
Mengenal Kode Steven Johnson Syndrome ICD 10 Secara Tepat
Mengenal Kode Steven Johnson Syndrome ICD 10 untuk Penanganan Medis yang Tepat dan Cepat

DAFTAR ISI
- Mengenal Steven Johnson Syndrome dan Kode ICD 10
- Gejala dan Penyebab Steven Johnson Syndrome
- Penanganan Medis Steven Johnson Syndrome
- Studi Terkait
- Kapan Harus ke Dokter?
- Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
- Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
- FAQ
Steven Johnson Syndrome (SJS) adalah kelainan langka dan serius pada kulit serta membran mukosa. Kondisi ini biasanya dipicu oleh reaksi berlebihan tubuh terhadap obat-obatan tertentu atau infeksi berat. Karena sifatnya yang berkembang sangat cepat dan berpotensi mengancam jiwa, penanganan SJS memerlukan perawatan intensif medis secara langsung di rumah sakit.
Kondisi medis ini tidak dapat ditangani sendiri di rumah menggunakan obat bebas atau pelembap biasa. Pasien yang dicurigai mengalami reaksi ini harus segera dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) untuk menghentikan penggunaan obat pemicu, menjaga keseimbangan cairan tubuh, serta mencegah infeksi sekunder yang fatal.
Dalam dunia medis internasional, klasifikasi penyakit menggunakan sistem ICD-10 (International Classification of Diseases, 10th Revision) untuk mendokumentasikan dan mempermudah pencatatan medis. Mengetahui kode ICD-10 untuk Steven Johnson Syndrome membantu tenaga kesehatan dalam memberikan diagnosis cepat dan pengelolaan administrasi medis yang akurat.
Mengenal Steven Johnson Syndrome dan Kode ICD 10
Dalam sistem klasifikasi ICD-10, Steven Johnson Syndrome dikategorikan di bawah kode L51.1. Kode ini secara spesifik merujuk pada Stevens-Johnson syndrome (atau bentuk eritroderma bulosa berat). Jika kelainan kulit ini meluas hingga melibatkan lebih dari 30 persen permukaan tubuh, kondisi ini dapat berkembang menjadi Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) yang dikodekan dengan L51.2.
Pencatatan kode ICD-10 sangat penting dalam fasilitas pelayanan kesehatan untuk membedakan derajat keparahan kerusakan kulit. Penentuan diagnosis yang cepat berdasarkan kode ini memastikan pasien segera mendapatkan ruang perawatan khusus, seperti unit luka bakar atau Unit Perawatan Intensif (ICU).
Gejala dan Penyebab Steven Johnson Syndrome
SJS umumnya diawali dengan gejala mirip flu, seperti demam, tubuh lemas, tenggorokan sakit, dan mata terasa panas. Dalam beberapa hari, gejala tersebut diikuti oleh pembentukan ruam merah atau keunguan yang menyakitkan. Ruam ini kemudian memlepuh, mengelupas, dan meninggalkan area kulit yang terbuka dan rentan terinfeksi.
Penyebab paling sering dari SJS meliputi:
- Obat-obatan: Antibiotik (seperti sulfonamida), obat antikejang (karbamazepin, fenitoin), obat asam urat (alopurinol), serta obat pereda nyeri nonsteroid (OAINS).
- Infeksi: Infeksi virus seperti herpes simpleks, HIV, atau infeksi bakteri seperti Mycoplasma pneumoniae.
- Faktor Genetik: Variasi genetik tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami reaksi imun berat terhadap obat tertentu.
Penanganan Medis Steven Johnson Syndrome
Karena SJS adalah keadaan darurat medis, pengobatannya berfokus pada eliminasi penyebab serta perawatan suportif intensif di rumah sakit. Langkah penanganan utama meliputi:
- Penghentian Obat Pemicu: Segera menghentikan semua obat yang berpotensi menjadi pemicu utama.
- Perawatan Cairan dan Nutrisi: Pemberian cairan dan nutrisi melalui infus untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat kulit yang mengelupas.
- Perawatan Luka: Merawat area kulit yang terbuka secara steril guna mencegah komplikasi infeksi bakteri (sepsis).
- Terapi Obat Resep Intensif: Dokter dapat memberikan kortikosteroid sistemik, imunoglobulin intravena (IVIG), atau imunosupresan berdasarkan pertimbangan klinis.
Studi Terkait
Berdasarkan riset ilmiah medis terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal dermatologi klinis, pemantauan ketat pada fase awal munculnya lesi mukosa dan penentuan kode diagnosis ICD-10 (L51.1) yang tepat dalam 24 jam pertama secara signifikan meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien. Studi tersebut menegaskan bahwa intervensi suportif dini di rumah sakit adalah kunci utama pencegahan komplikasi jangka panjang pada organ mata dan paru-paru.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu atau orang terdekat mengalami ruam kulit mendadak yang melepuh, mata merah dan perih, serta luka pada mulut setelah mengonsumsi obat baru, segera konsultasi dan cari bantuan medis dari Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin atau langsung tuju fasilitas darurat terdekat di Halodoc.
Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.
- ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
- ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
- ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
- ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
- ✅ Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.
- ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
- ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
- ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
- ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada.
- ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
Sering kali, keluhan kesehatan muncul di waktu yang tidak terduga. Jangan tunda untuk konsultasi ke dokter di Halodoc apabila kamu mengalami gejala yang mengganggu. Halodoc menyediakan layanan konsultasi medis online 24 jam bersama dokter terpercaya.
- ✅ Respon Cepat: Dokter siap menjawab pertanyaanmu dalam hitungan menit secara real-time.
- ✅ Privasi Terjamin: Sesi konsultasi berlangsung aman dan rahasia pribadi tetap terjaga.
- ✅ Hemat Waktu dan Biaya: Tidak perlu repot mengantre di rumah sakit atau klinik.
- ✅ Bisa konsultasi gratis via WA: Chat WhatsApp Official Halodoc di untuk mulai konsultasi gratis.
- ✅ Dokter Berlisensi Resmi: Seluruh dokter di Halodoc memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) yang aktif.
Referensi
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD-10): Stevens-Johnson Syndrome L51.1.
PubMed Central. Diakses pada 2026. Early Recognition and Management of Stevens-Johnson Syndrome and Toxic Epidermal Necrolysis.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Reaksi Simpang Obat Berat.
WebMD. Diakses pada 2026. Stevens-Johnson Syndrome: Symptoms, Causes, and Treatments.
FAQ
1. Apa kode ICD 10 untuk Steven Johnson Syndrome?
Kode ICD-10 untuk Steven Johnson Syndrome adalah L51.1. Kode ini digunakan oleh tenaga medis untuk mengklasifikasikan kondisi eritroderma bulosa berat dalam rekam medis.
2. Apakah Steven Johnson Syndrome bisa disembuhkan di rumah?
Tidak, SJS tidak bisa disembuhkan di rumah dengan obat bebas. SJS adalah darurat medis yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit untuk mencegah komplikasi berbahaya.
3. Apa pemicu utama timbulnya Steven Johnson Syndrome?
Pemicu utamanya paling sering adalah reaksi alergi berat terhadap obat-obatan tertentu seperti antibiotik, obat antikejang, atau obat asam urat. Selain itu, infeksi virus juga dapat menjadi pemicunya.
4. Apa bedanya Steven Johnson Syndrome dengan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN)?
Perbedaannya terletak pada luas area kulit yang terkena. SJS melibatkan kurang dari 10 persen luas permukaan tubuh, sedangkan TEN melibatkan lebih dari 30 persen kerusakan kulit.



