Ad Placeholder Image

Pentingnya Proses Mastikasi untuk Kesehatan Pencernaan Optimal

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 19 Agustus 2026

Pentingnya Teknik Mastikasi yang Benar untuk Menjaga Kesehatan Pencernaan Secara Optimal

Pentingnya Proses Mastikasi untuk Kesehatan Pencernaan OptimalPentingnya Proses Mastikasi untuk Kesehatan Pencernaan Optimal

DAFTAR ISI


Proses pencernaan manusia tidak dimulai di dalam lambung, melainkan sejak makanan pertama kali masuk ke dalam mulut. Salah satu tahap paling krusial dalam mekanisme ini adalah mastikasi. Mastikasi adalah proses mengunyah makanan yang melibatkan kerja sama antara gigi, lidah, pipi, serta otot-otot rahang untuk memecah makanan menjadi bagian-bagian kecil yang siap ditelan.

Meskipun sering dianggap sebagai aktivitas sederhana yang terjadi secara otomatis, mastikasi memiliki dampak yang sangat besar bagi kesehatan saluran cerna secara keseluruhan. Mengunyah makanan dengan benar tidak hanya mempermudah proses penelanan, tetapi juga memicu pelepasan enzim pencernaan awal yang mengoptimalkan penyerapan nutrisi oleh tubuh.

Sayangnya, gaya hidup modern yang serba cepat membuat banyak orang terbiasa makan terburu-buru tanpa mengunyah makanan hingga halus. Padahal, kebiasaan buruk ini dapat memicu berbagai gangguan pencernaan, mulai dari perut kembung, begah, hingga gejala asam lambung naik. Jika kamu mengalami masalah pencernaan akibat kebiasaan makan, kamu bisa melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja.

Fungsi dan Proses Mastikasi bagi Kesehatan Pencernaan

Secara fisiologis, mastikasi berfungsi sebagai tahap pencernaan mekanis pertama dalam tubuh. Saat kamu mengunyah, terjadi beberapa proses penting yang mendukung sistem pencernaan:

  • Pemecahan Fisik Makanan: Gigi memotong dan menggiling makanan menjadi gumpalan kecil (bolus), sehingga memperluas permukaan makanan yang akan terpapar asam dan enzim pencernaan di lambung.
  • Pencampuran Air Liur (Saliva): Kelenjar ludah memproduksi saliva yang mengandung enzim amilase. Enzim ini bertugas memecah karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana sejak di dalam mulut.
  • Sinyal Saraf ke Organ Pencernaan: Aktivitas mengunyah merangsang sistem saraf untuk memberi tahu lambung dan pankreas agar bersiap mengeluarkan asam lambung dan enzim pencernaan tambahan.
  • Mengontrol Porsi Makan: Proses mengunyah yang perlahan memberi waktu bagi otak untuk menerima sinyal kenyang dari hormon gastrointestinal, sehingga membantu mengontrol nafsu makan.

Dampak Mengunyah Makanan Terlalu Cepat

Kurangnya mastikasi atau mengunyah terburu-buru dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan. Makanan yang ditelan dalam ukuran terlalu besar akan memaksa lambung bekerja ekstra keras untuk memecahnya. Hal ini dapat memicu produksi asam lambung berlebih, rasa penuh, kembung, hingga sensasi terbakar di dada (heartburn).

Selain itu, potongan makanan yang terlalu besar dapat menyebabkan kantung pencernaan melambat dalam mengosongkan isinya, sehingga memicu fermentasi bakteri di usus yang menghasilkan gas berlebih. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga berisiko mengganggu penyerapan vitamin dan mineral penting bagi tubuh.

Tips Melakukan Mastikasi yang Benar

Agar pencernaan tetap optimal, penting untuk mempraktikkan kebiasaan mengunyah makanan dengan benar setiap hari. Berikut adalah beberapa langkah sederhana yang bisa kamu terapkan:

  • Kunyah 20–30 Kali: Idealnya, kunyah setiap suapan makanan sekitar 20 hingga 30 kali hingga teksturnya benar-benar halus sebelum ditelan.
  • Ambil Suapan Kecil: Hindari memasukkan makanan dalam jumlah besar sekaligus ke dalam mulut agar otot rahang dan gigi bekerja maksimal.
  • Fokus Saat Makan: Matikan televisi atau gawai saat makan untuk menerapkan kebiasaan makan secara sadar (mindful eating) agar lebih memperhatikan kecepatan mengunyah.
  • Minum Air Secukupnya: Hindari meneguk terlalu banyak air di sela-sela mengunyah karena dapat mengencerkan enzim pencernaan alami di dalam mulut.

Bila kamu membutuhkan produk kesehatan pencernaan atau suplemen pendukung, kamu dapat beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.

Studi Terkait

Berdasarkan riset ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal medis pencernaan terbaru (2026), efisiensi mastikasi terbukti memiliki korelasi langsung dengan sekresi hormon kenyang seperti GLP-1 dan PYY. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengunyah makanan setidaknya 30 kali per suapan mengalami tingkat kenyang yang lebih tinggi dan respon glukosa darah pascamakan yang lebih stabil dibandingkan mereka yang mengunyah kurang dari 10 kali.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika gejalamu tidak membaik dalam 2–3 hari atau semakin parah, segera konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Halodoc.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
  • ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • ✅ Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan. 
  • ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc  (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada. 
  • ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.

Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?

Konsultasi kesehatan kini lebih mudah dan cepat melalui Halodoc. Berikut alasan mengapa kamu harus konsultasi ke dokter Halodoc:

  • ✅ Dokter berpengalaman: Terhubung dengan dokter spesialis dan dokter umum berlisensi resmi.
  • ✅ Respon cepat: Konsultasi kapan saja dan di mana saja, tersedia 24 jam nonstop.
  • ✅ Layanan lengkap: Dapatkan diagnosis, saran medis, hingga resep obat langsung setelah konsultasi.

Referensi

PubMed. Diakses pada 2026. Mastication Efficiency and Satiety Hormone Regulation: A Systematic Review.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Healthy Eating and Digestive Health Guidelines.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Pentingnya Menjaga Kesehatan Sistem Pencernaan dan Pola Makan Sehat.
WebMD. Diakses pada 2026. How Chewing Your Food Affects Digestion and Weight Loss.

FAQ

Berapa kali idealnya mengunyah makanan sebelum ditelan?

Secara umum, idealnya makanan dikunyah sekitar 20 hingga 30 kali sebelum ditelan. Namun, jumlah ini bergantung pada tekstur makanan, di mana makanan lunak membutuhkan lebih sedikit kunyahan sedangkan makanan keras berserat membutuhkan lebih banyak.

Apa akibatnya jika sering menelan makanan tanpa dikunyah halus?

Sering menelan makanan yang kurang halus dapat memicu masalah pencernaan seperti kembung, begah, dan gejala asam lambung naik. Selain itu, penyerapan nutrisi menjadi kurang maksimal karena enzim sulit memecah partikel makanan yang terlalu besar.

Apakah mastikasi dapat membantu menurunkan berat badan?

Ya, mengunyah makanan lebih perlahan memberi waktu bagi otak untuk menerima sinyal kenyang dari usus. Hal ini membantu mencegah konsumsi kalori berlebihan saat makan sehingga mendukung program pengelolaan berat badan.

Apakah otot rahang bisa lelah jika mengunyah terlalu lama?

Otot mastikasi seperti otot masseter bisa mengalami kelelahan jika kamu mengunyah makanan yang sangat keras atau mengunyah permen karet secara berlebihan. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa pegal pada rahang atau memicu nyeri sendi temporomandibular (TMJ).