• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Polihidramnion atau Air Ketuban Berlebih, Berbahayakah?

Polihidramnion atau Air Ketuban Berlebih, Berbahayakah?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Ketika ibu sedang hamil, terdapat kantung yang berisi cairan ketuban di dalam rahim ibu. Cairan tanpa warna ini mempunyai fungsi penting untuk perkembangan organ-organ vital Si Kecil. Selain itu, cairan ketuban mampu melindungi bayi dari benturan maupun infeksi dan membuat bayi tersebut merasa nyaman karena membuatnya tetap hangat.

Air ketuban melindungi janin ketika berusia 12 hari setelah pembuahan dilakukan. Air ketuban dapat bertambah sejalan dengan usia kandungan hingga 28-32 minggu, lalu cairan tersebut tidak bertambah lagi pada minggu ke-37 sampai 40. Jika terjadi kondisi berlebihnya cairan ketuban, maka disebut polihidramnion. Lantas, apa bahayanya?

Baca juga: Ibu Hamil Ngidam Makan Durian, Bolehkah?

Bahaya dari Polihidramnion

Cairan ketuban tidak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit, takarannya harus pas. Hal tersebut karena cairan yang terlalu banyak atau sedikit memengaruhi kehamilan pada janin ibu. Kondisi air ketuban yang terlalu sedikit dapat disebut oligohidramnion. Sedangkan, kondisi air ketuban yang terlalu banyak disebut polihidramnion.

Pada kasus yang ringan, mungkin ibu tidak merasakan gejala dari polihidramnion. Namun, pada kasus yang terbilang parah, ibu dapat merasakan hal seperti napas terasa berat ketika beristirahat, bengkak pada perut, kaki, atau pergelangan kaki. Selain itu, gejala lainnya dari polihidramnion yaitu sakit punggung, urine yang keluar dari tubuh berkurang, rahim membesar, dan sulit merasakan gerakan dari janin.

Melansir dari Mayo Clinic, ibu yang mengidap polihidramnion menyebabkan kelahiran prematur, masalah pada tali pusar janin, perdarahan hebat pada ibu setelah melahirkan, hingga kematian bayi. Selain itu, ibu dapat mengalami tekanan darah tinggi, infeksi saluran kemih, ketuban pecah terlalu dini, dan operasi caesar.

Baca juga: Ketahui Ciri-ciri Air Ketuban Pecah

Penyebab Polihidramnion

Setelah mengetahui bahaya dari air ketuban berlebih, kamu harus tahu penyebab dari polihidramnion. Walau begitu, para peneliti belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang mengalami polihidramnion. Belum ditemui cara untuk mencegah agar ibu hamil tidak mengalami kondisi tersebut.

Dikutip dari National Health Services, ada beberapa hal yang memicu air ketuban terlalu banyak, yaitu:

  1. Kelainan Genetik

Kelainan genetik juga dapat menyebabkan terjadinya polihidramnion. Bayi dengan volume air ketuban yang banyak memiliki kecenderungan untuk mengalami kelainan genetik seperti sindrom Down.

  1. Ibu Hamil Mengidap Diabetes

Polihidramnion dapat disebabkan oleh ibu hamil yang mengidap diabetes. Menurut data, sekitar 10 persen ibu yang hamil dengan diabetes kemungkinan mengidap air ketuban berlebih, khususnya pada trimester ketiga.

  1. Anemia

Polihidramnion dapat menjadi tanda apabila bayi yang berada di dalam kandungan mengalami anemia yang cukup parah. Hal tersebut disebabkan oleh inkompatibilitas atau tidak cocoknya rhesus dan disebabkan infeksi. Keduanya dapat diatasi dengan melakukan transfusi darah. Walau begitu, kasus ini terbilang sangat jarang.

Baca juga: Ini Kiat Menjaga Kecukupan Air Ketuban

Itulah informasi mengenai polihidramnion yang perlu ibu ketahui. Jika kamu masih mempunyai pertanyaan tentang kelainan air ketuban berlebih tersebut, dokter dari Halodoc dapat membantu. Ibu dapat menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja.

 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Polyhydramnios.
National Health Services. Diakses pada 2020. Polyhydramnios (too much amniotic fluid).