
Spasmodic Dysphonia: Ini Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya
Spasmodic Dysphonia gangguan yang menyebabkan otot di dalam pita suara mengalami kejang secara tidak terkendali, sehingga suara terdengar tidak jelas.

DAFTAR ISI
- Apa itu Spasmodic Dysphonia?
- Penyebab Spasmodic Dysphonia
- Gejala yang Perlu Diwaspadai
- Jenis-Jenis Spasmodic Dysphonia
- Diagnosis Spasmodic Dysphonia
- Cara Mengobati Spasmodic Dysphonia
- Pencegahan
- Kapan Harus ke Dokter?
Kamu pernah merasa suara tiba-tiba terdengar tercekik, putus-putus, atau sulit keluar saat berbicara?
Dalam kondisi normal, pita suara akan bergetar saat udara dari paru-paru melewatinya, sehingga menghasilkan suara yang jelas.
Namun, jika kelancaran bicara terganggu tanpa adanya sakit tenggorokan atau flu, hal ini bisa menjadi tanda spasmodic dysphonia.
Berbeda dengan radang tenggorokan biasa, spasmodic dysphonia merupakan gangguan yang bersumber dari sistem saraf otak.
Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berdampak besar pada rasa percaya diri serta kemampuan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Spasmodic Dysphonia?
Spasmodic dysphonia adalah gangguan neurologis pada suara yang terjadi ketika otot-otot pita suara bergerak tanpa kendali. Kondisi ini menyebabkan kejang pada pita suara saat seseorang berbicara.
Kejang tersebut dapat membuat pita suara menutup terlalu rapat, sehingga suara terdengar tegang dan tercekik.
Pada kondisi lain, pita suara justru menjadi terlalu longgar, sehingga suara terdengar lemah dan seperti kehabisan napas.
Akibat gangguan ini, pita suara tidak dapat bergetar secara harmonis saat udara melewatinya, sehingga kualitas suara menjadi tidak stabil dan sulit dikendalikan.
Spasmodic dysphonia termasuk dalam distonia fokal, yaitu gangguan gerakan yang hanya mempengaruhi bagian tubuh tertentu akibat sinyal saraf dari otak yang tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Penyebab Spasmodic Dysphonia
Penyebab pasti spasmodic dysphonia belum sepenuhnya diketahui. Namun, kondisi ini diyakini berkaitan dengan gangguan sinyal saraf dari otak ke otot pita suara.
Beberapa faktor yang diduga berperan antara lain:
- Gangguan Basal Ganglia: Adanya gangguan fungsi pada bagian otak yang mengoordinasikan gerakan otot tubuh.
- Faktor Genetik: Sekitar 1 dari 4 pasien memiliki riwayat keluarga dengan gangguan distonia.
- Karakteristik Pasien: Kondisi ini lebih sering ditemukan pada wanita dan biasanya muncul pertama kali pada usia 30 hingga 50 tahun.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Spasmodic dysphonia memiliki ciri khas, yaitu gejalanya sering kali hanya muncul saat berbicara. Kondisi ini dikenal sebagai task-specific.
Gejala yang umum dirasakan meliputi:
- Suara yang terdengar tegang, tercekik, atau bergetar
- Suara yang tiba-tiba hilang menjadi bisikan
- Kesulitan berbicara di telepon atau saat merasa stres
Uniknya, suara penderita sering terdengar lebih normal saat tertawa, bernyanyi, berteriak, atau berbicara dengan nada tinggi.
Baca juga artikel ini: Catat, Ini Cara Merawat Kesehatan Pita Suara
Jenis-Jenis Spasmodic Dysphonia
Spasmodic dysphonia dibagi menjadi beberapa jenis, tergantung bagaimana otot pita suara bereaksi saat seseorang berbicara.
Setiap jenis bisa menimbulkan keluhan suara yang berbeda.
1. Adductor Spasmodic Dysphonia
Ini adalah jenis yang paling umum dialami penderita spasmodic dysphonia.
Pada kondisi ini, otot pita suara menutup terlalu kuat saat berbicara. Akibatnya, suara jadi sulit keluar dan terdengar:
- Tercekik
- Tegang
- Terputus-putus
- Seperti tertahan di tenggorokan
Orang dengan jenis ini sering merasa harus memaksa suara agar bisa keluar, terutama saat berbicara panjang atau dalam situasi formal.
2. Abductor Spasmodic Dysphonia
Pada jenis ini, otot pita suara justru terbuka terlalu lebar saat berbicara.
Akibatnya, udara terlalu banyak keluar tanpa getaran suara yang cukup. Suara yang dihasilkan biasanya:
- Sangat lemah
- Seperti berbisik
- Cepat habis napas
- Sulit terdengar di lingkungan ramai
Penderita sering harus mengulang kata atau berbicara lebih keras agar bisa dipahami orang lain, meski justru terasa semakin melelahkan.
3. Mixed Spasmodic Dysphonia
Jenis ini merupakan gabungan dari adductor dan abductor spasmodic dysphonia, meskipun kasusnya sangat jarang.
Pada kondisi ini, pita suara bisa:
- Kadang menutup terlalu kuat
- Kadang justru terbuka terlalu lebar
Akibatnya, kualitas suara menjadi sangat tidak stabil dan sulit diprediksi. Dalam satu percakapan, suara bisa terdengar tercekik, lalu tiba-tiba berubah menjadi lemah atau berbisik.
Diagnosis Spasmodic Dysphonia
Karena gejalanya mirip dengan gangguan suara lain, diagnosis spasmodic dysphonia perlu dilakukan oleh tenaga medis yang berpengalaman.
Pemeriksaan biasanya melibatkan:
- Dokter THT: Melakukan pemeriksaan laringoskopi serat optik untuk melihat pergerakan pita suara.
- Terapis wicara: Mengevaluasi kualitas suara dan pola bicara.
- Dokter saraf: Memeriksa apakah ada tanda-tanda distonia atau gangguan gerak lainnya di bagian tubuh lain.
Cara Mengobati Spasmodic Dysphonia
Sampai saat ini belum ada obat permanen, namun gejalanya sangat bisa dikontrol:
- Suntikan Botox : Standar emas pengobatan. Botox disuntikkan langsung ke otot laring untuk melemahkan otot yang kejang. Efeknya bertahan 3-4 bulan.
- Terapi Wicara: Membantu pasien teknik pernapasan untuk meminimalkan ketegangan saat bicara.
- Operasi: Prosedur seperti Thyroplasty atau pembedahan saraf laring dapat dipertimbangkan jika Botox tidak efektif, meskipun hasilnya bervariasi bagi setiap orang.
Pencegahan
Meski sulit dicegah sepenuhnya, beberapa langkah ini dapat membantu mengelola gejala:
- Mengelola stres dengan baik
- Tidak memaksakan suara
- Istirahat yang cukup
- Menggunakan alat bantu suara bila diperlukan
- Mengikuti terapi secara rutin
Selain itu, kamu bisa mempelajari di artikel berikut: Begini Cara Ampuh untuk mengatasi Cedera Pita Suara
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu mengalami perubahan suara yang berlangsung lebih dari 2–3 minggu, terutama bila suara mulai terdengar terputus-putus atau tegang tanpa disertai infeksi saluran napas, segera konsultasikan dengan dokter spesialis THT di Halodoc untuk mendapatkan pertolongan pertama yang sesuai.
Spasmodic dysphonia adalah kondisi saraf seumur hidup, namun dengan bantuan medis yang tepat, penderita tetap dapat berkomunikasi dengan efektif.
Meski begitu, dengan penanganan medis yang tepat, penderitanya tetap dapat berkomunikasi dengan baik dan menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.
Untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang sesuai dengan jenis spasmodic dysphonia yang kamu alami, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter.
Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter tepercaya:

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Spasmodic Dysphonia: Symptoms, Causes, Types & Treatment.
National Institute on Deafness and Other Communication Disorders. Diakses pada 2026. Spasmodic Dysphonia.
Weill Cornell Medicine (Sean Parker Institute for the Voice). Diakses pada 2026. Spasmodic Dysphonia Disorders.
FAQ
1. Apakah Spasmodic Dysphoniabisa sembuh total?
Secara medis belum ada obat yang menyembuhkan 100%, namun suntikan Botox rutin dapat membuat suara terdengar hampir normal.
2. Apakah suara penderita Spasmodic Dysphonia akan hilang selamanya?
Tidak, SD tidak menyebabkan kehilangan suara total, namun kualitasnya akan terus terganggu tanpa perawatan.
3. Apakah Spasmodic Dysphonia berkaitan dengan Parkinson?
Tidak, keduanya adalah kondisi neurologis yang berbeda.


