06 March 2019

Kena Tifus, Bolehkah Tetap Beraktivitas Berat?

Kena Tifus, Bolehkah Tetap Beraktivitas Berat?

Halodoc, Jakarta – Seorang ayah di Banda Aceh baru-baru ini menarik perhatian netizen dan mengunggah rasa haru. Pria bernama Bukhari ini menjadi perhatian setelah menghadiri acara wisuda putrinya dan menerima ijazah tanda kelulusan dari universitas. Ia datang ke acara wisuda untuk menggantikan putrinya yang meninggal sebelum menerima tanda kelulusan tersebut.

Rina Muharrami, putri Bukhari, dinyatakan lulus setelah menyusun skripsi dan mengikuti sidang di kampus tempat ia berkuliah, UIN Ar-Raniry. Sayangnya, beberapa hari sebelum wisuda, Rina mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan penyakit tifus. Diberitakan, perempuan yang masih berusia 22 tahun tersebut sebenarnya sudah mengalami sakit, bahkan sampai tiga kali gagal menjalani sidang skripsi.

Meski begitu, ia tetap berjuang untuk menyelesaikan skripsi. Hingga akhirnya, dua hari setelah menyelesaikan skripsi, ia harus kembali menjalani perawatan di puskesmas karena serangan penyakit tersebut. Tifus (tipes) adalah penyakit yang terjadi karena adanya infeksi bakteri Salmonella typhi. Virus ini bisa menyebar melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi.

Baca juga: Sudah Sembuh, Gejala Tipes Bisa Datang Lagi?

Selama ini, penyakit tifus dikenal sebagai gangguan kesehatan yang harus mendapat perawatan di rumah sakit dan pengidapnya harus menjalani istirahat total alias bedrest. Tapi sebenarnya, apakah orang yang terserang tifus memang harus dirawat di rumah sakit dan tidak boleh melakukan aktivitas berat?

Sebenarnya, orang yang terserang infeksi tifus memang dianjurkan untuk lebih banyak beristirahat agar cepat pulih. Penyakit tifus yang didiagnosis pada stadium awal, biasanya bisa dirawat di rumah dengan pengobatan antibiotik selama 1–2 pekan. Sebaliknya, perawatan lebih lanjut di rumah sakit dibutuhkan jika kasus tifus terlambat dideteksi atau sudah dalam stadium lanjut.

Terlambat Didiagnosis, Tifus Bisa Berakibat Fatal

Kabar buruknya, penyakit ini bisa berakibat fatal jika terlambat mendapat penanganan dan perawatan. Tifus yang tidak segera ditangani bisa menyebabkan komplikasi berupa perdarahan internal atau pecahnya sistem pencernaan alias usus. Selain itu, risiko komplikasi juga bisa berkembang menjadi hal yang membahayakan nyawa jika tidak ditangani dengan tepat.

Baca juga: 2 Alasan Bahaya Tifus Bisa Berakibat Fatal

Penyakit ini diduga bisa menyebabkan 1 dari 5 pengidapnya meninggal jika tidak mendapat penanganan dengan tepat. Risiko komplikasi yang berujung infeksi juga mengintai orang-orang yang mengalami penyakit ini. Segera lakukan pemeriksaan ke dokter dan pergi ke rumah sakit jika merasa mengalami gejala-gejala penyakit tipes yang tidak kunjung membaik.  

Gejala dan Cara Mencegah Penyakit Tifus

Gejala dari penyakit ini biasanya akan mulai muncul setelah 1–3 minggu infeksi virus terjadi. Tifus biasanya memunculkan gejala berupa demam tinggi, diare atau konstipasi, sakit kepala, hingga sakit perut. Gejala-gejala ini biasanya akan memburuk dalam beberapa minggu. Maka dari itu, perawatan dan pengobatan segera perlu dilakukan untuk mencegah kondisi ini semakin parah.

Mencegah penularan penyakit tifus bisa dilakukan dengan vaksinasi. Tifus bisa dicegah dengan vaksin tifoid secara rutin. Selain itu, pencegahan tifus juga bisa dilakukan dengan memperhatikan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh. Hindari mengonsumsi makanan atau minuman yang mungkin sudah terpapar bakteri dan makanan yang tidak terjaga kesehatannya.

Baca juga: Sering Jajan Sembarangan Bisa Bikin Sakit Tipes?

Cari tahu lebih lanjut seputar penyakit tifus, gejala, dan cara mencegahnya dengan bertanya ke dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!