• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Terapi Oksigen Bisa Dilakukan untuk Atasi Asbestosis
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Terapi Oksigen Bisa Dilakukan untuk Atasi Asbestosis

Terapi Oksigen Bisa Dilakukan untuk Atasi Asbestosis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani : 22 Juli 2020
Terapi Oksigen Bisa Dilakukan untuk Atasi Asbestosis

Halodoc, Jakarta - Asbestosis dapat terjadi akibat menghirup serat asbes kecil. Asbestos adalah mineral alami yang berbentuk serat. Serat asbes tidak dapat menguap ke udara atau larut dalam air. Selama berabad-abad, bahan properti ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang parah untuk paru-paru.

Namun, perlu kamu ketahui bahwa asbes tidak berbahaya jika tidak berbentuk debu. Selama kamu tidak menghirupnya, bahan ini masih aman. Namun, jika sampai terhirup, serat asbes dapat menyebabkan kerusakan secara bertahap pada paru-paru. Salah satu gejalanya adalah sesak napas. Jika ini terjadi, terapi oksigen pun perlu dilakukan. 

Baca juga: Dampak Udara Kotor pada Kesehatan Paru-paru

Terapi Oksigen untuk Atasi Asbestosis

Terapi ini diberikan jika pengidap asbestosis mengalami kesulitan bernapas atau menghirup oksigen. Selama gejala sesak napas terjadi, orang yang mengalami asbestosis memiliki kadar oksigen yang rendah sehingga mengganggu kondisi kesehatan. 

Ketika seseorang mengalami penyakit atau gangguan paru, organ pernapasan utama berjuang untuk mendapatkan oksigen. Hanya saja kemampuan paru-paru seseorang menurun drastis akibat mengalami asbestosis. Oksigen yang berada di udara bebas tidak mampu terhirup secara optimal akibat sesak napas. Dalam keadaan seperti ini, diperlukan terapi oksigen untuk mengatasinya. 

Terapi ini biasanya akan diberikan berdasarkan resep dari dokter. Artinya, kamu perlu berdiskusi terlebih dulu pada dokter melalui aplikasi Halodoc sebelum melakukan terapi oksigen. 

Oksigen yang diberikan biasanya berasal dari tabung oksigen saat melakukan terapi ini. Dari tabung oksigen akan mengalir ke paru-paru kamu melalui tiga cara, yaitu:

  • Nasal cannula, yaitu selang plastik berukuran kecil yang dipasang pada kedua lubang hidung. 
  • Alat berbentuk masker wajah yang menutupi hidung dan mulut. 
  • Alat seperti selang kecil yang dimasukkan ke dalam batang tenggorokan dari leher depan. Dokter akan membuat sayatan kecil untuk memasang selang tersebut. Oksigen yang mengalir dengan cara ini juga disebut terapi oksigen transtrakeal. 

Kamu dapat melakukan terapi ini di rumah maupun di rumah sakit. Meskipun dilakukan di rumah, kamu tetap memerlukan pengawasan dokter mengenai dosis yang kamu perlukan. Jika kondisimu belum terlalu gawat, dokter akan merekomendasikan terapi oksigen di rumah sakit sesekali. 

Baca juga: Ketahui Perbedaan Sarkoidosis dan Asbestosis

Hanya saja jika kamu mengalami asbestosis yang kronis, maka kamu perlu menggunakan terapi oksigen di rumah. Sebab, kamu akan membutuhkan oksigen secara rutin dan sering. 

Terapi oksigen ini terdapat dalam dua jenis, yaitu bentuk gas atau oksigen cair. Kedua jenis oksigen ini dapat disimpan dalam tangki portabel. Oksigen yang berbentuk cair dapat disimpan dalam tangki yang lebih kecil dan bisa digunakan khusus untuk orang aktif supaya dapat dibawa ke mana pun kamu pergi. Namun, oksigen cair lebih mudah menguap apabila tidak digunakan dengan benar. 

Hidup dengan Kondisi Asbestosis

Asbestosis merupakan gangguan progresif, artinya kondisi ini semakin buruk dari waktu ke waktu. Gejala asbestosis mungkin tidak berkembag hingga 20 tahun setelah terpapar, sehingga seseorang akan menunda pengobatan. Seseorang yang terpapar mungkin akan hidup selama beberapa dekade dengan penyakit ini, tapi itu akan berbeda pada setiap orang, sehingga kondisinya dapat bervariasi. Beberapa orang dapat hidup lama dengan kondisi ini, tapi bagi beberapa orang lain akan berbahaya. 

Baca juga: Ingin Memiliki Paru-Paru yang Sehat? Lakukan 5 Cara Ini

Singkatnya, harapan hidup orang dengan asbestosis akan sangat bervariasi pada setiap individu. Banyak faktor yang memengaruhi harapan hidup seseorang, termasuk keparahan gejala, serta kapan dan lamanya perawatan dilakukan. 

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2020. What causes asbestosis?