Ad Placeholder Image

Memahami Patofisiologi Kejang Demam pada Anak secara Lengkap

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 18 Agustus 2026

Memahami Patofisiologi Kejang Demam pada Anak secara Tepat dan Mudah Dipahami

Memahami Patofisiologi Kejang Demam pada Anak secara LengkapMemahami Patofisiologi Kejang Demam pada Anak secara Lengkap

DAFTAR ISI


Apa Itu Kejang Demam?

Kejang demam (febrile seizure) adalah kejang pada anak yang dipicu oleh kenaikan suhu tubuh mendadak, biasanya di atas 38 derajat Celsius. Kondisi ini paling sering dialami oleh anak-anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun. Saat si Kecil mengalami kejang demam, orang tua sering kali merasa khawatir dan panik karena melihat pergerakan tubuh anak yang tidak terkontrol.

Meskipun tampak menakutkan, sebagian besar kasus kejang demam tergolong tidak berbahaya dan tidak menimbulkan kerusakan otak permanen. Kejang demam berbeda dengan epilepsi, karena bangkitan kejang pada kondisi ini murni dipicu oleh respons sistem saraf terhadap demam akibat infeksi virus atau bakteri, bukan karena kelainan struktural pada otak.

Untuk memahami mengapa kenaikan suhu tubuh dapat memicu hentakan saraf pada anak, kamu perlu memahami patofisiologi kejang demam. Jika kamu memerlukan panduan penanganan awal, kamu bisa melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja.

Patofisiologi Kejang Demam pada Anak

Patofisiologi kejang demam melibatkan mekanisme kompleks antara perkembangan otak balita yang belum matang, perubahan metabolisme sel saraf, serta pelepasan mediator peradangan. Berikut adalah penjelasan proses terjadinya kejang demam secara medis:

  • Peningkatan Kebutuhan Metabolisme Otak: Setiap kenaikan suhu tubuh sebesar 1 derajat Celsius akan meningkatkan metabolisme basal otak sebesar 10–12% serta kebutuhan oksigen hingga 20%. Perubahan mendadak ini mengganggu kestabilan membran sel saraf (neuron).
  • Ketidakseimbangan Ion Membran Sel: Kenaikan suhu mengganggu kinerja pompa natrium-kalium pada membran sel otak. Hal ini menyebabkan masuknya ion natrium secara berlebihan ke dalam sel saraf, sehingga memicu depolarisasi cepat dan pelepasan muatan listrik abnormal yang menimbulkan kejang.
  • Peran Sitokinin Pro-Inflamasi: Saat anak mengalami infeksi, tubuh merilis zat kimia berupa sitokin pro-inflamasi seperti interleukin-1 beta (IL-1β) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α). Sitokin ini bertindak pada hipotalamus untuk menaikkan suhu tubuh sekaligus meningkatkan eksitabilitas sel saraf di otak, sehingga menurunkan ambang kejang.
  • Kematangan Saraf yang Belum Sempurna: Otak anak di bawah usia 5 tahun masih dalam tahap perkembangan. Sistem penghambat neurotransmiter seperti GABA (gamma-aminobutyric acid) belum berfungsi optimal untuk meredam muatan listrik berlebih, sehingga anak lebih rentan mengalami kejang saat suhu tubuhnya melonjak drastis.

Faktor Risiko Kejang Demam

Beberapa anak lebih rentan mengalami kejang demam dibandingkan anak lainnya akibat faktor-faktor berikut:

  • Faktor Genetik: Riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung meningkatkan risiko anak mengalami kondisi serupa.
  • Usia Perkembangan: Puncak kejadian kejang demam berada pada usia 12 hingga 18 bulan, di mana sistem regulasi suhu dan saraf otak anak masih belum stabil.
  • Kecepatan Lonjakan Suhu: Laju kenaikan suhu tubuh yang terlalu cepat lebih berisiko memicu kejang dibandingkan titik puncak suhu itu sendiri.
  • Riwayat Infeksi: Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media, atau roseola infantum sering menjadi pemicu utama timbulnya demam tinggi pada anak.

Penanganan Pertama Saat Kejang Demam

Ketika anak mengalami kejang demam, hal terpenting yang harus dilakukan orang tua adalah tetap tenang dan tidak panik. Langkah-langkah pertolongan pertama yang tepat meliputi:

  1. Baringkan anak di permukaan yang datar dan aman dari benda-benda tajam atau keras.
  2. Posisikan tubuh anak miring ke salah satu sisi untuk mencegah tersedak air liur atau muntahan.
  3. Jangan memasukkan benda apa pun (seperti sendok atau jari) ke dalam mulut anak karena bisa menyumbat jalan napas.
  4. Longgarkan pakaian ketat di sekitar leher dan dada anak.
  5. Catat durasi kejang menggunakan jam atau pengukur waktu.

Studi Terkait

Berdasarkan riset medis terkini yang dipublikasikan dalam jurnal neuro-pediatri (2026), keterlibatan variasi genetik pada saluran ion natrium (seperti gen SCN1A) dan peningkatan konsentrasi sitokin IL-1β dalam cairan serebrospinal terbukti menjadi faktor utama yang mempermudah terjadinya kejang saat demam pada balita. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa pencegahan kejang berulang difokuskan pada tata laksana demam dan pemantauan ketat saat anak mulai menunjukkan gejala infeksi awal.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, anak mengalami kejang berulang dalam 24 jam, atau anak tidak sadarkan diri setelah kejang berhenti, segera konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak di Halodoc untuk penanganan medis darurat secara tepat.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
  • ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
  • ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • ✅ Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.
  • ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada.
  • ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.

Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?

  • ✅ Dokter Berlisensi: Konsultasi dengan dokter spesialis anak berpengalaman yang memiliki STR dan SIP aktif.
  • ✅ Layanan 24 Jam: Respon cepat kapan saja kamu membutuhkan bantuan medis darurat untuk si Kecil.
  • ✅ Hemat Waktu & Praktis: Tidak perlu membawa anak yang sedang demam ke luar rumah untuk berkonsultasi awal.
  • ✅ Tersedia Resep Digital: Dokter dapat memberikan resep resmi yang langsung terkoneksi dengan layanan pengiriman obat online Halodoc.

Referensi

Journal of Clinical Neurophysiology. Diakses pada 2026. Inflammatory Cytokines and Febrile Seizure Pathophysiology in Young Children.
National Center for Biotechnology Information (NCBI) PubMed. Diakses pada 2026. Febrile Seizures: Pathophysiology, Risk Factors, and Clinical Management.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Childhood Febrile Illnesses and Seizure Management Guidelines.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Penanganan Kejang Demam pada Anak di Fasilitas Kesehatan Primer.

FAQ

Apakah kejang demam dapat menyebabkan kerusakan otak?
Sebagian besar kejang demam sederhana berlangsung kurang dari 5 menit dan tidak menyebabkan kerusakan otak atau penurunan kecerdasan anak pada masa depan.

Apakah kejang demam sama dengan penyakit epilepsi?
Tidak. Kejang demam dipicu oleh kenaikan suhu tubuh akibat demam, sedangkan epilepsi ditandai dengan kejang berulang tanpa pemicu suhu tubuh atau fever.

Berapa lama durasi kejang demam yang tergolong normal?
Kejang demam sederhana biasanya berlangsung kurang dari beberapa detik hingga beberapa menit (umumnya di bawah 5 menit) dan akan berhenti dengan sendirinya.

Apakah kejang demam dapat berulang di kemudian hari?
Ya, sekitar 30% anak yang pernah mengalami kejang demam dapat mengalami kejang berulang saat mereka menderita demam tinggi kembali sebelum berusia 5 tahun.