• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Tingkatan Hepatitis dari yang Paling Tidak Berbahaya

Ini Tingkatan Hepatitis dari yang Paling Tidak Berbahaya

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Di Indonesia, kabar mewabahnya hepatitis tidak hanya sekali terjadi. Mereka seringkali mewabah, bahkan pada beberapa kasus, hepatitis bisa menyerang siswa-siswa sekolah dan memaksa pihak sekolah untuk meliburkan dahulu siswa-siswinya untuk menghentikan penyebaran hepatitis. 

Hepatitis memiliki banyak jenis, dengan masing-masing virus penyebabnya berbeda. Namun, semua virus ini memiliki target yang sama yaitu liver. Virus hepatitis terbagi dalam lima jenis, yakni A, B, C, D, dan E. Namun, jenis yang paling umum adalah A, B, dan C. Lantas, di antara banyak jenis ini, yang manakah yang paling tidak berbahaya? 

Baca juga: Fakta Tentang Penyakit Hepatitis

Jenis Hepatitis yang Paling Tidak Berbahaya

Melansir Emedicinehealth, hepatitis A tercatat sebagai hepatitis yang paling tidak berbahaya. Hepatitis A tidak memiliki langkah penanganan khusus karena sistem kekebalan tubuh akan melenyapkan virus tersebut dengan sendirinya. Langkah pengobatan hepatitis A dilakukan hanya untuk meringankan gejala-gejala yang dialami pengidapnya. 

Hepatitis A bisa menginfeksi seseorang melalui perantara makanan yang terkontaminasi oleh feses pengidap hepatitis A. Kelainan ini tidak akan berkembang menjadi hepatitis yang bersifat kronis. Selain itu, hepatitis A dapat ditularkan melalui hubungan intim pada pasangan yang salah satunya mengidap penyakit ini. Namun, kamu tidak perlu khawatir, karena kini telah tersedia vaksin yang bisa mencegah infeksi virus hepatitis A. 

Hepatitis C vs Hepatitis B 

Hepatitis B dan hepatitis C adalah infeksi virus yang menyerang hati, dan mereka memiliki gejala yang sama. Perbedaan paling signifikan antara hepatitis B dan hepatitis C adalah, hepatitis B bisa menular melalui cairan tubuh orang yang terinfeksi. Sementara hepatitis C biasanya menyebar melalui kontak darah-ke-darah. Baik hepatitis B maupun C tidak menyebar melalui batuk, ASI, atau berbagi makanan dengan atau memeluk orang yang terinfeksi. Ini perbedaan keduanya:

  • Hepatitis B

Paparan virus hepatitis B dapat menyebabkan infeksi akut dalam 6 bulan pertama. Penyakit jangka pendek ini menyebabkan gejala seperti flu. Meskipun dimungkinkan untuk tertular hepatitis B melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, penularan penyakit ini sering terjadi melalui cairan tubuh. Mereka bisa menular melalui hubungan seks, dan seorang wanita dapat menularkan infeksi kepada bayi saat melahirkan.

Centers for Disease Control and Prevention melaporkan, semakin muda seseorang ketika mereka terinfeksi hepatitis B, maka semakin besar kemungkinan mereka mengalami infeksi kronis. Jenis hepatitis ini termasuk berbahaya, karena bisa menimbulkan komplikasi berupa kematian. Pencegahannya bisa dilakukan dengan vaksin virus hepatitis B.

  • Hepatitis C

Hepatitis C juga dapat menyebabkan infeksi akut. Menurut Institut the National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, diperkirakan 75 hingga 85 persen orang dengan hepatitis C akut dapat mengembangkan hepatitis C kronis. Namun, sekitar 50 persen orang dengan hepatitis C tidak tahu bahwa mereka memilikinya. Hingga 5 persen pasien dengan hepatitis C bisa meninggal karena sirosis atau kanker hati. Parahnya lagi, belum ada vaksin yang mampu mencegah infeksi virus hepatitis ini. 

Baca juga: 2 Perbedaan Hepatitis dan Sirosis Hati

Cari tahu lebih lanjut seputar penyakit hepatitis dan perbedaannya dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter dengan fitur chat kapan dan di mana saja. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Hepatitis C vs. Hepatitis B: What’s the Difference?
Medical News Today. Diakses pada 2020. What Is the Difference Between Hepatitis B and C?
Emedicine Health. Diakses pada 2020. What Type of Hepatitis Is Most Deadly?