Pubalgia, Ini Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya
Pubalgia terjadi akibat gangguan pada jaringan otot, tendon, atau ligamen di sekitar tulang pubis.

DAFTAR ISI
- Ketahui Penyebab Pubalgia
- Faktor Risiko Pubalgia
- Kenali Gejala Pubalgia
- Diagnosis Pubalgia
- Pengobatan Pubalgia
- Komplikasi Pubalgia
- Cara Mencegah Pubalgia
- Kapan Harus ke Dokter?
Pubalgia adalah salah satu cedera yang kerap dialami oleh atlet maupun individu yang aktif bergerak, tetapi seringkali tidak disadari sejak awal.
Jika tidak ditangani dengan tepat, pubalgia dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan performa olahraga, bahkan berkembang menjadi nyeri kronis jangka panjang.
Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk memahami penyebab, faktor risiko, gejala, hingga cara pengobatannya.
Ketahui Penyebab Pubalgia
Pubalgia terjadi akibat gangguan pada jaringan otot, tendon, atau ligamen di sekitar tulang pubis.
Area ini merupakan titik pertemuan antara otot perut bagian bawah dengan otot paha bagian dalam (adductor). Kedua kelompok otot tersebut bekerja berlawanan arah sehingga rentan mengalami tekanan berlebih.
Secara umum, terdapat dua mekanisme utama yang berperan dalam terjadinya pubalgia:
- Cedera mikro berulang pada otot dan tendon
Gerakan eksplosif seperti sprint, menendang, atau memutar tubuh secara tiba-tiba dapat menimbulkan tarikan berulang antara otot perut bagian bawah dan otot paha dalam.
Tarikan ini menyebabkan robekan kecil berulang yang lambat laun memicu peradangan dan nyeri kronis.
Nah, ini dia 5 Jenis Cedera yang Bisa Disembuhkan dengan Terapi.
- Kelemahan dinding inguinal
Cedera yang terjadi berulang dapat melemahkan struktur penyangga di area selangkangan, terutama dinding posterior inguinal.
Meski tidak sampai membentuk hernia yang nyata, kelemahan ini cukup untuk menimbulkan rasa nyeri saat beraktivitas.
Faktor Risiko Pubalgia
Pubalgia memang dapat dialami siapa saja, tetapi risikonya lebih tinggi pada kelompok tertentu.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko pubalgia antara lain:
- Olahraga dengan gerakan cepat dan perubahan arah mendadak, seperti sepak bola, futsal, rugby, hoki, dan atletik
- Latihan intensitas tinggi tanpa waktu pemulihan yang cukup
- Ketidakseimbangan kekuatan antara otot inti dan otot paha bagian dalam
- Fleksibilitas pinggul yang terbatas
- Postur panggul yang kurang ideal, seperti anterior pelvic tilt
- Riwayat cedera selangkangan sebelumnya
Risiko pubalgia juga bisa meningkat jika kamu mengabaikan nyeri ringan yang muncul saat berolahraga dan tetap memaksakan aktivitas.
Alami nyeri otot? Jangan khawatir, Ini 5 Pilihan Obat Nyeri Otot dan Sendi yang Ampuh di Apotek.
Kenali Gejala Pubalgia
Gejala pubalgia sering berkembang secara perlahan dan kerap disalahartikan sebagai cedera otot biasa.
Padahal, karakter nyerinya memiliki ciri khas tersendiri, seperti:
- Nyeri tumpul atau tajam di area selangkangan dan perut bagian bawah
- Nyeri muncul atau memburuk saat berlari cepat, menendang, sit-up, atau gerakan memutar
- Nyeri dapat menjalar ke paha bagian dalam, perineum, hingga area genital
- Keluhan membaik saat istirahat, tetapi kambuh kembali saat aktivitas dilanjutkan
- Rasa tertarik atau sensasi seperti robek pada awal cedera
Karena gejalanya mirip dengan kondisi lain seperti adductor strain atau radang tulang pubis, pubalgia sering terlewatkan jika tidak diperiksa secara menyeluruh.
Baca juga: Ini Cara Mudah Meredakan Nyeri Otot di Rumah.
Diagnosis Pubalgia
Diagnosis pubalgia memerlukan evaluasi medis yang teliti. Dokter akan memulai dengan wawancara medis terkait aktivitas, riwayat olahraga, serta pola nyeri yang kamu rasakan.
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menilai lokasi nyeri, kekuatan otot, dan respons terhadap gerakan tertentu.
Untuk memastikan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, dokter bisa merekomendasikan pemeriksaan penunjang, seperti:
- USG dinamis, untuk menilai kondisi jaringan lunak
- MRI, untuk melihat detail otot, tendon, dan struktur pelvis
- X-ray, bila dicurigai adanya gangguan tulang.
Pengobatan Pubalgia
Pengobatan pubalgia sangat bergantung pada tingkat keparahan dan durasi keluhan.
Pada sebagian besar kasus, penanganan dimulai dengan terapi konservatif, antara lain:
- Istirahat dari aktivitas berat yang memicu nyeri
- Pemberian obat pereda nyeri dan antiinflamasi sesuai anjuran dokter
- Fisioterapi untuk memperkuat otot inti dan penstabil panggul
- Latihan peregangan untuk meningkatkan fleksibilitas pinggul
Jika terapi konservatif tidak memberikan perbaikan setelah beberapa bulan, dokter dapat mempertimbangkan tindakan lanjutan, seperti suntikan terapi atau prosedur bedah minimal invasif.
Operasi biasanya menjadi pilihan terakhir dan hanya dilakukan pada kasus tertentu.
Komplikasi Pubalgia
Pubalgia yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti:
- Nyeri selangkangan kronis
- Penurunan performa olahraga
- Pembatasan aktivitas fisik jangka panjang
- Risiko cedera berulang yang lebih berat
Selain itu, kondisi ini juga dapat memengaruhi kualitas hidup karena nyeri yang terus-menerus.
Cara Mencegah Pubalgia
Pencegahan pubalgia sangat penting, terutama jika kamu aktif berolahraga.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan meliputi:
- Melakukan pemanasan dan pendinginan dengan benar
- Menguatkan otot inti dan otot panggul secara rutin
- Menjaga fleksibilitas pinggul dan paha dalam
- Mengatur beban latihan agar tidak berlebihan
- Memberikan waktu pemulihan yang cukup bagi tubuh
- Segera memeriksakan diri jika muncul nyeri selangkangan ringan
Pencegahan yang konsisten dapat mengurangi risiko cedera dan menjaga fungsi gerak tetap optimal.
Kapan Harus ke Dokter?
Kamu sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami nyeri selangkangan yang tak kunjung membaik, terutama bila nyeri muncul kembali setiap kali beraktivitas atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penanganan dini dapat mencegah pubalgia berkembang menjadi kondisi kronis yang lebih sulit diobati.
Jika kamu masih ragu atau ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter melalui Halodoc.
Dengan Halodoc, kamu dapat bertanya seputar gejala, pemeriksaan yang dibutuhkan, hingga pilihan terapi yang sesuai dengan kondisi kamu.
Tunggu apa lagi? Yuk, gunakan Halodoc sekarang juga!


