Ad Placeholder Image

Mengenal Kode Paraparese ICD 10 dan Penjelasan Medisnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 18 Agustus 2026

Panduan Lengkap Kode Diagnosis Paraparese ICD 10 Untuk Tenaga Medis Profesional

Mengenal Kode Paraparese ICD 10 dan Penjelasan MedisnyaMengenal Kode Paraparese ICD 10 dan Penjelasan Medisnya

DAFTAR ISI


Paraparese (paraparesis) adalah kondisi medis ketika seseorang mengalami kelemahan otot atau penurunan kekuatan gerak pada kedua anggota tubuh bagian bawah, yaitu kedua kaki atau tungkai. Kondisi ini berbeda dari paraplegia, di mana kelumpuhan pada kedua tungkai terjadi secara total. Penurunan fungsi motorik ini umumnya dipicu oleh gangguan pada sistem saraf pusat, terutama saraf tulang belakang (spinal cord).

Dalam dunia medis dan administrasi kesehatan, pencatatan diagnosis penyakit menggunakan kode internasional ICD 10 (International Classification of Diseases 10th Revision). Mengetahui kode ICD 10 untuk paraparese sangat penting bagi tenaga medis maupun pasien untuk keperluan dokumentasi rekam medis dan klaim asuransi kesehatan.

Secara umum, kode ICD 10 untuk paraparese dikelompokkan dalam kategori G82 (Paraplegia and tetraplegia). Pembagian kodenya adalah G82.0 untuk paraparese flaksid (otot lemas), G82.1 untuk paraparese spastik (otot kaku), serta G82.2 untuk jenis yang tidak ditentukan (unspecified).

Apa Itu Paraparese dan Kode ICD 10-nya?

Paraparese bukan merupakan suatu penyakit tunggal, melainkan sebuah gejala atau manifestasi klinis dari adanya kerusakan saraf. Sistem kode ICD 10 mengelompokkan paraparese berdasarkan karakteristik klinis yang dialami pasien:

  • G82.0 (Flaccid Paraplegia/Paraparesis): Kelemahan otot disertai hilangnya tonus otot, sehingga tungkai terasa sangat lemas atau terkulai.
  • G82.1 (Spastic Paraplegia/Paraparesis): Kelemahan otot yang disertai dengan kekakuan otot dan peningkatan refleks tendon.
  • G82.2 (Paraplegia, Unspecified): Digunakan saat jenis kelemahan tungkai belum dapat dipastikan secara spesifik.

Penyebab Paraparese

Kelemahan pada kedua tungkai dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis yang menekan atau merusak saraf tulang belakang. Beberapa penyebab utamanya meliputi:

  • Cedera Tulang Belakang: Trauma akibat kecelakaan atau jatuh yang merusak medula spinalis.
  • Hernia Nukleus Pulposus (HNP): Saraf terjepit akibat pergeseran bantalan tulang belakang.
  • Infeksi: Spondilitis TB (TBC tulang belakang) atau myelitis transversa yang memicu peradangan saraf.
  • Tumor atau Mieloma: Benjolan abnormal di sekitar saraf tulang belakang yang menekan jalur saraf motorik.
  • Penyakit Autoimun: Kondisi seperti Multiple Sclerosis yang merusak selubung pelindung saraf.

Gejala Paraparese yang Perlu Diwaspadai

Gejala paraparese bisa muncul secara mendadak atau berkembang secara bertahap. Beberapa gejala yang sering dikeluhkan pasien meliputi:

  • Kesulitan berjalan atau melangkah karena kaki terasa berat.
  • Sensasi kebas, kesemutan, atau rasa terbakar pada kedua tungkai.
  • Hilangnya keseimbangan saat berdiri atau berjalan.
  • Gangguan kontrol buang air kecil (inkontinensia urine) atau buang air besar.

Diagnosis dan Penanganan Medis

Paraparese adalah kondisi medis mendasar yang memerlukan penanganan penyebab utamanya, bukan sekadar pemberian obat anti nyeri atau suplemen otot. Dokter spesialis saraf akan melakukan serangkaian pemeriksaan penunjang seperti MRI tulang belakang, CT scan, elektromiografi (EMG), serta tes darah untuk menemukan etiologinya.

Pengobatan dapat meliputi tindakan operatif jika terdapat kompresi saraf (seperti HNP atau tumor), pemberian obat antiinflamasi atau antibiotik/OAT jika disebabkan oleh infeksi, serta fisioterapi intensif untuk mengembalikan fungsi gerak tungkai.

Studi Terkait

Berdasarkan riset medis mengenai tata laksana gangguan neurologis spinal, intervensi medis dalam kurun waktu 24–48 jam pertama sejak timbulnya gejala paraparese akut sangat krusial. Penanganan dini pada kompresi medula spinalis terbukti mencegah kerusakan saraf permanen dan meningkatkan peluang pemulihan fungsi motorik tungkai hingga lebih dari 60% melalui kombinasi terapi kausatif dan rehabilitasi medis berkelanjutan.

Kapan Harus Ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga mengalami kelemahan mendadak pada kedua kaki, rasa kebas yang meluas, atau kesulitan berjalan yang semakin parah, segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Saraf di Halodoc untuk mendapatkan evaluasi diagnosis awal secara tepat.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
  • ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
  • ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • ✅ Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.
  • ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada.
  • ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.

Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?

  • ✅ Dokter berlisensi: Konsultasi cepat dan nyaman bersama dokter berpengalaman.
  • ✅ Layanan 24/7: Dokter selalu siap membantu kapan saja dan di mana saja.
  • ✅ Resep resmi: Dapatkan resep obat digital dari dokter setelah konsultasi jika diperlukan.

Referensi

World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD-10): Paraplegia and Tetraplegia (G82).
PubMed. Diakses pada 2026. Clinical Evaluation and Management of Nontraumatic Paraparesis.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Cedera Medula Spinalis.
WebMD. Diakses pada 2026. Paraparesis: Causes, Symptoms, and Diagnosis.

FAQ

1. Apa perbedaan antara paraparese dan paraplegia?
Paraparese adalah kondisi kelemahan parsial pada kedua kaki sehingga pasien masih memiliki sedikit kekuatan atau sensasi gerak. Sementara itu, paraplegia adalah kondisi kelumpuhan total pada kedua tungkai sehingga tidak bisa digerakkan sama sekali.

2. Apa kode ICD 10 yang sering digunakan untuk paraparese?
Kode ICD 10 yang paling sering digunakan adalah kelompok G82, seperti G82.0 (paraparese flaksid), G82.1 (paraparese spastik), atau G82.2 jika jenis kelemahannya belum ditentukan secara spesifik.

3. Apakah paraparese bisa sembuh total?
Peluang kesembuhan paraparese sangat bergantung pada penyebab dasarnya dan seberapa cepat penanganan medis diberikan. Jika disebabkan oleh penekanan saraf ringan dan segera ditangani dengan operasi atau fisioterapi, fungsi gerak kaki dapat membaik secara signifikan.

4. Langkah apa yang harus dilakukan jika kedua kaki mendadak lemas?
Jika kedua kaki mendadak lemas dan sulit digerakkan, hindari melakukan pijat sembarangan pada area tulang belakang. Segera periksakan diri ke dokter spesialis saraf atau IGD rumah sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan pencitraan seperti MRI.