• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Seberapa Efektif Vaksin Bisa Mencegah Tifus?

Seberapa Efektif Vaksin Bisa Mencegah Tifus?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Tifus boleh dibilang menjadi penyakit “sejuta umat” di negara kita. Enggak percaya? Kira-kira hampir 100.000 orang di Indonesia terjangkit penyakit tifus (tipes) ini tiap tahunnya. Cukup banyak, bukan? 

Tifus merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri nakalnya bernama Salmonella typhi. Tifus tergolong penyakit yang amat menular dengan cepat, penularannya bisa melalui konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi bakteri. 

Pertanyaanya, benarkah vaksin terbilang ampuh untuk mencegah penyakit tifus? Yuk, simak ulasannya di bawah ini. 

Baca juga: Kebiasaan Buruk Ini Picu Penyakit Tipes

Vaksin Ampuh Cegah Tifus?

Sebenarnya vaksin tifus negara kita termasuk dalam jadwal imunisasi anak. Vaksin tifus amat dianjurkan bagi Si Kecil yang berusia dua tahun, kemudian diberikan kembali tiap tiga tahun sekali. Di samping itu, pemberian vaksin ini idealnya diberikan satu bulan sebelum berkunjung ke daerah yang menjadi endemik penyakit tifus. Tak cuma itu saja, mereka yang bekerja di bidang kuliner seperti koki, juga dianjurkan untuk memperoleh vaksin tifus. 

Hal yang perlu diingat, dalam beberapa kasus vaksin tifus bisa menimbulkan efek samping tertentu. Misalnya, nyeri, bengkak di sekeliling area suntikan, mual, pusing, sakit perut, diare, hingga nyeri. 

Kembali ke pertanyaan di atas, benarkah vaksin tifus terbilang ampuh untuk mencegah penyakit ini? Faktanya, pemberian vaksin tifus tak menjamin kita 100 persen kebal terhadap bakteri penyebab tifus. Artinya, risiko untuk terserang tifus tetap ada, tetapi gejala-gejala yang terjadi tak separah gejala pada mereka yang belum mendapatkan vaksin sama sekali.

Oleh sebab itu, selain vaksin kita juga harus menerapkan pola hidup dan kebiasaan hidup sehat untuk mencegah penyakit ini. Misalnya, selalu menjaga kebersihan tangan hingga hindari mengonsumsi makanan atau sayuran mentah. 

Baca juga: Ini Alasan Jika Terkena Tifus Harus Bed Rest

Awas, Berpotensi Fatal pada Anak-Anak

Mau tahu betapa seriusnya penyakit tifus secara global? Jangan kaget, menurut data dari WHO diperkirakan 11–20 juta orang terserang tifus atau demam tifoid tiap tahunya. Dari jumlah tersebut, 128.000 hingga 161.000 meninggal akibat penyakit ini. Hmm, bikin waswas kan? 

Bagaimana dengan di negara kita? Meski datanya belum diperbarui, kita bisa mendapat gambaran mengenai penyakit Salmonellosis dari laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI. Di negara kita, salah satu spesies bakteri ini yang sering menimbulkan masalah kesehatan penting, yaitu Salmonella typhi. Bakteri inilah yang menyebabkan penyakit tifus. 

Pada tahun 2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak dengan pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia, dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15 persen. Urutan pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52 persen (Depkes RI, 2009).

Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi, salah satunya robeknya saluran pencernaan. Kemudian, bakteri penyebab tifus juga bisa menyebar, hingga rongga perut (peritoneum) atau kondisi yang disebut peritonitis.

Nah, bila infeksinya menyebar dengan cepat melalui darah ke berbagai organ lainnya, maka dampaknya bisa berbahaya. Kondisi ini bisa menyebabkan berbagai organ berhenti berfungsi, bahkan mengakibatkan kematian bila tak segera ditangani. 

Baca Juga: Kena Tifus, Bolehkah Tetap Beraktivitas Berat?

Hal yang perlu diingat, anak-anak merupakan kelompok yang rentang terserang tifus. Alasannya, sistem imun mereka belum terbentuk dengan sempurna. Tuh, yakin masih mau memandang sebelah mata penyakit tifus

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Kementerian Pertanian Indonesia - Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner. Diakses pada 2020. Dampak Salmonellosis Terhadap Kesehatan, Sosial, dan Ekonomi
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Typhoid Fever
WHO. Diakses pada 2020. Typhoid Fever