Kode ICD 10 stenosis ureter dan panduan lengkap diagnosis medis penyempitan saluran kemih.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Kode ICD 10 Stenosis Ureter?
- Penyebab dan Gejala Stenosis Ureter
- Studi Terkait
- Kapan Harus ke Dokter?
- Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
- Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
- FAQ
Stenosis ureter atau striktur ureter adalah kondisi ketika saluran ureter mengalami penyempitan. Saluran ini berfungsi membawa urine dari ginjal menuju kandung kemih. Ketika ureter menyempit, aliran urine akan terhambat dan berisiko menimbulkan penumpukan cairan di ginjal (hidronefrosis) serta kerusakan jaringan ginjal secara permanen jika tidak segera ditangani.
Dalam dunia medis, tenaga kesehatan menggunakan sistem klasifikasi internasional yang disebut ICD 10 (International Classification of Diseases, 10th Revision) untuk mencatat diagnosa penyakit secara terstandar. Penentuan kode ICD 10 yang tepat sangat penting untuk kelengkapan rekam medis, klaim asuransi, serta menentukan tindakan penanganan yang sesuai.
Jika kamu merasakan gejala seperti nyeri pinggang atau gangguan buang air kecil, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter di Halodoc guna mendapatkan pemeriksaan fisik awal dan evaluasi secara tepat.
Apa Itu Kode ICD 10 Stenosis Ureter?
Kode ICD 10 untuk stenosis ureter terbagi ke dalam beberapa kategori tergantung pada penyebab dasar serta apakah kondisi tersebut disertai dengan komplikasi lain seperti hidronefrosis. Berikut adalah beberapa kode ICD 10 yang paling sering digunakan:
- N13.5: Crossing residue and stricture of ureter without hydronephrosis (Penyempitan ureter tanpa hidronefrosis).
- N13.1: Stricture of ureter with hydronephrosis (Penyempitan ureter yang disertai penumpukan urine pada ginjal/hidronefrosis).
- Q62.1: Congenital occlusion and stricture of ureter (Penyempitan atau penyumbatan ureter yang bersifat bawaan lahir).
- N99.6: Postprocedural ureteral stricture (Penyempitan ureter pasca-tindakan medis atau operasi).
Penyebab dan Gejala Stenosis Ureter
Penyempitan ureter dapat disebabkan oleh berbagai faktor medis. Beberapa penyebab umum stenosis ureter meliputi:
- Riwayat Tindakan Operasi: Prosedur bedah di area panggul atau saluran kemih (seperti endourologi atau histerektomi) berisiko memicu terbentuknya jaringan parut di ureter.
- Riwayat Batu Ginjal atau Ureter: Gesekan dan penyumbatan akibat batu saluran kemih secara berulang dapat memicu peradangan serta penyempitan.
- Radioterapi: Terapi radiasi di area abdomen atau panggul untuk pengobatan kanker dapat merusak jaringan ureter.
- Kelainan Bawaan Lahir: Perkembangan struktur saluran kemih yang tidak sempurna sejak dalam kandungan.
Gejala yang sering dialami penderita stenosis ureter antara lain nyeri tumpul hingga tajam pada area pinggang (flank pain), infeksi saluran kemih berulang, darah pada urine (hematuria), demam, serta penurunan volume urine saat buang air kecil.
Faktor Pemicu Jaringan Parut Ureter
- Infeksi saluran kemih kronis yang tidak ditangani dengan tuntas.
- Trauma atau cedera fisik di area perut bagian bawah dan panggul.
- Riwayat batu ginjal berukuran besar yang tersangkut lama di ureter.
Studi Terkait
Berdasarkan studi klinis terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Urology (2026), penanganan stenosis ureter menggunakan teknik endourologi dengan stent khusus dan balonisasi balon terbukti menurunkan risiko kekambuhan jaringan parut hingga 75 persen dibandingkan metode konvensional. Penanganan dini terbukti secara signifikan mencegah kerusakan parenkim ginjal permanen.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu mengalami gejala seperti nyeri pinggang hebat yang menetap, urine berwarna kemerahan, atau demam tinggi yang disertai menggigil, segera konsultasikan kondisi kamu dengan Dokter Spesialis Urologi di Halodoc untuk penanganan medis lebih lanjut.
Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
Konsultasi masalah kesehatan kini lebih mudah dan praktis melalui Halodoc. Kamu bisa langsung terhubung dengan dokter spesialis berlisensi kapan saja dan di mana saja.
- Dokter berpengalaman: Terhubung dengan dokter spesialis yang memiliki STR dan SIP resmi.
- Respon cepat: Layanan konsultasi tersedia 24 jam nonstop untuk membantu mengatasi keluhan kesehatanmu.
- Privasi aman: Sesi konsultasi terjaga kerahasiannya sehingga kamu bisa berkonsultasi dengan nyaman.
Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.
- ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
- ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
- ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
- ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
- ✅ Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc +62 815-8830-780, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.
- ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
- ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
- ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
- ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada.
- ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
Referensi
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. International Classification of Diseases 10th Revision (ICD-10) – Chapter XIV: Diseases of the genitourinary system (N00-N99).
PubMed. Diakses pada 2026. Ureteral Stricture Management: Current Trends and Advances in Endourology.
WebMD. Diakses pada 2026. Ureteral Stricture: Causes, Symptoms, and Treatment.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Penyakit Saluran Kemih.
FAQ
1. Apakah stenosis ureter bisa sembuh total?
Stenosis ureter bisa disembuhkan dengan penanganan medis yang tepat, seperti tindakan endourologi, pemasangan stent ureter, atau pembedahan rekonstruksi. Keberhasilan terapi bergantung pada tingkat keparahan dan lokasi penyempitan.
2. Apa dampak jika ICD 10 stenosis ureter tidak segera ditangani?
Penyempitan yang dibiarkan tanpa penanganan dapat memicu penumpukan urine di ginjal (hidronefrosis). Kondisi ini berisiko menyebabkan infeksi berat (sepsis) hingga gagal ginjal permanen.
3. Bagaimana dokter mendiagnosis stenosis ureter?
Dokter urologi akan melakukan serangkaian pemeriksaan penunjang seperti USG ginjal dan saluran kemih, CT-Scan urografi, atau pielografi retrograd untuk melihat lokasi dan derajat penyempitan ureter.
4. Apakah penderita stenosis ureter harus selalu dioperasi?
Tidak semua kasus membutuhkan operasi terbuka. Banyak kasus stenosis ureter derajat ringan hingga sedang yang dapat diatasi dengan prosedur minimal invasif, seperti dilatasi balon atau pemasangan stent ureter.





