Ad Placeholder Image

Sering Marah Tanpa Alasan? Kenali 6 Penyebabnya

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 23 Juni 2026

Marah tanpa sebab bisa disebabkan oleh gangguan mental, ketidakseimbangan hormonal, kurang tidur, hingga masalah kesehatan.

Sering Marah Tanpa Alasan? Kenali 6 PenyebabnyaSering Marah Tanpa Alasan? Kenali 6 Penyebabnya

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasa sangat sensitif dan mudah marah bahkan karena hal-hal kecil yang biasanya tidak mengganggumu? Sensasi ini sering kali digambarkan sebagai rasa “sumbu pendek,” di mana emosi meledak dengan cepat tanpa kontrol yang baik. Meskipun marah adalah emosi manusiawi yang normal, frekuensi yang terlalu sering dan intensitas yang tidak proporsional bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang mendasari, baik secara fisik maupun mental.

Kondisi mudah tersinggung atau iritabilitas kronis bukan sekadar masalah kepribadian atau temperamen buruk. Secara medis, ini bisa berkaitan dengan fluktuasi hormon, ketidakseimbangan neurotransmiter di otak, hingga kelelahan ekstrem yang tidak disadari. Jika dibiarkan, emosi yang tidak terkendali ini dapat merusak hubungan interpersonal, produktivitas kerja, hingga kesehatan jantungmu sendiri.

Penting bagi kamu untuk mengenali apakah rasa marah tersebut muncul karena faktor eksternal sesaat atau merupakan gejala dari kondisi kesehatan tertentu. Memahami akar masalah adalah langkah pertama untuk mendapatkan penanganan yang tepat, mulai dari perubahan gaya hidup hingga bantuan profesional jika diperlukan.

Nah, mau tahu apa saja penyebab dan cara mengatasi kondisi mudah marah ini? Berikut ulasannya!

Memahami Kondisi Mudah Marah

Iritabilitas atau kecenderungan untuk mudah marah adalah keadaan emosional di mana seseorang merasa sangat rentan terhadap rangsangan yang mengganggu. Dalam dunia psikologi, ini sering disebut sebagai ambang toleransi yang rendah terhadap stres. Saat seseorang berada dalam kondisi ini, sistem saraf simpatik—yang bertanggung jawab atas respons fight or flight—menjadi sangat aktif, bahkan terhadap pemicu yang sepele.

Secara fisiologis, saat kamu marah, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan otot-otot menegang. Jika kondisi ini terjadi berulang kali dalam waktu singkat, tubuh tidak memiliki kesempatan untuk kembali ke keadaan rileks atau homeostasis, yang pada akhirnya memicu kelelahan mental yang lebih parah.

Penyebab Medis dan Psikologis

Ada berbagai faktor yang bisa membuat seseorang menjadi lebih emosional dari biasanya. Berikut adalah beberapa penyebab yang paling umum ditemukan:

1. Kurang Tidur Kronis

Tidur adalah waktu bagi otak untuk memproses emosi dan melakukan “pembersihan” sisa metabolisme. Ketika kamu kurang tidur, amigdala (bagian otak yang memproses emosi) menjadi lebih reaktif, sementara prefrontal cortex (bagian otak yang mengontrol logika) melemah. Akibatnya, kamu kehilangan kemampuan untuk menyaring emosi negatif.

2. Gangguan Kecemasan dan Depresi

Banyak orang mengira depresi hanya soal kesedihan, namun pada banyak kasus—terutama pada pria—depresi justru muncul dalam bentuk iritabilitas dan kemarahan. Begitu juga dengan gangguan kecemasan, di mana rasa takut yang terus-menerus membuat seseorang selalu merasa terancam dan mudah meledak.

3. Ketidakseimbangan Hormon

Pada wanita, fase pramenstruasi (PMS) atau masa perimenopause sering kali ditandai dengan perubahan suasana hati yang drastis. Penurunan hormon estrogen dan progesteron memengaruhi kadar serotonin, zat kimia otak yang menjaga perasaan bahagia dan tenang.

4. Kadar Gula Darah Rendah (Hangry)

Istilah “hangry” (hungry and angry) memiliki penjelasan medis. Otak sangat bergantung pada glukosa untuk berfungsi. Saat kadar gula darah turun, otak akan kesulitan mengontrol impuls emosi, sehingga kamu cenderung lebih cepat marah dan sulit konsentrasi.

Tanda-Tanda Kemarahan yang Tidak Sehat
  1. Marah hingga melakukan kekerasan fisik atau verbal secara spontan.
  2. Merasa menyesal yang sangat dalam setelah ledakan emosi terjadi.
  3. Mengalihkan amarah kepada orang yang tidak bersalah.
  4. Memendam amarah dalam waktu lama hingga memicu sakit fisik seperti sakit kepala atau maag.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika perasaan mudah marah ini sudah berlangsung selama lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, seperti mengganggu hubungan dengan pasangan atau menghambat pekerjaan, sebaiknya kamu segera mencari bantuan. Jangan menunggu sampai kondisi ini memicu komplikasi kesehatan fisik seperti hipertensi atau gangguan tidur yang lebih parah.

Sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis awal. Dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan darah untuk melihat kadar hormon atau merujukmu ke psikolog untuk terapi kognitif perilaku.

Cara Mengatasi Secara Mandiri

Selain bantuan medis, ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan sendiri di rumah untuk meredam emosi:

1. Latihan Pernapasan Dalam (Deep Breathing)

Saat merasa emosi mulai naik, tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, tahan 4 detik, dan hembuskan perlahan melalui mulut selama 6 detik. Ini mengirimkan sinyal ke otak bahwa kamu aman, sehingga detak jantung akan melambat.

2. Cukupi Kebutuhan Nutrisi dan Hidrasi

Pastikan kamu tidak melewatkan waktu makan. Jika kamu merasa sering lemas dan emosional akibat kelelahan, kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan suplemen multivitamin yang dapat membantu menjaga kebugaran tubuh.

3. Olah Raga Rutin

Aktivitas fisik melepaskan endorfin, yaitu hormon yang secara alami memperbaiki suasana hati dan mengurangi kadar kortisol dalam tubuh.

Studi Mengenai Iritabilitas dan Kesehatan Mental

The Journal of Clinical Psychiatry menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa iritabilitas yang persisten sering kali merupakan gejala sisa dari gangguan depresi mayor yang tidak terdiagnosis sepenuhnya. Studi ini menekankan bahwa kemarahan yang tidak terkendali memiliki kaitan erat dengan tingkat keparahan penyakit mental yang dialami seseorang.

Penelitian lain menunjukkan bahwa individu dengan tingkat iritabilitas tinggi memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular karena stres kronis yang dialami sistem peredaran darah mereka. Hal ini membuktikan bahwa mengelola emosi bukan sekadar masalah perilaku, melainkan investasi kesehatan jangka panjang.

Jangan biarkan emosi mengendalikan hidupmu. Jika perubahan gaya hidup belum memberikan hasil yang signifikan, segera bicarakan dengan ahli kesehatan. Kamu bisa mendapatkan dukungan yang diperlukan melalui aplikasi kesehatan terpercaya.

Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan, seperti merasa sering lelah atau emosi tidak stabil, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

HILDA adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Anger management: 10 tips to tame your temper.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Irritability: Causes, Symptoms and Treatment.
Psychology Today. Diakses pada 2026. The Science of Irritability.
Kemenkes RI. Diakses pada 2026. Mengenal Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental.

FAQ

1. Apakah kurang tidur bisa menyebabkan seseorang mudah marah?

Ya, kurang tidur sangat memengaruhi kemampuan otak dalam meregulasi emosi. Hal ini membuat amigdala menjadi lebih reaktif terhadap pemicu stres sehingga seseorang menjadi lebih cepat tersinggung.

2. Apa perbedaan antara marah biasa dan iritabilitas medis?

Marah biasa biasanya memiliki pemicu yang jelas dan mereda setelah masalah selesai. Iritabilitas medis cenderung terjadi terus-menerus tanpa alasan yang kuat dan sering kali disertai gejala fisik seperti kelelahan atau pusing.

3. Apakah makanan manis bisa membantu meredakan amarah?

Meskipun gula memberikan energi instan, konsumsi gula berlebih dapat menyebabkan lonjakan dan penurunan gula darah secara drastis (sugar crash), yang justru bisa memperburuk suasana hati di kemudian hari.

4. Bagaimana cara menghadapi orang yang sedang mudah marah?

Berikan ruang bagi mereka, jangan membalas dengan emosi yang sama, dan cobalah untuk mendengarkan tanpa menghakimi setelah kondisi mereka mulai lebih tenang.