• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Saat Anthrax Menyerang, Inilah yang Dialami Tubuh

Saat Anthrax Menyerang, Inilah yang Dialami Tubuh

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Saat Anthrax Menyerang, Inilah yang Dialami Tubuh

Halodoc, Jakarta – Anthrax adalah penyakit langka yang disebabkan oleh bakteri pembentuk spora, yaitu Bacillus anthracis. Manusia dapat terinfeksi bakteri tersebut melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan yang sakit. Lantas, apa yang akan dialami oleh tubuh saat terkena anthrax? Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut di bawah ini.

Anthrax paling sering ditularkan pada manusia melalui hewan-hewan ternak, seperti kambing, biri-biri, sapi atau kuda. Meskipun tanpa inang, tetapi bakteri penyebab anthrax juga dapat hidup secara tidak aktif selama beberapa tahun. Biasanya, bakteri anthrax masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka di kulit. 

Kamu juga bisa terinfeksi dengan mengonsumsi daging yang terkontaminasi atau menghirup spora. Anthrax tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lainnya, tetapi lesi kulit anthrax mungkin dapat menular melalui kontak langsung atau melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi.

Baca juga: Bagaimana Cara Anthrax Ditularkan dari Hewan ke Manusia?

Hal yang Dialami Tubuh Saat Terinfeksi Anthrax

Bakteri Bacillus anthracis dapat memengaruhi tubuh manusia dengan cara yang berbeda-beda, tergantung bagaimana bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh. Berikut ini gejala yang dapat dialami oleh tubuh saat terinfeksi anthrax berdasarkan rute masuknya bakteri:

  • Anthrax Kulit

Bakteri anthrax dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit, biasanya melalui goresan atau luka lainnya. Infeksi anthrax melalui kulit atau yang disebut juga anthrax kulit dapat menyebabkan tubuh mengalami gejala-gejala berikut:

  • Muncul benjolan besar yang terasa gatal mirip gigitan serangga yang dapat berkembang dengan cepat menjadi luka tanpa rasa sakit dengan bagian tengah berwarna hitam. 
  • Kelenjar getah bening dan sekitarnya membengkak.
  • Demam dan sakit kepala, seperti gejala flu.
  • Anthrax Gastrointestinal

Selain memengaruhi kulit, anthrax juga dapat memengaruhi saluran cerna bila kamu terinfeksi bakteri dengan cara mengonsumsi daging yang kurang matang dari hewan yang terinfeksi. Inilah yang akan dialami tubuh bila bakteri masuk melalui saluran pencernaan:

  • Mual,
  • Muntah,
  • Sakit perut,
  • Sakit kepala,
  • Kehilangan nafsu makan,
  • Demam,
  • Diare parah, yang dapat berdarah pada tahap akhir penyakit,
  • Sakit tenggorokan dan kesulitan menelan,
  • Leher bengkak.

Baca juga: Siapa Saja yang Berisiko Terpapar Anthrax?

  • Anthrax Inhalasi

Anthrax inhalasi terjadi bila tidak sengaja menghirup spora anthrax. Ini adalah bentuk anthrax yang paling berbahaya dan seringkali berakibat fatal, meskipun sudah melakukan perawatan. Inilah yang akan dialami tubuh bila bakteri anthrax masuk melalui pernapasan:

  • Gejala yang mirip flu selama beberapa jam atau hari, seperti sakit tenggorokan, demam ringan, kelelahan, dan nyeri otot. 
  • Ketidaknyamanan ringan pada dada.
  • Sesak napas.
  • Mual.
  • Batuk berdarah.
  • Nyeri saat menelan.
  • Demam tinggi.
  • Kesulitan bernapas.
  • Syok, kondisi medis akut yang menyebabkan kolapsnya sistem sirkulasi.
  • Meningitis.
  • Anthrax Injeksi

Rute infeksi anthrax yang satu ini sangat jarang dan sejauh ini baru dilaporkan terjadi di Eropa. Anthrax injeksi terjadi ketika infeksi ditularkan melalui suntikan obat-obatan terlarang. Inilah yang akan dialami tubuh saat terkena anthrax injeksi:

  • Area injeksi memerah.
  • Pembengkakan yang signifikan.
  • Kegagalan organ multiple.
  • Meningitis.

Gejala-gejala di atas biasanya baru muncul dalam 6 hari setelah terinfeksi bakteri. Bila kamu mengalami salah satu dari gejala anthrax tersebut, segera periksakan diri ke dokter.

Baca juga: 5 Pemeriksaan untuk Mendeteksi Anthrax

Untuk melakukan pemeriksaan terkait gejala kesehatan yang kamu alami, bisa langsung buat janji di rumah sakit pilihanmu lewat aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Anthrax