• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Sering Impulsif, Gejala Awal Gangguan Kepribadian Ambang

Sering Impulsif, Gejala Awal Gangguan Kepribadian Ambang

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder adalah gangguan kesehatan mental yang memengaruhi cara berpikir dan perasaan tentang diri sendiri dan orang lain. Pengidap gangguan kepribadian ambang bermasalah dengan citra dirinya, kesulitan mengelola emosi dan perilaku, serta cenderung punya pola hubungan yang tidak stabil. Kondisi ini dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari. 

Pengidap gangguan kepribadian ambang punya ketakutan yang kuat terhadap pengabaian atau ketidakstabilan dan mereka mungkin mengalami kesulitan untuk mentolerir suatu masalah. Rasa marah yang berlebihan, impulsif, dan perubahan suasana hati yang dialami pengidapnya sering membuat orang lain menjauhi pengidap.  Lantas, benarkah sifat impulsif bisa menjadi tanda awal gangguan kepribadian ambang?

Baca juga: Kenapa Perempuan Sering Alami Gangguan Kepribadian Ambang?

Benarkah Impulsif Adalah Gejala Awal Gangguan Kepribadian Ambang?

Perilaku impulsif yang dimiliki seseorang tidak serta merta menandakan bahwa orang tersebut mengidap gangguan kepribadian ambang. Pada gangguan kepribadian ambang, perilaku impulsif yang dimiliki biasanya lebih berisiko. 

Perjudian, mengemudi secara sembrono, hubungan seks yang tidak aman, membuang-buang waktu, makan berlebihan, penyalahgunaan narkoba, berhenti dari pekerjaan secara tiba-tiba atau mengakhiri hubungan yang positif adalah salah satu perilaku impulsif yang dapat dialami pengidap gangguan kepribadian ambang.

Bukan hanya perilaku impulsif, melansir dari Mayo Clinic, pengidap gangguan kepribadian ambang juga kerap mengalami kondisi berikut ini: 

  • Sangat takut diabaikan. Saking takutnya, pengidap bisa nekat melakukan tindakan ekstrem untuk menghindari perpisahan atau penolakan.

  • Memiliki pola hubungan yang tidak stabil. Awalnya, pengidap mungkin menyukai seseorang. Namun, mereka bisa tiba-tiba percaya bahwa orang tersebut tidak peduli atau kejam.

  • Kesulitan memahami identitas dan citra dirinya. 

  • Mengalami paranoia akibat stres. Periode paranoia dapat berlangsung selama berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam.

  • Mengancam untuk melakukan bunuh diri atau mencederai diri sendiri ketika merasa takut akan perpisahan atau penolakan.

  • Mengalami perubahan suasana hati yang berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari. Mereka bisa tiba-tiba merasa bahagia, marah, malu atau cemas.

  • Sering merasa kosong.

  • Punya sifat marah yang tidak normal, seperti sering kehilangan kesabaran, bersikap sarkastik, tak acuh dan lain-lain.

Baca juga: Ini Beda Mood Swing dan Gangguan Kepribadian Ambang

Apabila kamu mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya temui psikolog untuk diidentifikasi lebih lanjut. Kalau kamu berencana mengunjungi rumah sakit untuk menemui psikolog, kamu bisa membuat janji terlebih dahulu melalui aplikasi Halodoc. Lewat Halodoc, kamu bisa tahu estimasi waktu bertemu dokter, sehingga tidak perlu mengantre lama-lama.

Perawatan untuk Pengidap Gangguan Kepribadian Ambang

Cara untuk menangani gangguan kepribadian ambang, dokter atau psikolog dapat merekomendasikan satu atau lebih perawatan yang mencakup psikoterapi, obat-obatan, atau rawat inap. Psikoterapi adalah pengobatan utama untuk gangguan kepribadian ambang. Dokter atau psikolog dapat merekomendasikan salah satu dari jenis psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif (CBT), terapi perilaku dialektik, dan terapi yang berfokus pada skema.

Pemberian obat-obatan tidak menyembuhkan gangguan kepribadian ambang. Pemberian obat hanya bertujuan untuk meringankan gejala yang dialami oleh pengidap. Obat-obatan yang kerap diberikan oleh dokter, yaitu antidepresan untuk mengobati depresi, antipsikotik untuk mengobati gejala agresif dan obat anti kecemasan untuk mengobati kecemasan.

Baca juga: Anak-anak Bisa Mengidap Gangguan Kepribadian Ambang?

Jika gejala berkembang parah, dokter akan menyarankan pengidap untuk dirawat di rumah sakit. Hal ini seringkali dilakukan ketika pengidap mencoba bunuh diri, punya pikiran untuk bunuh diri, atau berpikir untuk melukai diri sendiri atau orang lain.

Referensi :
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Borderline personality disorder.
Healthline. Diakses pada 2020. Borderline Personality Disorder.