Ad Placeholder Image

Penyakit Lupus Bisa Menyerang Anak, Ini Cara Mencegahnya

5 menit
Ditinjau oleh  dr. Erlin SpA   01 April 2026

Lupus anak adalah kondisi autoimun kronis yang memicu peradangan organ dan memerlukan manajemen pemicu sinar UV.

Penyakit Lupus Bisa Menyerang Anak, Ini Cara MencegahnyaPenyakit Lupus Bisa Menyerang Anak, Ini Cara Mencegahnya

DAFTAR ISI


Ibu, pernahkah mendengar bahwa penyakit lupus bisa menyerang anak? Mengutip laman Lupus Foundation of America, lupus adalah penyakit autoimun jangka panjang yang dapat menyebabkan peradangan dan nyeri di berbagai bagian tubuh.

Penyakit ini membuat sistem kekebalan menyerang jaringan sehat dan menyebabkan kerusakan organ. Lupus dapat memengaruhi anak-anak dengan cara yang berbeda.

Pada beberapa orang lupus bisa menimbulkan gejala ringan, tetapi pada beberapa orang lain bisa parah dan mengancam jiwa. Yuk, simak cara mencegah penyakit lupus pada anak dalam pembahasan berikut!

Bisakah Mencegah Penyakit Lupus pada Anak?

Pada anak-anak, lupus paling sering menyerang kulit, persendian, dan organ dalam utama, seperti ginjal, hati, otak, jantung, atau paru-paru. Lupus cenderung lebih agresif dan parah pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa.

Orang yang didiagnosis pada masa kanak-kanak juga lebih mungkin memiliki tingkat kerusakan organ yang lebih tinggi daripada orang yang didiagnosis saat usia dewasa.

Penyebab pasti dari penyakit lupus tidak diketahui. Penyakit ini umumnya dipicu oleh faktor genetik, yang membuat sistem kekebalan tubuh seseorang terlalu aktif. Namun, tidak semua orang yang memiliki kecenderungan genetik seperti itu mengalami penyakit lupus. Jadi, ini juga bisa dibilang bukan faktor penyebab utama.

Karena penyebab penyakit lupus tidak sepenuhnya dipahami, bisa dibilang tidak ada cara untuk mencegah penyakit ini. Namun, ibu dapat mengelola penyakit dan menghindari hal-hal yang memicu gejala penyakit ini pada anak.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan cara untuk menghindari kambuhnya lupus pada anak meliputi:

  • Menghindari paparan sinar matahari. Mengenakan tabir surya dan pakaian pelindung saat anak pergi ke luar dapat membantu melindungi kulit.
  • Tidur atau istirahat yang cukup, sebaiknya tujuh sampai sembilan jam setiap malamnya.
  • Minum obat yang diresepkan dokter sesuai dosis yang ditentukan.

Gejala Lupus Pada Anak

Pada kebanyakan kasus, anak-anak dengan penyakit lupus mengembangkan kondisi ini selama masa remaja mereka. Penyakit ini paling sering terjadi ketika anak melewati masa pubertas (rata-rata sekitar usia 12 tahun).

Ini bisa jadi karena kemungkinan hubungan antara lupus dan hormon reproduksi yang meningkat dalam tubuh di usia remaja. Gejala penyakit lupus pun cukup bervariasi. Anak-anak dengan penyakit mungkin mengalami gejala seperti:

  • Ruam merah di pipi dan pangkal hidung. Ini terjadi pada sekitar sepertiga dari kasus lupus pada anak.
  • Ruam berbentuk cakram (discoid lupus) dengan bercak menonjol. Mungkin juga ada jaringan parut dari gejala sebelumnya pada kulit.
  • Ruam kulit akibat paparan sinar matahari.
  • Peradangan dan nyeri pada dua atau lebih sendi, umumnya pada jari tangan dan kaki.
  • Penumpukan cairan di sekitar jantung atau paru-paru.
  • Masalah ginjal.
  • Kejang.
  • Sel darah merah rendah ( anemia ), ditandai dengan jumlah trombosit atau sel darah putih. Hal ini baru bisa diketahui pasti dari pemeriksaan.

Anak-anak dengan lupus juga akan memiliki hasil antibodi abnormal dan pembacaan tinggi untuk antibodi antinuklear (ANA) yang dapat menjadi tanda penyakit autoimun. Hal ini juga baru bisa diketahui dari hasil pemeriksaan di rumah sakit. 

Mengapa Lupus Disebut Penyakit Seribu Wajah?

Istilah “penyakit seribu wajah” melekat pada lupus karena manifestasi klinisnya yang sangat beragam antar individu. Pada satu pasien, gejala mungkin hanya muncul pada kulit, sementara pada pasien lain dapat menyerang fungsi ginjal atau jantung secara mendadak.

Variasi ini seringkali membuat diagnosis awal menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga medis. Karakteristik unik ini menyebabkan lupus sering disalahpahami sebagai infeksi kulit biasa, rematik, atau gangguan kelelahan kronis.

Gejala dapat muncul secara perlahan atau datang secara tiba-tiba dengan intensitas yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium yang spesifik sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis secara akurat.

Ketidakteraturan munculnya gejala juga berkaitan dengan masa flare dan remisi. Masa flare adalah periode di mana gejala memburuk secara signifikan, sedangkan remisi adalah fase di mana gejala mereda atau menghilang.

Pemahaman terhadap pola ini membantu orang tua dalam mengidentifikasi kapan anak memerlukan intervensi medis segera.

Punya pertanyaan mendalam mengenai kondisi ini? Berikut Ini Rekomendasi Dokter Spesialis Anak di Halodoc yang bisa dihubungi.

Penyebab dan Faktor Risiko Lupus

Hingga saat ini, penyebab pasti mengapa seseorang mengembangkan lupus belum diketahui secara sepenuhnya. Namun, para ahli sepakat bahwa kombinasi antara faktor genetik, lingkungan, dan hormon memainkan peran penting.

Anak dengan riwayat keluarga penderita penyakit autoimun memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena kondisi ini. Faktor lingkungan seperti paparan sinar ultraviolet, infeksi virus tertentu, serta penggunaan obat-obatan tertentu dapat memicu munculnya gejala.

Selain itu, faktor hormonal juga berpengaruh, terlihat dari data bahwa lupus lebih sering menyerang wanita dibandingkan pria. Pada anak-anak, masa pubertas seringkali menjadi periode di mana risiko munculnya gejala meningkat.

Interaksi kompleks antara pemicu lingkungan dan kerentanan genetik menyebabkan sistem imun memproduksi autoantibodi. Autoantibodi inilah yang secara keliru menargetkan inti sel tubuh sendiri. Penelitian terus dilakukan untuk memahami mekanisme molekuler di balik aktivitas sistem imun yang abnormal ini.

Simak lebih lanjut mengenai Kesehatan Anak – Tips dan Informasi Lengkapnya agar ibu senantiasa bisa menjaga kondisi Si Kecil.

Metode Pengobatan dan Pengendalian Kondisi Flare

Meskipun belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan lupus secara total, kemajuan medis memungkinkan penderita hidup secara produktif. Fokus utama pengobatan adalah mengendalikan gejala, mengurangi peradangan, dan mencegah terjadinya flare.

Penggunaan obat-obatan seperti antiinflamasi non-steroid (NSAID) sering digunakan untuk mengatasi nyeri sendi. Untuk menekan aktivitas sistem imun yang berlebihan, dokter sering meresepkan obat antimalaria (seperti hydroxychloroquine) dan kortikosteroid.

Pada kasus yang lebih berat atau saat organ vital terlibat, penggunaan agen imunosupresan atau terapi biologis mungkin diperlukan. Semua pengobatan harus di bawah pengawasan ketat dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi anak.

Manajemen gaya hidup juga memegang peranan vital dalam pengendalian penyakit. Anak disarankan untuk menggunakan pelindung matahari, menjaga pola makan bergizi seimbang, dan mengatur waktu istirahat secara disiplin.

Menghindari stres fisik dan emosional secara efektif dapat membantu memperpanjang masa remisi bagi anak.

Itulah penjelasan seputar lupus pada anak yang perlu orang tua ketahui. Jika kamu punya pertanyaan lain terkait kondisi ini, hubungi dokter spesialis anak di Halodoc saja!

Mereka bisa memberikan informasi dan saran perawatan yang tepat sekaligus meresepkan obat.

Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:

CD
Referensi:
Lupus Foundation of America. Diakses pada 2026. Lupus and Children.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) in Children.

FAQ

1. Apa itu lupus?

Lupus adalah penyakit autoimun di mana kekebalan tubuh menyerang organ sendiri secara tidak sengaja.

2. Apakah lupus pada anak bisa disembuhkan?

Belum ada obat untuk kesembuhan total, namun gejala dapat dikendalikan dengan pengobatan medis yang tepat.

3. Apa gejala khas lupus?

Ruam merah berbentuk kupu-kupu di wajah, nyeri sendi, dan kelelahan ekstrem.

4. Siapa dokter yang menangani lupus?

Dokter spesialis penyakit dalam atau spesialis anak konsultan reumatologi.