Antraks

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia

Pengertian Antraks

Anthraks adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracs. Penyakit ini bisa menular, dan ditularkan lewat binatang yang membawa bakteri tersebut. Selain itu, bermacam-macam gejala dan serangan bisa ditimbulkan oleh anthrax. Gejala tersebut bisa menyerang saluran pencernaan, kulit, hingga pernapasan.

Baca juga: Kenali Ciri-Ciri Hewan Kurban yang Terinfeksi Antraks

 

Faktor Risiko Antraks

Ada banyak faktor risiko untuk anthrax, yaitu :

  • Orang yang mengolah produk hewan;

  • Dokter hewan yang bekerja dengan binatang yang terinfeksi;

  • Peternak yang bekerja dengan binatang terinfeksi;

  • Pelancong yang mengunjungi daerah berisiko tinggi;

  • Pekerja laboratorium yang bekerja dengan anthrax;

  • Tukang pos, anggota militer, dan relawan;

  • Yang terpapar selama kejadian teror biologis yang melibatkan spora anthrax; dan

  • Memakan daging mentah dari binatang yang terinfeksi.

 

Penyebab Antraks

Spora anthrax dihasilkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang terdapat di tanah. Meskipun tanpa inang, tetapi spora ini bisa hidup tidak aktif selama beberapa tahun. Hewan ternak seperti kambing, biri-biri, sapi, atau kuda umumnya menjadi inang spora anthrax. Umumnya, lebih banyak manusia tertular anthrax dari kulit atau daging hewan yang terinfeksi.

Anthrax tidak ditularkan antara satu orang ke orang lainnya. Maka dari itu, seseorang yang melakukan kontak dengan pengidap anthrax tidak perlu diimunisasi ataupun diobati. Namun, seseorang perlu waspada apabila berada di wilayah penyebaran anthrax yang sama dengan pengidap, ataupun terpapar oleh sumber infeksi (hewan ternak, dan hewan permainan) yang sama.

Baca juga: Suka Makan Daging, Perlu Waspada Antraks

 

Gejala Antraks

Umumnya, setelah 7 hari pengidap terpapar bakteri, gejala anthrax akan terlihat. Namun, gejala baru akan terlihat beberapa minggu setelah spora bakteri terhirup jika penularan terjadi lewat udara.

Gejala anthraks dibedakan berdasarkan cara penularannya, yaitu:

  • Anthraks Kulit

Pada anthraks kulit, tubuh pengidap terkena infeksi bakteri melalui luka sayatan atau luka lainnya pada kulit. Kasus ini paling sering terjadi dan paling ringan. Anthraks kulit jarang menyebabkan kematian, jika ditangani dengan benar. Sedangkan gejala anthraks kulit, ditandai dengan munculnya benjolan gatal, seperti gigitan serangga pada bagian yang terkena infeksi. Setelah gatal, benjolan tersebut akan berubah menjadi borok yang tidak terasa nyeri, dan berwarna hitam pada bagian tengah. Pembengkakan juga akan terjadi pada kelenjar getah bening dekat luka.

  • Anthraks Inhalasi

Anthrax inhalasi menular dan berkembang saat pengidap menghirup spora anthrax. Anthrax ini merupakan jenis paling mematikan. Gejala awalnya akan menyerupai gejala penyakit flu, seperti demam, nyeri tenggorokan, nyeri otot, dan lelah. Lalu, muncul rasa tidak nyaman pada dada, napas menjadi pendek, mual, batuk darah, nyeri saat menelan, demam tinggi, kesulitan bernapas, syok, serta terjadi meningitis.

  • Anthraks Gastrointestinal

Bakteri anthrax masuk ke dalam tubuh pengidap melalui konsumsi hewan yang terinfeksi anthrax yang tidak dimasak sampai matang. Gejala anthrax gastrointestinal adalah mual dan muntah, nyeri perut, sakit kepala, nafsu makan menurun, demam, diare parah dengan kotoran bercampur darah, radang tenggorokan dan kesulitan menelan, serta pembengkakan leher.

  • Anthraks Injeksi

Biasanya bakteri masuk ke tubuh melalui injeksi obat-obatan terlarang. Jenis ini merupakan cara penularan paling baru yang ditemukan. Akan timbul kemerahan pada lokasi suntikan, pembengkakan hebat, syok, kegagalan multi organ, dan meningitis sebagai gejalanya.

 

Diagnosis Antraks

Dalam mendiagnosa anthrax, pemeriksaan awal adalah untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit-penyakit lainnya yang memiliki gejala serupa, misalnya flu atau pneumonia dengan gejala yang mirip anthrax inhalasi. Setelah itu, dapat dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan lanjutan, seperti:

  • Pemeriksaan patologi. Cairan dari luka yang dicurigai atau sampel jaringan kulit pada daerah yang terinfeksi akan diambil untuk diperiksa.

  • Pemeriksaan darah. Memeriksa ada-tidaknya bakteri anthrax dalam darah pengidap.

  • Fungsi lumbal (spinal tap). Pengambilan sampel cairan otak dari area tulang belakang pengidap untuk diperiksa lebih lanjut, guna mengonfirmasi diagnosis meningitis yang disebabkan oleh anthrax.

  • Pemeriksaan kotoran. Kotoran pengidap diperiksa untuk memastikan diagnosa anthrax gastrointestinal.

  • Pemindaian. Foto rontgen atau CT-scan dada, dilakukan pada pengidap yang dicurigai mengidap anthrax inhalasi.

 

Pengobatan Antraks

Pengobatan anthrax adalah dengan menggunakan antibiotik. Jenis antibiotik dan lama pemberian antibiotiknya tergantung dari gejala yang dialami oleh pengidap. Namun secara umum, antibiotik yang umumnya digunakan adalah doksisiklin atau golongan kuinolon (seperti, siprofloksasin dan levofloksasin). Jika terjadi kondisi sesak napas yang berat atau syok, perawatan di ruang rawat intensif perlu dilakukan.

 

Pencegahan Antraks

Untuk mencegah tertular anthrax, mereka yang sehari-hari bekerja dengan hewan atau produk hewan sebaiknya rutin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap kali selesai bekerja. Selain itu, selama bekerja, penting untuk selalu menggunakan alat pelindung diri yang lengkap berupa masker, goggle (semacam kacamata pelindung), sarung tangan, dan apron.

Baca juga: Ini Gejala yang Umum Terjadi pada Pengidap Antraks

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat akan mengunjungi daerah yang berisiko tinggi terkena penyakit anthrax ataupun memiliki tanda-tanda dari gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, diskusikan dengan dokter. 

Referensi:
Mayoclinic.org. Diakses pada 2019. Anthrax
Diperbarui pada 19 September 2019