Advertisement

Rahim Copot Jadi Risiko Bersalin secara Tradisional, Ini Faktanya

4 menit
Ditinjau oleh  dr. Enrico Hervianto SpOG   03 Desember 2025

Secara medis, kondisi rahim keluar atau terbalik dikenal sebagai inversio uteri.

Rahim Copot Jadi Risiko Bersalin secara Tradisional, Ini FaktanyaRahim Copot Jadi Risiko Bersalin secara Tradisional, Ini Faktanya

DAFTAR ISI

  1. Kronologi Rahim Copot, Kok Bisa?
  2. Penyebab Rahim Keluar dari Kemaluan
  3. Apa Ciri-ciri Rahim Turun?
  4. Berapa Lama Rahim Rusak Kembali Semula?
  5. Waspadai Tanda Rahim Rusak

Kasus “rahim copot” yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial membuat banyak orang terkejut dan khawatir, terutama ibu hamil dan keluarga. 

Kondisi ini dikaitkan dengan proses persalinan yang dilakukan secara tradisional tanpa tenaga kesehatan terlatih. 

Meski terdengar ekstrem, kejadian ini bukan sekadar rumor dan memiliki penjelasan medis yang jelas. Yuk, simak faktanya di sini!

Kronologi Rahim Copot, Kok Bisa?

Kronologi kasus “rahim copot” yang ramai dibicarakan berawal dari cerita dokter Gia Pratama dalam sebuah podcast yang diunggah oleh kanal YouTube Raditya Dika. 

Dalam ceritanya, seorang pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi gawat darurat dengan membawa kantong plastik hitam (kresek).

Awalnya, pihak rumah sakit tidak mengetahui isi kantong tersebut. Namun setelah diperiksa, kantong itu diduga berisi jaringan rahim yang terlepas dari tubuh ibu setelah persalinan. Kejadian ini bukan terjadi secara alami, melainkan diduga kuat akibat tindakan persalinan oleh dukun beranak.

Dalam kronologi yang diceritakan, ibu tersebut melahirkan secara tradisional. Setelah bayi lahir, plasenta (ari-ari) tidak segera keluar. Alih-alih menunggu atau merujuk ke fasilitas kesehatan, penolong menarik plasenta dengan tenaga penuh tanpa teknik medis yang benar.

Akibatnya, bukan hanya plasenta yang tertarik, tetapi rahim ikut terbalik dan akhirnya terlepas keluar melalui vagina. Dalam kondisi darurat dan panik, jaringan rahim tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik dan dibawa ke rumah sakit. 

Sayangnya, pada kasus seperti ini, rahim sudah tidak dapat dipasang kembali.

Kronologi ini menjadi contoh ekstrem betapa berbahayanya proses persalinan tanpa tenaga kesehatan terlatih.

Baca juga: Ciri-Ciri Hamil? Kenali Tanda Awal Kehamilan!

Penyebab Rahim Keluar dari Kemaluan

Secara medis, kondisi rahim keluar atau terbalik dikenal sebagai inversio uteri. Ini adalah keadaan darurat obstetri yang dapat mengancam nyawa ibu.

Beberapa penyebab utama rahim keluar dari kemaluan antara lain:

  • Tarikan paksa pada plasenta sebelum rahim berkontraksi dengan baik
  • Proses persalinan yang tidak ditangani oleh tenaga kesehatan terlatih
  • Retensi plasenta, yaitu kondisi plasenta tidak keluar dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir
  • Rahim yang masih lemah akibat kelelahan setelah persalinan panjang
  • Penekanan kuat pada perut bagian bawah tanpa teknik yang benar

Dalam praktik medis, jika plasenta sulit keluar, dokter atau bidan tidak akan menarik secara paksa. 

Ada prosedur khusus dan, bila perlu, pasien akan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Apa Ciri-ciri Rahim Turun?

Rahim turun atau prolaps uteri berbeda dengan kasus rahim copot total, tetapi tetap perlu diwaspadai. 

Beberapa ciri yang bisa dirasakan ibu antara lain:

  • Rasa mengganjal atau ada benda keluar dari vagina
  • Nyeri atau tidak nyaman di area panggul
  • Perdarahan pascamelahirkan yang tidak normal
  • Rasa berat di perut bagian bawah
  • Gangguan buang air kecil atau besar
  • Nyeri saat berdiri atau berjalan lama

Gejala-gejala ini bisa muncul segera setelah persalinan atau beberapa hari kemudian, tergantung tingkat keparahannya.

Yuk, ketahui juga Berbagai Fungsi Rahim dalam Sistem Reproduksi Wanita.

Berapa Lama Rahim Rusak Kembali Semula?

Lama pemulihan rahim sangat bergantung pada tingkat kerusakan dan penanganan medis yang diberikan.

  • Pada kasus ringan, seperti rahim turun sebagian, pemulihan bisa berlangsung beberapa minggu hingga bulan dengan perawatan, latihan otot panggul, dan pemantauan rutin.
  • Pada kasus sedang hingga berat, dibutuhkan tindakan medis lanjutan, termasuk terapi hormonal atau pembedahan.
  • Namun, pada kasus ekstrem seperti rahim copot total akibat tarikan paksa, rahim tidak dapat kembali seperti semula. Penanganan difokuskan pada penyelamatan nyawa ibu, menghentikan perdarahan, dan mencegah infeksi.

Oleh karena itu, pencegahan dan penanganan dini menjadi kunci utama keselamatan ibu.

Selain itu, penting untuk memahami Proses Kehamilan: Tahapan, Perubahan Tubuh, dan Tips Kesehatan.

Waspadai Tanda Rahim Rusak

Rahim yang mengalami kerusakan berat dapat ditandai dengan beberapa kondisi berikut:

  • Pendarahan hebat setelah melahirkan
  • Nyeri hebat dan menetap di perut atau panggul
  • Bau tidak sedap dari vagina
  • Demam atau tanda infeksi
  • Tekanan darah menurun, lemas, atau pusing

Jika tanda-tanda ini muncul, ibu harus segera mendapatkan pertolongan medis. Keterlambatan penanganan dapat berakibat fatal.

Nah, jika kamu sedang hamil, baru melahirkan, atau merasakan keluhan pada area kewanitaan setelah persalinan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis obgyn aplikasi melalui Halodoc. 

Penanganan sejak dini dapat mencegah komplikasi yang lebih serius.

Dengan Halodoc, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis obgyn kapan saja dan di mana saja. 

Tunggu apa lagi? Yuk, gunakan Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Michigan Medicine. Diakses pada 2025. 5 Placenta Issues Every Woman Should Know.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2025. Placental Insufficiency.
National Institutes of Health. Diakses pada 2025. Placenta Abnormalities.
Mayo Clinic. Diakses pada 2025. Placenta: How it works, what’s normal.
Raditya Dika. Diakses pada 2025. Cerita dari Ruang IGD.