• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Hepatitis C

Hepatitis C

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Hepatitis C

Pengertian Hepatitis C

Hepatitis C adalah salah satu penyakit yang dapat menyerang hati. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini dapat memicu infeksi dan inflamasi pada hati. Penyakit ini umumnya tidak menunjukkan gejala pada tahap-tahap awal. Sekalipun muncul, gejalanya hampir mirip dengan penyakit lain. Gejala tersebut, antara lain selalu merasa lelah, pegal-pegal, serta tidak nafsu makan.

Virus hepatitis tipe C dapat menyebabkan infeksi akut dan kronis. Hepatitis C akut adalah infeksi jangka pendek yang bisa bertahan hingga 6 bulan. Infeksi ini biasanya terjadi tanpa gejala dan jarang menyebabkan kematian. Sekitar 15–45 persen pengidapnya berhasil sembuh dari penyakit hepatitis C akut tanpa penanganan khusus.

Sedangkan sekitar 55–85 persen sisanya, akan menyimpan virus untuk waktu yang lama, kemudian berkembang menjadi infeksi hepatitis C kronis. Pengidap kronis memiliki risiko sekitar 15–30 persen untuk terkena sirosis hati dalam waktu 20 tahun. Komplikasi ini dapat berakibat fatal.

Penyebab Hepatitis C

Hepatitis tipe C disebabkan oleh infeksi akibat virus dengan nama yang sama. Infeksi ini dapat menyebar ketika darah yang telah terkontaminasi virus memasuki aliran darah seseorang. Virus hepatitis C (HCV) terbagi menjadi beberapa bentuk yang berbeda, disebut juga dengan genotipe. Ada tujuh genotipe HCV yang berbeda dan lebih dari 67 subtipe yang telah teridentifikasi.

Faktor Risiko Hepatitis C

Semua orang sebenarnya rentan terhadap hepatitis. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena hepatitis jenis ini, antara lain:

  • Memiliki luka segar atau terbuka yang terpapar darah yang terinfeksi.
  • Menggunakan narkoba suntik.
  • Melakukan hubungan intim tanpa menggunakan kondom dan berganti pasangan.
  • Membuat tato atau tindik tubuh dengan peralatan yang tidak steril.
  • Faktor keturunan (memiliki orangtua yang mengidap hepatitis C).

Virus ini berkembang dalam darah, sehingga penularannya rentan terjadi jika mengalami kontak dengan darah pengidap kondisi tersebut. Misalnya, melalui jarum suntik secara bergantian atau menjalani proses pembuatan tato di tempat yang tidak memiliki peralatan steril.

Di samping itu, saling meminjamkan barang pribadi, seperti gunting kuku dan sikat gigi, serta hubungan intim bebas juga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk tertular penyakit ini. Meskipun begitu, virus tidak akan menular melalui air susu ibu (ASI), makanan, minuman, maupun bersentuhan dengan pengidapnya (seperti bersalaman atau berpelukan).

Gejala Hepatitis C

Penyakit ini umumnya tidak menunjukkan gejala hingga hati benar-benar mengalami kerusakan parah. Banyak orang yang mengidap infeksi tanpa menyadarinya hingga dampak buruknya benar-benar dirasakan. Namun, saat gejalanya benar-benar terjadi, mungkin saja disalahartikan dengan kondisi lainnya. Hal ini disebut dengan hepatitis C kronis.

Beberapa gejala yang dapat timbul, antara lain:

  • Merasa kelelahan.
  • Mudah berdarah atau memar.
  • Kerap tidak nafsu untuk makan.
  • Perubahan warna kuning pada kulit dan mata (penyakit kuning).
  • Penurunan berat badan.
  • Urine yang dihasilkan berwarna gelap.
  • Kulit yang gatal.
  • Pembengkakan di kaki.
  • Mengalami ensefalopati hepatik.
  • Pembuluh darah yang menyerupai laba-laba di kulit (spider angiomas).

Setiap infeksi hepatitis kronis diawali dengan fase yang akut. Gejala akut dapat muncul satu, hingga tiga bulan setelah terpapar virus dan berlangsung dua minggu hingga tiga bulan. Namun, penyakit ini tidak selamanya berkembang menjadi kronis. Beberapa orang membersihkan penyakit hepatitis C setelah memasuki fase akut yang disebut juga dengan pembersihan virus secara spontan.

Diagnosis Hepatitis C

Diagnosis dilakukan untuk mendeteksi dini kondisi ini. Semakin dini penyakit ini terdeteksi dan ditangani, semakin berkurang risiko kerusakan hati yang mungkin terjadi. Pemeriksaan yang biasanya akan dilakukan dokter untuk mendiagnosis kondisi ini, antara lain wawancara medis untuk mengetahui riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan tes darah.

Bila kamu ternyata mengidap hepatitis C, dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan tambahan untuk memeriksa kerusakan hati. Pemeriksaan tersebut bisa meliputi tes darah lainnya, USG hati dan biopsi hati. 

Pengobatan Hepatitis C

Hepatitis C akut biasanya bisa sembuh tanpa penanganan khusus. Sementara pengidap hepatitis C kronis membutuhkan langkah penanganan melalui obat-obatan antivirus. Obat tersebut menghentikan perkembangan virus dan mencegah kerusakan hati. Hal yang perlu diingat, meski sudah pulih, pengidap penyakit ini harus berhati-hati karena memiliki risiko untuk kembali terinfeksi penyakit yang sama.

Jika sudah menyebabkan sirosis, pengidap harus menemui dokter spesialis penyakit hati. Perawatan untuk masalah kesehatan yang berkaitan dengan sirosis meliputi obat-obatan, pembedahan, dan prosedur medis lainnya. Jika hepatitis C menyebabkan gagal hati atau kanker hati, transplantasi hati mungkin perlu dilakukan.

Komplikasi Hepatitis C

Bila tidak diobati,  kondisi kesehatan ini bisa menyebabkan beberapa komplikasi berikut:

  • Sirosis

Ini adalah kondisi ketika hati secara perlahan rusak dan tidak bisa berfungsi secara normal. Jaringan hati yang sehat tergantikan oleh jaringan parut dan sebagian menghalangi aliran darah melalui hati. Pada tahap awal sirosis, hati masih bisa terus berfungsi. Namun, saat sirosis bertambah parah, hati akan mulai gagal berfungsi.

  • Gagal Hati

Disebut juga penyakit hati stadium akhir, gagal hati berkembang selama berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun. Pada tahap ini, hati tidak bisa lagi melakukan fungsi penting atau mengganti sel-sel yang rusak.

  • Kanker Hati

Hepatitis C kronis bisa meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker hati. Bila hepatitis C kronis menyebabkan kerusakan hati yang parah atau sirosis sebelum diobati, kamu akan tetap memiliki risiko kanker hati bahkan setelah pengobatan. Dokter mungkin akan menyarankan tes darah atau tes pencitraan untuk mendeteksi kanker hati.

Pencegahan Hepatitis C

Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksinasi. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko penularan. Misalnya:

  • Berhenti atau tidak menggunakan obat-obatan terlarang
  • Hindari berbagi penggunaan barang-barang pribadi yang berpotensi terkontaminasi darah (seperti gunting kuku dan sikat gigi).
  •  Menerapkan praktik berhubungan intim yang aman dan setia pada satu pasangan.

Meski penyakit ini jarang menular melalui hubungan seks, tetapi penggunaan alat pengaman, seperti kondom dapat menghindarkan kamu dari hepatitis C. Terutama jika terjadi kontak dengan darah, misalnya hubungan intim anal atau darah menstruasi. Pengidap hepatitis C juga lebih berisiko untuk terkena hepatitis jenis lain. Dokter umumnya menganjurkan vaksinasi untuk mencegah hepatitis A dan B.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga memiliki tanda dan gejala di atas, segeralah berbicara dengan dokter agar mendapat penanganan yang tepat. Kamu juga dapat langsung memeriksakan diri pada dokter dengan buat janji di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc. Cukup dengan download aplikasi Halodoc di Apps Store dan Google Play, kemudahan dalam akses kesehatan hanya dengan menggunakan smartphone di tangan!

Referensi: 
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Hepatitis C Information.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Hepatitis.
National Health Service. Diakses pada 2022. Hepatitis.
Medline Plus. Diakses pada 2022. Hepatitis C.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses pada 2022. Hepatitis C.
Diperbarui pada 6 Mei 2022.