Ad Placeholder Image

Mengenal Kode ICD 10 Snake Bite untuk Penanganan Medis

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 30 Juli 2026

Kode ICD 10 snake bite untuk identifikasi medis gigitan ular agar penanganan tepat dan cepat.

Mengenal Kode ICD 10 Snake Bite untuk Penanganan MedisMengenal Kode ICD 10 Snake Bite untuk Penanganan Medis

DAFTAR ISI


Gigitan ular (snake bite) merupakan salah satu kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Dalam dunia medis, setiap penyakit, cedera, maupun kondisi kesehatan dikelompokkan dalam sistem kode internasional yang disebut ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision).

Penggunaan kode ICD 10 snake bite sangat penting bagi tenaga medis untuk mencatat diagnosis, menentukan langkah pengobatan yang sesuai, hingga pengurusan administrasi asuransi kesehatan. Penanganan gigitan ular berpacu dengan waktu karena beberapa jenis ular memiliki racun (bisa) yang dapat mengancam jiwa hanya dalam hitungan jam.

Penting bagi kamu untuk mengetahui dasar dari kondisi ini serta penanganan darurat awal yang perlu dilakukan sebelum mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan terdekat.

Mengenal Kode ICD-10 Snake Bite dalam Medis

Kode ICD-10 untuk gigitan ular secara umum masuk ke dalam kategori efek racun akibat kontak dengan hewan berbisa maupun cedera akibat gigitan reptil. Kode ini membedakan apakah gigitan berasal dari ular berbisa (venomous) atau ular tidak berbisa (non-venomous).

Secara umum, kode utama untuk efek toksik dari bisa ular adalah T63.0 (Toxic effect of snake venom). Kode ini kemudian dibagi lagi menjadi beberapa sub-kode tergantung pada jenis ular dan komplikasi yang ditimbulkan.

Daftar Kode ICD-10 untuk Gigitan Ular

Berikut adalah beberapa kode ICD-10 yang paling sering digunakan dalam penanganan medis untuk kasus gigitan ular:

  • T63.00: Toxic effect of snake venom, unspecified (Efek toksik racun ular, tidak dispesifikasikan).
  • T63.01: Toxic effect of cobra venom (Efek toksik racun ular kobra).
  • T63.02: Toxic effect of rattlesnake venom (Efek toksik racun ular derik).
  • T63.04: Toxic effect of viper venom (Efek toksik racun ular vipers/bandotan).
  • W59.11: Bitten by nonvenomous snake (Digigit oleh ular yang tidak berbisa).

Pertolongan Pertama saat Mengalami Gigitan Ular

Sebelum tim medis tiba atau sebelum korban sampai di rumah sakit, pertolongan pertama yang tepat dapat menekan penyebaran racun di dalam tubuh.

Hal yang Harus dan Tidak Boleh Dilakukan saat Gigitan Ular
  1. Lakukan Imobilisasi: Istirahatkan anggota tubuh yang tergigit dan usahakan tidak bergerak agar racun tidak cepat menyebar melalui pembuluh getah bening.
  2. Lepaskan Perhiasan: Segera lepaskan cincin, jam tangan, atau pakaian ketat di area dekat gigitan sebelum pembengkakan terjadi.
  3. JANGAN Mengikat Terlalu Kencang (Tourniquet): Hindari mengikat area luka dengan sangat kencang karena dapat menghentikan aliran darah dan memicu kematian jaringan (nekrosis).
  4. JANGAN Memotong atau Mengisap Luka: Memotong area gigitan atau mengisap darahnya tidak terbukti mengeluarkan racun dan justru meningkatkan risiko infeksi sekunder.

Studi Terkait

Berdasarkan studi klinis dari World Health Organization (WHO) mengenai Snakebite Envenoming, gigitan ular berbisa diperkirakan dialami oleh sekitar 5,4 juta orang setiap tahunnya secara global, dengan angka kematian berkisar antara 81.000 hingga 138.000 jiwa. Penelitian menekankan bahwa pemberian Serum Anti Bisa Ular (SABU) yang tepat sesuai identifikasi kode diagnosis ICD-10 pada jam pertama (golden period) secara signifikan menurunkan risiko komplikasi berat seperti gagal ginjal akut dan kelumpuhan pernapasan.

Kapan Harus ke Dokter?

Semua kasus gigitan ular harus dianggap sebagai kondisi darurat medis hingga terbukti sebaliknya. Jika kamu atau orang di sekitarmu mengalami gigitan ular, segera lakukan konsultasi darurat atau pemeriksaan langsung dengan Dokter Umum di Halodoc atau langsung mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
  • Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
  • Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
  • Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc +62 815-8830-780, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.
  • Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada.
  • Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.

Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?

Konsultasi kesehatan online kini semakin mudah dan cepat melalui aplikasi Halodoc. Kamu bisa langsung terhubung dengan dokter terpercaya untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

  • Dokter berlisensi: Semua dokter di Halodoc memiliki STR (Surat Tanda Registrasi) dan SIP (Surat Izin Praktik) resmi, sehingga terjamin keahliannya.
  • Respons cepat: Dokter siap merespons pertanyaanmu dalam hitungan menit untuk memberikan penanganan awal.
  • Layanan 24 jam: Kamu bisa berkonsultasi kapan saja, baik pagi, siang, maupun malam hari.
  • Privasi aman: Sesi konsultasi terjaga kerahasiaannya dengan sistem keamanan data terenkripsi.
  • Praktis: Tidak perlu keluar rumah, hemat waktu dan biaya transportasi.

Referensi

World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Snakebite Envenoming: Strategy for Prevention and Control.
PubMed Central. Diakses pada 2026. Management of Snakebite Envenomation and Clinical Outcomes.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Pedoman Penanganan Gigitan Ular Berbisa di Indonesia.
WebMD. Diakses pada 2026. First Aid for Snake Bites: Symptoms and Treatment.

FAQ

1. Apa kode ICD 10 utama untuk gigitan ular berbisa?
Kode ICD 10 utama untuk gigitan ular berbisa adalah T63.0, yang mencakup efek toksik racun ular (toxic effect of snake venom).

2. Apakah gigitan ular yang tidak berbisa juga memiliki kode ICD-10?
Ya, gigitan ular yang tidak berbisa memiliki kode tersendiri, yaitu W59.11 (bitten by nonvenomous snake).

3. Mengapa luka gigitan ular tidak boleh diikat terlalu kencang?
Mengikat area gigitan terlalu kencang dengan tourniquet dapat menghentikan sirkulasi darah secara total, yang berisiko menyebabkan kerusakan jaringan permanen hingga amputasi.

4. Apa yang harus dilakukan pertama kali saat seseorang digigit ular?
Pertama, tetap tenang dan imobilisasi (istirahatkan) anggota tubuh yang tergigit agar racun tidak menyebar cepat, lalu segera bawa korban ke fasilitas medis terdekat.