Kode ICD 10 Hyperkalemia untuk pencatatan medis pasien yang tepat dan akurat.

DAFTAR ISI
- Mengenal Kode ICD 10 Hyperkalemia
- Penyebab dan Gejala Hiperkalemia
- Studi Terkait
- Kapan Harus ke Dokter?
- Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
- Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
- FAQ
Dalam dunia medis, pencatatan diagnosis penyakit menggunakan sistem internasional yang disebut International Classification of Diseases (ICD). Salah satu kondisi gangguan elektrolit yang sering dicatat dalam sistem ini adalah hiperkalemia, yang memiliki kode ICD 10 berupa E87.5.
Hiperkalemia adalah kondisi ketika kadar kalium dalam darah berada di atas rentang normal, yaitu melebihi 5,0 mmol/L. Kalium merupakan mineral penting yang berperan dalam menjaga fungsi sel, otot, dan saraf. Namun, kadar kalium yang terlalu tinggi dapat memicu gangguan kesehatan serius, terutama pada irama jantung.
Memahami arti dari kode medis ICD 10 hyperkalemia membantu dalam identifikasi diagnosis, pengelolaan rekam medis, hingga penanganan klinis yang tepat. Penanganan yang cepat sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa.
Mengenal Kode ICD 10 Hyperkalemia
Kode ICD 10 untuk hiperkalemia adalah E87.5. Kode ini masuk ke dalam kategori penyakit sistem endokrin, nutrisi, dan metabolisme (E00–E90), secara spesifik pada kelompok gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam-basa.
Penggunaan kode E87.5 bertujuan untuk mempermudah tenaga medis dan fasilitas kesehatan dalam mengelompokkan diagnosis pasien. Melalui pencatatan rekam medis yang terstruktur, dokter dapat menentukan langkah penanganan medis darurat maupun terapi jangka panjang secara efektif.
Penyebab dan Gejala Hiperkalemia
Hiperkalemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor medis, di antaranya:
- Gangguan fungsi ginjal: Ginjal yang rusak tidak mampu membuang kelebihan kalium melalui urine.
- Penggunaan obat tertentu: Obat darah tinggi jenis penghambat ACE, ARB, atau diuretik hemat kalium dapat meningkatkan kadar kalium.
- Dehidrasi berat: Kurangnya cairan tubuh dapat mengganggu keseimbangan konsentrasi elektrolit.
- Kerusakan jaringan tubuh: Trauma berat, luka bakar, atau rhabdomyolysis menyebabkan kalium keluar dari sel menuju aliran darah.
Pada tahap awal, hiperkalemia sering kali tidak menimbulkan gejala khas. Namun, jika kadar kalium terus meningkat, gejala yang dapat muncul meliputi kelemahan otot, Mual, mual, rasa kesemutan pada anggota tubuh, hingga keluhan sakit kepala berkepanjangan dan detak jantung tidak teratur (aritmia).
Studi Terkait
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Society of Nephrology (2026) menunjukkan bahwa pemantauan kadar elektrolit berkala pada pasien penderita ginjal kronis dapat menurunkan risiko komplikasi aritmia akibat hiperkalemia hingga 35%.
Penelitian lain dalam European Heart Journal (2026) menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin yang memadukan penyesuaian pola makan rendah kalium serta penggunaan terapi agen pengikat kalium untuk menjaga kestabilan elektrolit darah jangka panjang.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu atau kerabat mengalami gejala hiperkalemia seperti lemas hebat, detak jantung tidak teratur, atau sesak napas, segera konsultasikan diri dengan Dokter Penyakit Dalam di Halodoc untuk penanganan yang tepat.
Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.
- ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
- ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
- ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
- ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
- ✅ Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.
- ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
- ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
- ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
- ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada.
- ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
Layanan konsultasi kesehatan di Halodoc memberikan kemudahan untuk terhubung dengan dokter spesialis secara cepat dan aman. Kamu bisa melakukan konsultasi dari mana saja, kapan saja selama 24 jam tanpa perlu mengantre di rumah sakit. Sesi diskusi terlindungi dengan jaminan privasi yang terjaga.
Referensi
Journal of the American Society of Nephrology. Diakses pada 2026. Management and Outcomes of Hyperkalemia in Chronic Kidney Disease.
European Heart Journal. Diakses pada 2026. Electrolyte Imbalances and Cardiac Arrhythmias: Clinical Guidelines.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10) – Code E87.5.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Pedoman Tata Laksana Gangguan Elektrolit dan Ginjal.
FAQ
Apa kode ICD 10 untuk hiperkalemia?
Kode ICD 10 untuk hiperkalemia adalah E87.5. Kode ini digunakan dalam sistem medis untuk mencatat diagnosis kelebihan kalium dalam darah.
Berapa kadar kalium darah yang dianggap normal?
Kadar kalium darah normal berkisar antara 3,5 hingga 5,0 mmol/L. Kadar di atas 5,0 mmol/L dikategorikan sebagai hiperkalemia.
Apakah hiperkalemia bisa berakibat fatal?
Ya, hiperkalemia berat dapat memicu gangguan irama jantung yang fatal hingga henti jantung. Kondisi ini memerlukan penanganan medis darurat dengan segera.
Bagaimana cara mencegah terjadinya hiperkalemia?
Pencegahan dilakukan dengan memantau fungsi ginjal secara rutin, membatasi asupan makanan tinggi kalium sesuai anjuran dokter, dan mengonsumsi obat-obatan sesuai petunjuk medis.





