• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Gigitan Serangga

Gigitan Serangga

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Gigitan Serangga

Gigitan serangga pada umumnya tidak berbahaya dan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman di kulit. Gigitan serangga yang umumnya menimbulkan rasa nyeri adalah sengatan lebah, tawon, pikat, atau semut. Sedangkan gigitan nyamuk, tungau, atau kutu umumnya menimbulkan rasa gatal.

Gigitan serangga adalah luka tusukan yang dibuat oleh serangga. Serangga mungkin menggigit untuk membela diri atau saat ingin mencari makan. Serangga biasanya menyuntikkan asam format sehingga ini dapat menyebabkan lecet, peradangan, kemerahan, bengkak, nyeri, gatal dan iritasi. 

Reaksi gigitan serangga tergantung pada jenis serangga dan sensitivitas individu. Gigitan kutu, tungau, dan nyamuk cenderung menyebabkan rasa gatal gatal.

Penyebab Gigitan Serangga

Golongan serangga yang gigitan atau sengatannya dapat menyebabkan reaksi serius atau alergi adalah dari golongan Hymenoptera. Bahkan, kasus kematian akibat sengatan lebah 3-4 kali lebih banyak dibandingkan kematian akibat gigitan ular. Beberapa jenis serangga yang menyengat, antara lain:

  • Kumbang.
  • Lebah madu.
  • Pikat.
  • Semut api.
  • Tawon. 

Sedangkan serangga yang menggigit dan mengisap darah, antara lain:

  • Kutu busuk.
  • Kalat hitam.
  • Lalat pasir.
  • Lalat rusa.
  • Lalat kuda.
  • Kutu rambut.
  • Nyamuk.
  • Laba-laba.

Kebanyakan serangga biasanya tidak menyerang manusia, kecuali jika mereka merasa terancam. Banyak gigitan dan sengatan bersifat defensif. Serangga juga akan menyengat untuk melindungi sarang, atau ketika kebetulan disentuh atau diganggu. Sehingga sarangnya tidak boleh diganggu atau didekati.

Sengatan atau gigitan serangga menyuntikkan racun yang terdiri dari protein dan zat lain yang dapat memicu reaksi alergi pada korban. Sengatannya juga menyebabkan kemerahan dan bengkak di tempat sengatan. 

Lebah, tawon, dan semut api adalah anggota dari keluarga Hymenoptera. Gigitan atau sengatan dari spesies ini dapat menyebabkan reaksi serius pada orang yang alergi terhadapnya. Namun perlu diketahui, lebah, tawon, dan semut api berbeda dalam cara mereka melukai. 

Ketika lebah menyengat, ia kehilangan seluruh alat injeksi (penyengat) dan benar-benar mati dalam prosesnya. Sedangkan tawon tidak menimbulkan banyak sengatan, karena ia tidak kehilangan alat penyengatnya setelah menyengat. Sementara itu, semut api menyuntikkan racunnya dengan menggunakan mandibula (bagian rahang yang menggigit) dan memutar tubuhnya sehingga ini memungkinkan mereka untuk menyuntikkan racun berkali-kali. 

Hal yang perlu diwaspadai adalah serangga dapat menularkan penyakit hanya dengan mentransfer patogen Salmonella melalui kontak. Misalnya, dalam kondisi yang tidak sehat, lalat rumah biasanya memainkan peran dalam penyebaran infeksi usus manusia. Seperti disentri, tifus, basil, dan amuba. Penyebaran terjadi melalui kontaminasi makanan manusia saat ia mendarat dan berjalan di atas makanan setelah sebelumnya hingga di benda-benda terkontaminasi, seperti kotoran. 

Faktor Risiko Gigitan Serangga

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko gigitan serangga, antara lain:

  • Melakukan aktivitas atau pekerjaan di luar ruangan.
  • Memakai pakaian berwarna gelap atau longgar.
  • Menggunakan parfum dengan aroma bunga.
  • Mengunjungi peternakan lebah atau beraktivitas dekat sarang lebah. 

Gejala Gigitan Serangga

Beberapa gejala yang umum dirasakan akibat gigitan atau sengatan serangga, antara lain:

  • Bengkak.
  • Gatal.
  • Kemerahan.
  • Kesemutan.
  • Mati rasa.
  • Nyeri.
  • Sensasi terbakar. 

Meski demikian, pada beberapa orang, dapat terjadi reaksi yang parah dan berbahaya akibat gigitan serangga atau sengatan lebah. Kondisi ini disebut dengan syok anafilaksis. Syok anafilaksis terjadi dengan sangat cepat dan jika tidak segera diatasi, dapat mengancam nyawa. Beberapa gejalanya, antara lain:

  • Kesulitan bernapas.
  • Kesulitan menelan.
  • Nyeri dada.
  • Nyeri perut hingga muntah.
  • Pembengkakan pada wajah atau mulut.
  • Pingsan atau pusing.
  • Ruam kemerahan pada kulit. 

Gejala-gejala ini memerlukan perhatian medis segera.

Sementara itu, beberapa orang mungkin memiliki reaksi yang lebih kuat saat kedua kali jenis serangga tertentu menggigit mereka. Seseorang mungkin menjadi lebih sensitif terhadap air liur serangga. 

Gigitan serangga yang menyebabkan infeksi dapat menyebabkan:

  • Nanah di dalam atau di sekitar gigitan.
  • Kelenjar bengkak.
  • Demam.
  • Perasaan tidak sehat.
  • Gejala seperti flu.
  • Area gigitan bisa menjadi lebih merah dengan lebih banyak rasa sakit dan bengkak. 

Papula (semacam jerawat) yang gatal dapat berkembang dan bertahan beberapa hari. Akhirnya, kebanyakan orang menjadi kebal dan tidak sensitif terhadap air liur setelah menerima sejumlah gigitan serangga. 

Reaksi alergi terhadap gigitan serangga biasanya tidak berlangsung lebih dari beberapa jam. Namun terkadang dapat bertahan selama berbulan-bulan. Dalam hal ini, individu harus berkonsultasi dengan dokter. 

Diagnosis Gigitan Serangga

Dokter akan mendiagnosis gigitan serangga dengan diawali suatu wawancara medis lengkap. Wawancara ini meliputi kronologis kejadian serta tanda dan gejala yang dialami pengidap. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh. Pemeriksaan penunjang jarang dilakukan untuk membantu menentukan diagnosis. Meski demikian, jika diperlukan, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan, seperti:

  • Tes alergi bisa serangga, yang dilakukan dengan menggaruk kulit dengan dosis kecil racun serangga dan melihat ukuran ruam untuk mengukur reaksi alergi terhadap racun serangga.
  • Tes penyakit Lyme, yang dilakukan jika gigitan disebabkan oleh kutu. Jika kutu diangkat dari kulit, perlu dilakukan pemeriksaan untuk Borrelia burgdorferi, yaitu penyebab dari penyakit Lyme. 

Komplikasi Gigitan Serangga

Jika gigitan atau sengatan serangga tidak menyebabkan syok anafilaksis, umumnya tidak akan menyebabkan komplikasi yang berarti. Kendati demikian, pada syok anafilaksis yang tidak segera ditangani, komplikasi dapat berupa kematian. 

Infeksi bakteri sekunder, seperti selulitis, limfangitis, atau impetigo, dapat terjadi jika seseorang menggaruk area gigitan dan merusak kulit. Oleh karena itu, antibiotik dapat diresepkan untuk mengobati infeksi ini. 

Hal yang perlu diwaspadai yaitu beberapa kutu membawa penyakit, seperti penyakit Lyme. Borrelia burgdorferi, bakteri yang dibawah oleh beberapa kutu, menyebabkan penyakit Lyme. Gejalanya berupa ruam merah yang menyebar ke luar. Antibiotik juga dapat membantu mengobati penyakit Lyme.

Tanpa pengobatan, penyakit Lyme dapat menyebabkan:

  • Meningitis.
  • Kelumpuhan wajah.
  • Radikulopati.
  • Ensefalitis (jarang terjadi).
  • Kerusakan sendi.
  • Masalah jantung.

Berbagai jenis nyamuk juga dapat menularkan penyakit yang berbeda. Seperti virus West Nile dan malaria.

Pengobatan Gigitan Serangga

Gigitan atau sengatan serangga yang tidak parah, dapat diatasi dengan perawatan di rumah. Perawatan rumahan ini berguna untuk meringankan gejala dari reaksi ringan yang disebabkan oleh gigitan dan sengatan serangga. Pada gigitan dan sengatan serangga yang menimbulkan gejala yang parah, umumnya dokter akan memberikan obat berupa antihistamin untuk mengurangi gatal, serta kortikosteroid untuk mengurangi gejala yang dialami pengidap. 

Pada gigitan dan sengatan serangga yang menyebabkan syok anafilaksis, suntikan adrenalin atau epinefrin oleh tenaga medis terlatih harus segera dilakukan dengan cepat. Pada pengidap yang memiliki alergi terhadap gigitan atau sengatan serangga, imunoterapi atau desensitisasi dapat dijadikan pilihan pengobatan. Imunoterapi racun dapat membantu mencegah reaksi sistemik pada orang-orang yang sensitif terhadap sengatan atau gigitan serangga. 

Pencegahan Gigitan Serangga

Beberapa upaya pencegahan dari gigitan dan sengatan serangga yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Gunakan losion anti nyamuk dengan kandungan aktif DEET, picaridin, IR3535, atau minyak lemon eukaliptus, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
  • Gunakan pakaian yang dapat melindungi seluruh tubuh, seperti celana panjang dan baju lengan panjang. 
  • Hindari aktivitas di luar rumah pada waktu dimana nyamuk aktif, yaitu saat pergantian siang ke malam atau sebaliknya.
  • Hindari penggunaan parfum atau pewangi pakaian.
  • Jaga kebersihan ruangan, terutama dari sisa makanan.
  • Jauhi sarang serangga yang berbahaya, seperti lebah atau tawon, dan jangan mencoba untuk menyingkirkan sarangnya sendiri.
  • Lakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melakukan pengasapan insektisida (fogging) yang diikuti tindakan 3M, seperti menutup rapat tempat penampungan air dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air.
  • Pasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah, dan gunakan pendingin ruangan (AC).
  • Pilih pakaian yang bersih dan berwarna cerah.
  • Segera lari ke dalam ruangan tertutup, jika sekelompok lebah menyerang.
  • Tetap tenang jika ada seekor lebah atau tawon mendekat, karena memukulnya akan memicu lebah atau tawon menyengat. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika memiliki gejala reaksi parah akibat gigitan serangga, seperti:

  • Mengi atau kesulitan bernapas.
  • Wajah, mulut, atau tenggorokan bengkak.
  • Merasa sakit atau sakit.
  • Detak jantung yang cepat.
  • Pusing atau merasa akan pingsan.
  • Kesulitan menelan.
  • Penurunan kesadaran

Segera dapatkan perawatan darurat di rumah sakit terdekat jika gejala di atas kamu alami. Jadwal kunjungan dokter spesialis di rumah sakit juga bisa kamu buat di aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:
NHS. Diakses pada 2022. Insect bites and stings.
Medical News Today. Diakses pada 2022. Insect and spider bites and how to deal with them.
Emedicine Health. Diakses pada 2022. Insect Bites and Stings.
Diperbarui pada 19 April 2022.