• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Stres Bisa Picu Tinnitus, Ini Fakta yang Harus Diketahui

Stres Bisa Picu Tinnitus, Ini Fakta yang Harus Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Orang yang mengalami stres biasanya juga mengalami tinnitus. Sebaliknya, orang yang mengalami tinnitus juga bisa stres karena kondisinya. Jika kamu mengalami stres akibat tinnitus, kamu dapat mengandalkan berbagai jenis strategi penanggulangan stres. Ini termasuk mencoba untuk secara mental fokus pada hal-hal lain. 

Strategi lainnya adalah dengan melakukan aktivitas fisik atau aktivitas lain untuk mengurangi tingkat stres. Informasi selengkapnya bisa dibaca di bawah ini!

Korelasi Stres dan Tinnitus

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Hear-it.org, disebutkan kalau 53,6 persen orang dengan tinitus melaporkan bahwa tinitus muncul selama periode stres, sedangkan 52,8 persen melaporkan bahwa tinitus mereka meningkat selama periode stres. Data ini menunjukkan kalau terdapat korelasi antara stres dan tinnitus.

Tinnitus adalah kondisi fisik yang ditandai dengan suara atau dering di telinga atau kepala seseorang, ketika tidak ada suara seperti itu di lingkungannya. Tinnitus sebenarnya adalah gejala kesalahan dalam sistem pendengaran termasuk telinga dan otak. 

Baca juga: Jangan Abaikan Stres, Ini Cara Mengatasinya

Tinnitus tidak harus secara dramatis memengaruhi kualitas hidup seseorang. Cobalah untuk tidak terlalu memusatkan perhatian pada tinnitus dan ambil langkah-langkah untuk mengelola kondisinya. 

Hindari kebisingan yang berlebihan dan temukan teknik relaksasi dan manajemen stres yang cocok untukmu. Persentase orang yang terkena tinnitus yang berdampak pada kesehatannya secara signifikan sangat kecil. Tinnitus bisa dipengaruhi oleh stres atau kelelahan, tetapi ini tidak memiliki signifikansi yang berbahaya.

Orang dengan tinnitus biasanya mengalami gejala telinga berdering, berdengung, terdengar siulan, gemuruh, atau bahkan senandung. Jika kamu butuh saran dan informasi mengenai kesehatan mental, bisa ditanyakan lewat aplikasi Halodoc.   

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Faktor Risiko Tinnitus

Selain stres, tinnitus juga dapat dipengaruhi oleh beberapa kondisi termasuk paparan suara keras, degenerasi sel-sel rambut di koklea, masalah telinga, seperti otosklerosis (pertumbuhan tulang abnormal di telinga tengah), penyakit Meniere (pembengkakan saluran di telinga), konsumsi beberapa obat tertentu, dan pengalaman traumatis.

Setelah mengetahui faktor-faktor risiko tinnitus, kamu dapat melakukan pencegahan sebagai berikut: 

  1. Gunakan penyumbat telinga jika kamu akan terkena suara keras lebih dari 85 desibel (dB).

  2. Jika kamu mendengarkan musik live, jangan berdiri di dekat speaker.

  3. Jika mendengarkan musik melalui headphone, gunakan headphone peredam bising, dan jaga volume serendah mungkin (pasti lebih rendah dari 80 persen dan kurang dari 90 menit per hari).

  4. Cobalah untuk mengurangi tingkat stres.

  5. Jaga kebersihan penyumbat telinga atau alat bantu dengar yang digunakan. Alat penyumbat telinga yang kotor dapat menyebabkan infeksi sehingga memicu tinnitus.

Baca juga: Ini 4 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Self-Image

Tidak ada obat khusus untuk pengobatan tinnitus. Obat penenang dan beberapa obat lain mungkin terbukti membantu pada tahap awal. Namun, konsumsi obat-obatan tanpa konseling jarang efektif. 

Tetap aktif secara fisik dan mental seperti berolahraga saat bermanfaat untuk tidak fokus terhadap kondisi tinnitus. Kamu juga bisa memulainya dengan mengembangkan hobi atau minat. Bahkan jika tinitus kamu kumat saat bekerja, tetaplah aktif secara fisik dan mental. Jangan menarik diri dari kehidupan sosial.

Referensi:
Hear-it.org. Diakses pada 2020. Tinnitus and stress.
Better Health Channel. Diakses pada 2020. Tinnitus.