• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Tifus Bisa Disebabkan oleh Makanan, Benarkah?

Tifus Bisa Disebabkan oleh Makanan, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Tifus adalah penyakit yang bisa menyebabkan beberapa gejala, mulai dari demam tinggi, diare atau konstipasi, sakit kepala, dan sakit perut. Biasanya gejala ini muncul pada satu hingga tiga minggu dan sebabkan komplikasi jika tidak segera ditangani. 

Ada banyak hal yang bisa tingkatkan risiko penyakit ini, semisal sanitasi yang buruk, dan melakukan beberapa hal yang menyebabkan bakteri Salmonella typhii mudah menyebar. Nah, apakah bisa tifus terjadi akibat makanan?

Baca juga: 2 Alasan Bahaya Tifus Bisa Berakibat Fatal

Waspadai Penyebab Tifus

Sanitasi buruk yang buruk adalah hal yang meningkatkan risiko penyakit ini, misalnya menggunakan toilet yang telah terkontaminasi bakteri. Namun, makanan juga menjadi salah satu penyebab yang paling umum. Bakteri penyebab tifus bisa saja masih menempel di sayuran yang menggunakan pupuk dari kotoran manusia. Mereka menetap karena sayuran tidak diolah dengan matang. Produk susu dan olahannya juga termasuk menjadi makanan yang rentan mengalami kontaminasi penyakit ini. 

Oleh karena itu, penting untuk mengolah makanan dengan benar agar bakteri penyebab tifus tidak masuk ke dalam makanan. Caranya, kamu wajib mencuci bersih makanan sebelum diolah dan memasaknya dengan matang. Pastikan juga untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan alat makan harus dijaga kebersihannya. Sementara untuk susu, pastikan kamu hanya mengonsumsi susu yang sudah dipasteurisasi. 

Apabila tidak segera ditangani dengan baik, penyakit tifus bisa menyebabkan komplikasi seperti pendarahan internal atau pecahnya usus. Oleh karena itu, jika kamu merasakan gejala yang mencurigakan, pastikan segera mengunjungi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan dengan dokter. Sebelumnya, kamu bisa buat janji dokter melalui aplikasi Halodoc supaya lebih praktis. 

Baca juga: Diagnosis Penyakit Tifus dengan Tes Mikrobiologi, Ini Penjelasannya

Langkah Penanganan dan Pencegahan Tifus

Setelah menelan makanan atau air yang terkontaminasi, bakteri Salmonella menyerang usus kecil dan memasuki aliran darah. Bakteri ini dibawa oleh sel darah putih di hati, limpa, dan sumsum tulang, di mana mereka berkembang biak dan memasuki kembali aliran darah. Bakteri akan menyerang kantung empedu, sistem empedu, dan jaringan limfatik usus. Di sini, mereka berkembang biak dalam jumlah tinggi dan masuk ke saluran usus dan dapat diidentifikasi dalam sampel tinja. Oleh karena itu, jika hasil tes feses tidak jelas, sampel darah atau urine akan diambil untuk membuat diagnosis.

Langkah penanganan yang efektif untuk mengatasi tifus adalah dengan memberikan obat antibiotik. Selain itu, jika demam masih terjadi, maka diberikan obat penurun demam. Sebelum dokter menggunakan antibiotik, tingkat kematian penyakit tifus cukup tinggi, yaitu sekitar 20 persen. Kematian terjadi karena infeksi yang luar biasa, radang paru-paru, pendarahan usus, atau perforasi usus. Dengan antibiotik dan perawatan suportif, angka kematian telah berkurang menjadi 1 hingga 2 persen. Dengan terapi antibiotik yang tepat, biasanya ada perbaikan dalam satu hingga dua hari dan pemulihan dalam tujuh hingga 10 hari.

Pengobatan tifus biasanya dilakukan di rumah sakit, namun ketika gejala masih tergolong ringan dan terdeteksi lebih cepat, maka perawatan di rumah bisa dilakukan. Asalkan pengidapnya tetap beristirahat dan pemberian obat-obatan diberikan teratur. 

Baca juga: Cara Membedakan Gejala Hepatitis dan Tipes

Sementara untuk mencegahnya, vaksinasi bisa dilakukan. Di Indonesia vaksin tifoid merupakan imunisasi yang dianjurkan. Vaksin tifoid diberikan kepada anak yang berusia di atas dua tahun dan diulang tiap tiga tahun. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi pencegahan paling utama.

Referensi:
Web MD. Diakses pada 2020. Typhoid Fever.
NHS UK. Diakses pada 2020. Typhoid Fever.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Typhoid Fever