Sensitif Terhadap Bau Bisa Menjadi Ciri-Ciri Hamil

Halodoc, Jakarta - Tahukan kamu bahwa sebelum kamu pergi memeriksakan diri ke dokter umum atau dokter kandungan, indra penciuman atau hidung bisa menunjukkan gejalanya terlebih dahulu. Karena meski kedengarannya aneh, calon ibu diketahui akan memiliki indra penciuman yang luar biasa tajam dan ini sering kali menjadi salah satu tanda pertama kehamilan. Jadi, jika kamu memang sedang berencana punya momongan dengan pasangan dan kemudian jadi sensitif terhadap bau, ini adalah ciri-ciri kehamilan.
Sensitif terhadap bau sebagai ciri-ciri kehamilan dalam dunia medis bisa disebut juga sebagai hiperosmia. Bukan hanya akibat kehamilan, kondisi ini juga bisa dipicu oleh banyak penyebab. Ibu hamil yang mengalami hiperosmia dapat mengalami ketidaknyamanan yang kuat dan bahkan penyakit dari bau tertentu. Paparan bau kimiawi seperti wewangian sintetis, parfum, dan produk pembersih dapat memicu ketidaknyamanan ringan hingga parah. Aroma sampo tertentu pun bisa jadi terlalu berlebihan.
Kondisi penciuman yang terlalu sensitif bisa memicu sakit kepala, mual, dan muntah selama morning sickness trimester pertama. Kadang kondisi ini juga terkait dengan hiperemesis gravidarum, bentuk mual di pagi hari yang parah yang dapat menyebabkan ibu hamil harus menjalani rawat inap. Gejala biasanya akan memudar seiring bertambahnya usia kehamilan, dan biasanya hilang setelah persalinan.
Baca juga: 5 Tanda Positif Hamil yang Perlu Diketahui
Penyebab Ibu Hamil Sensitif Terhadap Bau
Alasan medis untuk ciri-ciri hamil ini tidak jelas, tetapi pemicu gejala ini mungkin terkait dengan perubahan hormonal yang terkait dengan mual di pagi hari. Menurut Yvonne Bohn, MD, salah satu penulis The Mommy Docs: Ultimate Guide to Pregnancy and Birth, meningkatnya kadar estrogen dan human chorionic gonadotropin (hCG) pada trimester pertama memicu mual, muntah, dan mual di pagi hari. Jika seorang wanita sudah sedikit mual, bau yang kuat dapat meningkatkan gejala ini.
Baca juga: Tidak Merasa Mual saat Hamil, Apakah Normal?
Lantas, Apa yang Perlu Dilakukan?
Yvonne Bohn merekomendasikan kepada ibu hamil muda untuk menghindari bau yang menyengat dan melakukan hal-hal yang meminimalkan mual di pagi hari. Ibu bisa sering makan makanan kecil, makan beberapa biskuit sebelum bangun dari tempat tidur, minum vitamin B6 atau B12, dan minum tablet jahe, teh, atau jahe.
Ibu juga bisa mencoba untuk sering-sering mencuci pakaian karena bau bisa menempel pada sert. Ganti dan cuci baju dengan pembersih tanpa pewangi, dan semprotkan area sekitar dengan wewangian yang masih ibu sukai. Aroma yang lebih lembut seperti lemon dan mint dapat membantu meredakan mual.
Namun, jika kondisi ini tak kunjung hilang dan bikin ibu sering mual dan muntah selama kehamilan, sebaiknya segera diskusikan dengan dokter di Halodoc mengenai penanganan yang paling tepat untuk dilakukan. Dokter mungkin akan memberikan pengobatan khusus untuk ibu hamil agar kehamilan tetap berjalan dengan baik dan sehat.
Baca juga: 5 Hal Ini Menunjukan Tanda Kehamilan yang Sehat
Jika Hiperosmia Bukan Ciri-Ciri Hamil
Jika hiperosmia bukan ciri-ciri hamil, pengobatannya akan dilakukan berdasarkan penyebabnya. Mengunyah permen karet peppermint dapat membantu hingga kamu bisa menjauh dari penciumannya.
Pengobatan hiperosmia jangka panjang yang berhasil melibatkan penentuan dan pengobatan penyebab yang mendasari gejala. Perawatan berdasarkan akar penyebabnya harus mengurangi hipersensitivitas terhadap bau. Bekerjasamalah dengan dokter untuk menentukan penyebabnya.
Jika pertumbuhan seperti polip atau tumor menyebabkan hiperosmia, operasi pengangkatan dapat meringankan gejalanya. Obat migrain dapat membantu mengobati hiperosmia jika penyebab utamanya adalah migrain. Obat migrain juga dapat mencegah migrain terjadi akibat hiperosmia.
Menghindari pemicu tertentu bila memungkinkan adalah cara yang paling tepat juga. Ingat, pemicu berbeda untuk setiap orang. Beberapa orang dipicu oleh makanan tertentu sementara orang lain tidak tahan terhadap bau parfum atau bahan kimia.
Ada kemungkinan bahwa obat resep juga dapat menyebabkan kamu mengalami hiperosmia. Jika kamu pernah mengalami hiperosmia setelah memulai resep baru, kamu harus bertanya kepada dokter dan memintanya untuk meresepkan obat lain yang lebih aman.



