• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Menyerang Ginjal, Ini Penyebab Umum Hidronefrosis

Menyerang Ginjal, Ini Penyebab Umum Hidronefrosis

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Menyerang Ginjal, Ini Penyebab Umum Hidronefrosis

Halodoc, Jakarta – Ginjal bekerja untuk menyaring limbah dan racun dalam darah yang kemudian dikeluarkan melalui urine. Pada pengidap hidronefrosis, ginjal mengalami pembengkakan akibat urine gagal mengalir dengan baik dari ginjal ke kandung kemih. Pembengkakan ini menyerang hanya satu ginjal maupun kedua ginjal. Hidronefrosis sendiri penyakit yang timbul akibat dipicu oleh masalah lain. Pada kasus ini, saluran kemih yang mengalami penyumbatan sering menjadi penyebab utamanya. 

Baca Juga: 6 Kebiasaan yang Bisa Merusak Fungsi Ginjal

Normalnya, urine mengalir dari ginjal ke saluran yang mengalirkan ginjal (ureter) untuk dibawa ke kandung kemih sebelum dikeluarkan dari tubuh. Tetapi, terkadang urine bisa kembali atau tertinggal di dalam ginjal atau di ureter. Saat itulah hidronefrosis dapat berkembang. Beberapa penyebab umum hidronefrosis meliputi:

  • Penyumbatan pada saluran kemih. Penyumbatan saluran kemih sering terjadi pada titik yang disebut persimpangan ureteropelvic, yaitu titik bertemunya ginjal dengan ureter. Namun, penyumbatan juga dapat terjadi pada titik pertemuan antara ureter dan kandung kemih yang disebut persimpangan ureterovesical.

  • Refluks Vesikoureteral. Refluks vesicoureteral terjadi ketika urin mengalir mundur melalui ureter dari kandung kemih ke ginjal. Biasanya, urin mengalir hanya satu arah di ureter. Urin yang mengalir dengan cara yang salah membuat ginjal sulit dikosongkan dengan benar dan menyebabkan ginjal membengkak.

Orang yang telah mencapai usia lanjut seringkali rentan terserang berbagai penyakit yang lebih serius. Nah, hidronefrosis bisa disebabkan oleh berbagai penyakit serius, seperti batu ginjal, tumor di perut atau panggul dan masalah saraf yang terkait dengan kandung kemih.

Seperti Apa Gejala Hidronefrosis?

Hidronefrosis yang tergolong ringan biasanya ditandai dengan buang air kecil lebih sering dan keinginan untuk buang air kecil meningkat. Jika kondisinya sudah parah, pengidapnya mungkin mengalami beberapa hal ini:

  • Sakit di perut atau panggul;

  • Mual dan muntah;

  • Rasa sakit saat buang air kecil;

  • Tidak mampu mengosongkan kandung kemih secara total;

  • Demam.

Terganggunya aliran urine juga meningkatkan peluang terjadinya infeksi saluran kemih (ISK). Ini sebabnya mengapa ISK bisa menjadi komplikasi hidronefrosis yang paling umum. Beberapa tanda ISK, yaitu warna urine yang keruh, sakit saat buang air kecil, muncul rasa terbakar saat buang air kecil, lemahnya aliran urine, sakit punggung dan lain lain.

Baca Juga: 5 Tanda Awal Gagal Ginjal yang Perlu Diketahui

Kalau kamu melihat tanda-tanda hidronefrosis, segera jadwalkan janji temu dengan dokter untuk dicari tahu lebih lanjut. Sebelum mengunjungi rumah sakit, buat janji dengan dokter lewat aplikasi Halodoc terlebih dahulu.

Bagaimana Hidronefrosis Diobati?

Perawatan untuk hidronefrosis tergantung pada kondisi yang mendasarinya. Meski banyak kasus hidronefrosis memerlukan pembedahan, hidronefrosis juga punya peluang sembuh dengan sendirinya. Berikut perawatan hidronefrosis berdasarkan seberapa parah kondisinya, yaitu:

  • Hidronefrosis ringan sampai sedang. Dokter biasanya menunggu apakah hidronefrosis dapat sembuh dengan sendirinya. Meski begitu, dokter mungkin merekomendasikan terapi antibiotik preventif untuk menurunkan risiko infeksi saluran kemih.

  • Hidronefrosis berat. Ketika hidronefrosis mengganggu fungsi ginjal, pembedahan mungkin disarankan untuk menghilangkan penyumbatan atau memperbaiki refluks.

Baca Juga: Ini Cara Sederhana untuk Cegah Penyakit Ginjal

Jika tidak diobati, hidronefrosis berat dapat mengakibatkan kerusakan ginjal permanen. Namun dalam kebanyakan kasus, hidronefrosis mudah diobati dan punya peluang sembuh dengan sendirinya. 

Referensi :
Healthline. Diakses pada 2019. Hydronephrosis.
National Kidney Foundation. Diakses pada 2019. Hydronephrosis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Vesicoureteral reflux.