• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ribuan Babi di Sumut Terkena Kolera, Bisakah Menular pada Manusia?

Ribuan Babi di Sumut Terkena Kolera, Bisakah Menular pada Manusia?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Virus kolera babi dan demam babi Afrika (African Swine Fever atau ASF) merebak di Sumatera Utara dan mengakibatkan ribuan babi mati. Kondisi ini juga membuat banyak orang menjadi takut untuk mengonsumsi daging babi. Namun, bisakah virus kolera dan demam babi Afrika menular pada manusia? Yuk, cari tahu jawabannya di bawah ini.

Dilansir dari Jakarta Post, data terakhir dari Badan Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara menunjukkan bahwa jumlah babi yang mati karena terkena virus kolera dan ASF meningkat, dari 27000 ekor yang terhitung selama 3 bulan terakhir (September sampai Desember 2019), sekarang menjadi 42000 ekor. Kedua penyakit tersebut juga sudah menyebar ke 18 kabupaten dan kota di seluruh provinsi. 

Tentu saja wabah ini pun akhirnya juga berdampak pada penjualan babi di Sumatera yang langsung menurun drastis. Banyak orang takut tertular virus kolera dan ASF bila mengonsumsi daging mamalia tersebut. Namun, kekhawatiran masyarakat sebenarnya tidak beralasan, karena ternyata virus kolera babi dan demam babi Afrika tidak menular ke manusia. 

Mengenal Virus Kolera Babi dan Demam Babi Afrika

Baik virus kolera babi (hog cholera) maupun demam babi Afrika (African Swine Fever atau ASF) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat menular di antara babi-babi domestik dan liar. Kedua penyakit ini juga menjadi penyebab paling umum atas kematian babi yang juga menimbulkan kerugian ekonomi. 

Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mengungkapkan bahwa ASF disebabkan oleh virus dari family Asfarviridae, sedangkan kolera babi disebabkan oleh virus dari family Flaviviridae.

Baca juga: 9 Hal yang Perlu Diketahui tentang Flu Babi

Penyebaran Virus Kolera Babi dan Demam Babi Afrika

Penyebaran ASF bervariasi yang tergantung pada lingkungan, jenis sistem produksi babi, ada tidaknya kutu, perlakuan manusia terhadap babi, dan ada tidaknya babi liar. Umumnya, penyebaran demam babi Afrika meliputi:

  • Kontak langsung dengan babi yang terinfeksi. Babi hutan sudah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab penyebarannya.

  • Kontak tidak langsung, yaitu melalui pakannya, limbah makanan, atau sampah.

  • Serangga yang terkontaminasi, seperti kutu lunak dari genus Ornithodoros.

Penyebaran virus kolera babi pun tidak jauh berbeda dengan ASF. Kolera babi paling sering menular melalui kontak langsung antara babi yang sehat dengan yang sudah terinfeksi virus. Hewan yang merupakan pembawa virus kolera bisa saja tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit tersebut, tetapi dapat menyebarkan virus melalui air liur, sekresi hidung, urine, atau feses. Kontak dengan kendaraan, pakaian, sepatu, peralatan rumah yang sudah terkontaminasi juga bisa menjadi salah satu cara penyebaran virus kolera babi.

Tidak hanya sampai di situ saja, virus kolera babi juga dapat bertahan hidup dalam daging babi dan produk daging babi olahan selama berbulan-bulan ketika daging disimpan dalam lemari es dan selama bertahun-tahun ketika dibekukan. Babi yang sehat dapat terinfeksi bila mengonsumsi daging babi yang terinfeksi tersebut.

Baca juga: Suka Makanan Ekstrem, Sup Kelelawar Sebarkan Virus Corona

Virus Kolera Babi dan Demam Babi Afrika Tidak Bisa Menular pada Manusia

Kabar baiknya, virus kolera babi dan demam babi Afrika bukan merupakan penyakit zoonosis, artinya penyakit tersebut tidak dapat menular ke manusia. Hog cholera dan ASF hanya menyebar di antara hewan saja, yaitu dari satu babi ke babi lainnya. Konsumsi daging babi juga tidak berbahaya karena virus akan mati bila dimasak atau dipanaskan. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir bila ingin mengonsumsi daging babi. Meski demikian, dari segi keetisan, babi yang sudah terinfeksi sebaiknya jangan dikonsumsi.

Baca juga: Inilah Bahayanya Konsumsi Daging Mentah Bagi Kesehatan

Nah, itulah penjelasan mengenai virus kolera babi dan demam babi Afrika yang sedang marak belakangan ini dan turut membuat masyarakat resah. Jangan khawatir, bila kamu mengalami masalah kesehatan tertentu, ada aplikasi Halodoc yang siap membantu memberikan solusi kesehatan. Kamu bisa menghubungi dokter asli melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
World Organisation for Animal Health. Diakses pada 2020. African Swine Fever.
World Organisation for Animal Health. Diakses pada 2020. Classical Swine Fever (CSF).