• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Trauma Masa Kecil Sebabkan Gangguan Kepribadian Paranoid

Trauma Masa Kecil Sebabkan Gangguan Kepribadian Paranoid

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Gangguan kepribadian paranoid atau Paranoid Personality Disorder (PPD) adalah jenis gangguan kepribadian eksentrik. Gangguan kepribadian eksentrik berarti perilaku orang tersebut mungkin tampak aneh atau tidak biasa bagi orang lain. Seorang individu dengan perilaku kepribadian paranoid bisa curiga terhadap orang lain. Mereka tidak mempercayai motif orang lain dan percaya bahwa orang lain ingin menyakiti mereka. Mereka bisa juga menunjukkan gejala lain seperti enggan untuk curhat pada orang lain, menaruh dendam, mudah marah dan merasa bermusuhan terhadap orang lain.

Gangguan kepribadian paranoid umumnya muncul di awal masa dewasa. Kondisi ini lebih umum dialami pria ketimbang wanita. Sayangnya, penyebab gangguan kepribadian paranoid hingga kini belum diketahui. Namun, para peneliti percaya bahwa kombinasi faktor biologis dan lingkungan dapat menyebabkan gangguan kepribadian paranoid. Salah satunya adalah trauma masa kecil, seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual, bahkan kekerasan verbal. 

Baca juga: Trauma pada Anak Bisa Ganggu Karakternya saat Dewasa?

Trauma Masa Kecil dan Efek Sampingnya

Ada banyak pengalaman berbeda yang dapat membentuk trauma pada masa kecil. Trauma masa kecil adalah peristiwa apa pun yang dialami oleh seorang anak yang mengancam hidup atau integritas tubuh mereka. Pelecehan fisik atau seksual, misalnya, jelas dapat menimbulkan trauma bagi anak-anak. Kejadian satu kali seperti kecelakaan mobil, bencana alam, atau trauma medis dapat membawa dampak psikologis pada anak-anak juga.

Stres yang sedang berlangsung, seperti tinggal di lingkungan berbahaya atau menjadi korban bullying, bisa traumatis, bahkan jika itu terasa seperti kehidupan normal bagi orang dewasa.

Trauma masa kecil juga tidak harus terjadi langsung pada anak. Misalnya, menonton orang yang dicintai menderita atau perceraian orangtua bisa sangat traumatis bagi mereka. 

Melansir Medical News Today, sebuah tinjauan tahun 2017 juga membuktikan bahwa secara konsisten, trauma masa kecil adalah faktor risiko untuk PPD. Namun, para peneliti telah mengidentifikasi faktor-faktor lain yang memprediksi gejala PPD pada masa remaja dan dewasa, seperti:

  • Pengabaian emosional;
  • Pengabaian fisik;
  • Mengabaikan pengawasan;
  • Kemarahan orangtua yang ekstrim atau tidak berdasar.

Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi penyebab dan faktor risiko PPD. 

Baca juga: Ketahui 5 Efek Cyber Bullying pada Anak

Gejala Paranoid

Seringkali, orang dengan gangguan kepribadian paranoid tidak percaya bahwa perilaku mereka tidak normal. Mungkin terlihat sangat rasional bagi seseorang dengan PPD untuk curiga terhadap orang lain. Namun, orang-orang di sekitar mereka mungkin percaya ketidakpercayaan ini tidak beralasan, menyinggung, dan membuat ketidaknyamanan.

Orang dengan PPD bisa sangat keras kepala. Mereka mungkin sarkastik dan sering memunculkan tanggapan yang menyerang orang lain, yang mungkin tampaknya merasakan keganjilan pada dirinya.

Ada beberapa gejala yang umum terjadi pada orang dengan gangguan paranoid. Gejala tersebut antara lain: 

  • Meragukan kesetiaan orang lain,
  • Hipersensitif terhadap kritik,
  • Sulit untuk bekerja dengan orang lain,
  • Dapat marah dengan cepat, 
  • Kerap mengisolasi diri,
  • Bersikap argumentatif dan defensif,
  • Mengalami kesulitan melihat masalah mereka sendiri,
  • Mengalami kesulitan untuk bersantai dan menikmati momen.

Untuk lebih jelasnya, kamu bisa bertanya pada psikolog di Halodoc mengenai gejala dari gangguan kepribadian paranoid. Psikolog akan menjelaskan semua informasi yang kamu perlukan mengenai kondisi ini melalui fitur chat. 

Baca juga: Selalu Curiga pada Pasangan, Benarkah Termasuk Paranoid?

Cara Agar Trauma Masa Kecil Tak Menyebabkan Paranoid 

Dukungan keluarga dapat menjadi kunci untuk mengurangi dampak trauma pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mendukung seorang anak setelah ia mengalami peristiwa traumatis: 

  • Dorong anak agar mau membicarakan perasaannya dan orangtua harus mengesahkan emosinya,
  • Jawab setiap pertanyaan yang anak ajukan dengan jujur,
  • Yakinkan anak bahwa kamu akan melakukan apa saja untuk membuatnya aman,
  • Tetap berpegang pada rutinitas harian sebaik mungkin.

Sebetulnya, caranya akan berbeda tiap orang dan ini tergantung pada usia dan kebutuhan anak. Ia bisa saja melakukan terapi perilaku kognitif, terapi bermain, atau terapi keluarga. Obat juga bisa menjadi pilihan untuk mengobati gejala trauma pada anak untuk mencegah anak mengembangkan gangguan paranoid di masa yang akan datang. 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Paranoid Personality Disorder.
Medical News Today. Diakses pada 2020. What to Know about Paranoid Personality Disorder.
Very Well Mind. Diakses pada 2020. Treating the Effects of Childhood Trauma.