap dampak perilaku pada orang lain. Satu-satunya hal yang mereka pikirkan hanyalah kepentingan diri sendiri.

Baca juga: Cara Mendeteksi 9 Tanda Gangguan Kepribadian Narsistik

Tidak Mampu atau Tidak Mau Berempati?

American Psychiatric Association menjelaskan alasan mengapa seseorang dengan gangguan kepribadian narsistik cenderung kurang berempati pada orang lain. Sebenarnya, enggan berempati terhadap orang lain bukan berarti mereka tidak mampu berempati. Nah, pengidap masalah mental ini dinilai memiliki kapasitas untuk berempati, tetapi tidak responsif secara empati.

Fungsi kognitif yang diperlukan untuk empati, seperti kemampuan untuk bermain peran atau mengambil perspektif orang lain terjadi di lokasi otak yang berbeda dari aspek emosional empati, yaitu kepekaan terhadap apa yang dirasakan orang lain. Entah apakah seseorang memiliki gangguan narsistik atau tidak, otak tetap akan mensimulasikan perasaan orang lain di sekitar. Kemampuan untuk secara tidak sadar meniru perasaan orang lain memungkinkan untuk merekonstruksi dalam diri kita apa yang mungkin dialami orang lain.

Ada hubungan antara narsisme dan kurangnya empati secara emosional. Namun, orang dengan gangguan narsistik sebenarnya dapat mengenali dan bereaksi terhadap penderitaan orang lain, bahkan bila mereka memilih untuk mengabaikan kesusahan orang tersebut sekalipun.

Baca juga: Selfie di Lokasi Bencana Bukan Simpati, Ini Bukti Gangguan Psikologi

Mengapa Orang Narsistik Enggan Berempati?

Lalu, mengapa orang dengan gangguan narsistik enggan menunjukkan empati? Ternyata, menurut ulasan dari Psychology Today, pengidap gangguan narsistik enggan menunjukkan rasa empati karena takut hal tersebut dianggap sebagai salah satu kelemahan. Jadi, sebagai bentuk perlindungan diri, mereka lantas tidak menunjukkan rasa empati. 

Namun, ketika pengidap merasa bahwa mereka dapat mempercayai kamu, mereka akan terbuka dan menjadi lebih lembut. Ketika mereka merasa cukup aman untuk menunjukkan sisi lemah mereka di hadapanmu, mereka akan menunjukkan rasa empati yang dianggap sebagai salah satu kekurangan diri.

Baca juga: 7 Cara Hadapi Pasangan Gangguan Kepribadian Narsistik

Jadi, bukan tanpa alasan mengapa orang dengan gangguan narsistik cenderung enggan menunjukkan rasa empati mereka. Apabila kondisi ini sedang kamu alami, jangan takut untuk bercerita pada ahlinya sehingga kamu bisa segera mendapatkan penanganan. Kamu bisa download dan pakai aplikasi Halodoc untuk tanya jawab pada psikolog setiap saat. Jangan dibiarkan, karena empati adalah bentuk emosi yang menunjukkan bahwa kamu masih memiliki perasaan sebagai manusia. 

Referensi:
Help Guide. Diakses pada 2021. Narcissistic Personality Disorder.
Psychology Today. Diakses pada 2021. Do Narcissists Actually Lack Empathy?
Psychology Today. Diakses pada 2021. Is It True That Narcissists Have Zero Empathy?