• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Mitos Tentang Cacar Air yang Tidak Perlu Dipercaya

5 Mitos Tentang Cacar Air yang Tidak Perlu Dipercaya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Cacar air merupakan salah satu penyakit yang sering kali dibarengi dengan mitos, selentingan, atau desas-desus ini-itu. Dalam dunia medis, cacar air dikenal dengan istilah Varicella yang disebabkan oleh Varicella zoster. Seseorang yang terinfeksi virus ini akan mengalami ruam kemerahan, berisi cairan yang sangat gatal di seluruh tubuh.

Dalam kebanyakan kasus, cacar air ini memang lebih sering menyerang anak-anak (di bawah 12 tahun). Akan tetapi, orang dewasa juga bisa saja terinfeksi virus ini. Ingat, penyakit ini amat mudah menular dengan cepat. Penularannya bisa melalui percikan ludah atau dahak melalui udara, kontak langsung dengan ludah atau dahak, dan cairan yang berasal dari ruam. 

Kembali ke paragraf awal, apa saja sih desas-desus atau mitos cacar air yang sering kali dipercaya orang-orang? Penasaran? Simak ulasannya di bawah ini. 

Baca juga: Bagaimana Cara Pengobatan di Rumah Guna Mengatasi Cacar Air?

1. Pasti Terserang, Tak Bisa Dicegah

Ada yang percaya kalau tiap orang pasti mengalami cacar air dalam hidupnya. Mitos cacar air yang satu ini masih santer terdengar hingga saat ini. Padahal, faktanya tak seperti itu kok, sebab cacar air bisa dicegah lewat vaksin. 

Vaksinasi ini merupakan langkah yang cukup efektif untuk mencegah penularan cacar air. Vaksinasi dianjurkan untuk anak kecil dan orang dewasa yang belum mendapatkan vaksinasi. Untuk anak kecil, suntik vaksin Varicella pertama dilakukan ketika berusia 12–15 bulan. Selanjutnya, penyuntikan kedua dilakukan ketika anak berusia 2–4 tahun. 

Sedangkan untuk anak yang lebih besar dan orang dewasa, juga perlu mendapatkan dua kali vaksinasi. Rentan perbedaan waktu setidaknya 28 hari. Sementara itu, orang yang pernah mengalami cacar air tak perlu melakukan vaksinasi, sebab sistem imun sudah melindunginya dari virus ini sepanjang hidup.

2. Sekali Seumur Hidup, Virusnya Tak Bisa Aktif Kembali

Kata siapa virus cacar air Varicella Zoster tak bisa menyerang tubuh lagi ketika seseorang telah mengalami cacar air? Inilah mitos cacar air yang tak boleh dipercaya. 

Jangan salah, tak menutup kemungkinan virus ini bisa kembali aktif di masa mendatang. Ketika seseorang sembuh dari cacar air, virus ini menjadi tak aktif. Akan tetapi, virus ini bertahan dalam saraf selama bertahun-tahun. 

Nah, aktifnya kembali virus tersebut saat dewasa disebut dengan penyakit herpes zoster atau cacar api. Hati-hati, penyakit ini memiliki komplikasi yang lebih berat dari cacar air. 

Baca juga: Baca juga: Ini Perbedaan Cacar pada Orang Dewasa dan Anak-Anak

3. Tenang Saja, Enggak Berbahaya

Bagi kamu yang percaya dengan mitos cacar air yang satu ini, rasanya perlu harap-harap cemas. Jangan sekali-kali meremehkan cacar air. Alasannya, komplikasi cacar air rentan dialami oleh lansia, bayi yang baru lahir, dan pengidap gangguan sistem kekebalan tubuh. 

Mau tahu apa saja komplikasinya? Sebut saja dehidrasi, pneumonia (terutama pada pengidap cacar air dewasa yang merokok), radang otak, hingga sepsis infeksi bakteri pada kulit, tulang, sendi, atau aliran darah. Tuh, seram kan? 

4. Enggak Boleh Mandi

“Jangan mandi, nanti cacar airnya semakin parah!” Kalimat tersebut hanyalah mitos cacar air yang tak perlu dipercaya. Bagaimana faktanya? Ternyata, para dokter justru merekomendasikan pasien cacar air untuk mandi. Alasannya jelas, agar kebersihan tubuh tetap terjaga, sehingga meminimalkan risiko dari infeksi lainnya. Tak hanya itu saja, mandi juga bisa mengurangi rasa gatal pada beberapa pasien cacar air. 

Akan tetapi, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Untuk kasus cacar air pada bayi atau anak-anak, mandikan dirinya dengan air hangat (suam-suam kuku). Kemudian, bersihkanlah tubuhnya dengan sabun berbahan lembut dan bilas hingga bersih. 

Untuk pasien dewasa, gosoklah kulit secara pelan dan perlahan agar lenting cacar air tidak pecah. Setelah mandi, keringkan tubuh agar tidak lembap. Keringkan tubuh dengan handuk berbahan lembut dengan perlahan. 

Baca juga: Penyebab dan Kiat Atasi Cacar Air pada Anak

5. Lukanya Permanen

Mitos cacar air selanjutnya berkaitan dengan luka yang ditimbulkan. Banyak yang percaya kalau luka yang disebabkan cacar air akan membekas selamanya, alias permanen. Jangan resah, itu cuma mitos belaka kok. Perkembangan dunia medis makin canggih dari waktu ke waktu. Saat ini ada berbagai metode untuk merawat wajah setelah terserang cacar air. 

Salah satu contohnya chemical peel. Chemical peel merupakan proses pengelupasan kulit dengan mengoleskan bahan kimia yang dapat menghancurkan lapisan terluar kulit. Tujuannya untuk mempercepat proses regenerasi. 

Metode ini biasanya dilakukan untuk menyembuhkan bopeng dengan kedalaman yang dangkal. Ada beragam asam yang bisa digunakan dalam metode ini. Misalnya, asam glikolat, asam salisilat, atau asam piruvat. 

Selain itu ada pula terapi laser. Namun, biasanya dokter hanya menganjurkan terapi laser pada mereka yang memiliki bopeng jenis boxcar dan rolling. Bopeng jenis boxcar ini merupakan bopeng yang lebarnya 1.5–4 milimeter dengan kedalaman kurang atau lebih dari 0.5 milimeter. Sedangkan bopeng rolling memiliki diameter dengan lebar hingga 5 milimeter.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter ahli melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Chickenpox. 
Webmd. Diakses pada 2020. What is Chickenpox?
Baby Center UK. Diakses pada 2020. Chickenpox.  
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Shingles.
Healthline. Diakses pada 2020. What Treatments Fade or Remove Chickenpox Scars?
Medical News Today. Diakses pada 2020. Best treatments for chickenpox scar removal.