• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pusing usai Gempa, Ini yang Dimaksud dengan Earthquake Sickness

Pusing usai Gempa, Ini yang Dimaksud dengan Earthquake Sickness

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Gempa bumi merupakan jenis bencana alam. Guncangan biasanya akan muncul sebagai tanda, di mana kuatnya guncangan tergantung pada jenis gempa dan kekuatannya. Hal itu yang kemudian menyebabkan orang yang mengalami gempa mungkin dampak dari guncangan, termasuk di antaranya pusing, mual, hingga muntah. 

Hal ini sebenarnya wajar terjadi usai gempa karena merupakan respon alami tubuh yang terguncang. Kondisi pusing dan mual muntah usai gempa merupakan tanda seseorang mengalami earthquake sickness. Apa itu? Simak pembahasannya di bawah ini! 

Baca juga: Kena Gempa, Ini Cara Atasi Traumanya

Mengenal Earthquake Sickness dan Gejalanya

Saat gempa bumi terjadi, muncul guncangan yang bisa membuat manusia maupun benda-benda lain ikut terguncang. Tak hanya selama gempa bumi berlangsung, biasanya beberapa detik hingga menit, efek dari guncangan juga bisa bertahan setelahnya. 

Gejala pusing, mual, muntah, serta panik setelah serangan gempa bumi disebut dengan istilah “earthquake sickness”. Umumnya, gejala ini akan muncul pada orang yang baru mengalami gempa bumi besar atau berulang. 

Sebab, semakin besar guncangan yang terjadi katanya akan semakin meningkatkan peluang munculnya efek samping setelah gempa bumi. Hingga kini, masih belum diketahui pasti apa yang menyebabkan munculnya rasa pusing setelah gempa bumi. Kendati begitu, pusing dan mual muntah setelah gempa bumi biasanya akan hilang dan mereda setelah beberapa saat. 

Gejala pusing dan mual muntah setelah gempa bumi sering dikaitkan dengan kemungkinan gangguan pada psikologis. Rasa takut dan panik alias shock saat gempa bumi terjadi disebut menjadi pemicu gejala tersebut. 

Baca juga: 5 Jenis Penyakit yang Termasuk Gangguan Kontrol Impuls

Selain itu, gempa bumi besar atau yang terjadi secara berulang bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan keseimbangan. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, gangguan tersebut bisa menyebabkan kondisi mental menjadi semakin buruk, bahkan bisa berkembang menjadi gangguan tertentu, misalnya paranoid. 

Pernah mengalami atau merasakan guncangan gempa bumi bisa jadi membuat seseorang terlalu “parno” atau selalu merasa ada gempa sekalipun tidak ada gempa. Kondisi tersebut dinamakan dengan istilah phantom quakes. Berbeda dengan earthquake sickness yang muncul setelah gempa bumi, phantom quakes bahkan bisa terjadi sekalipun tidak ada gempa sama sekali. Kondisi ini cukup sering ditemui di daerah-daerah yang rawan gempa bumi. 

Orang yang mengalami phantom quakes bisa tiba-tiba merasa tempat duduk atau tempat tidurnya berguncang hebat dan meyakini bahwa hal tersebut terjadi karena ada gempa bumi. Namun, saat bertanya atau mencari informasi tentang gempa bumi, hasilnya nihil. Dengan kata lain, phantom quake menyebabkan seseorang mengalami “earthquake sickness” sekalipun tidak ada gempa bumi yang terjadi. 

Jika kondisi ini semakin memburuk dan mulai mengganggu, sebaiknya jangan disepelekan. Tekanan terus-menerus pada pikiran, yaitu menganggap tengah terjadi gempa bumi, bisa meningkatkan risiko stres, bahkan depresi. Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin orang yang mengalami kondisi ini akan mengembangkan gangguan mental tertentu. 

Baca juga: Awas, Overthinking Bisa Sebabkan 5 Gangguan Kesehatan Ini

Jika butuh saran psikolog atau psikiater, kamu bisa pakai aplikasi Halodoc. Aplikasi ini juga bisa digunakan untuk mencari tahu lebih lanjut seputar earthquake sickness, phantom quake, atau masalah mental lainnya. Psikolog dan psikiater bisa dihubungi kapan dan di mana saja melalui Video/Voice Call dan Chat. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Kansas. Diakses pada 2020. Do you feel earthquakes now even when there is no earthquake?
NCBI. Diakses pada 2020. Disturbances in equilibrium function after major earthquake.
CDC. Diakses pada 2020. Taking Care of Your Emotional Health.