Konten Prank Diminati, Kenapa Orang Senang Melihat yang Lain Susah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Konten Prank Diminati, Kenapa Orang Senang Melihat yang Lain Susah?

Halodoc, Jakarta – Akhir-akhir ini kita sering mendengar pemberitaan tentang prank, mulai dari ngerjain ojek online sampai pura-pura jadi gembel. Sebenarnya tujuan dari prank ini adalah untuk mencairkan situasi, tetapi terkadang prank terlalu berlebihan.

Dan seiring dengan perkembangan dunia internet, tujuan prank untuk mencairkan situasi bergeser dari viral dan hiburan bagi diri sendiri ataupun kelompoknya. Apakah ini menandakan kalau kecenderungan masyarakat era sekarang senang melihat orang lain susah?

Manusia Suka dengan Kejutan

Kalau menurut Tony Blockley kriminolog dari University of Derby, keinginan untuk menakuti, memberi kejutan, atau istilah sekarang disebut prank adalah produk dari obsesi manusia akan sesuatu yang sifatnya sensasional.

Bahkan kalau Tony menilai, unsur syok yang diberikan oleh prank sudah, seperti mata uang untuk mengesankan dan ketagihan. Pada akhirnya, prank yang dulunya hanya sesekali dilakukan, kini menjadi budaya. 

Ketika berhasil mengejutkan orang lain, maka sama dengan memberi makan ego pribadi, kenaikan status, pemberian pujian, dan pencapaian hidup. Ketika memberikan prank kepada seseorang, si korban ibarat objek dan pemberi prank adalah subjek yang punya otoritas mengendalikan emosi si korban. 

Baca juga: Seni Sebagai Terapi Gangguan Jiwa

Ini adalah dorongan psikologis manusia untuk mendominasi dan mengendalikan manusia lainnya. Ketika seseorang berhasil menakuti orang lainnya ini membuatnya merasa memiliki power lebih besar. 

Pada situasi yang umum, kita tidak bisa mengontrol perilaku seseorang, tetapi dengan prank kita bisa mengontrol dan memberi mereka kejutan. Ketika akhirnya prank divideokan dan mendapat sambutan antusias, ini menjadi dorongan untuk orang-orang lainnya melakukan hal yang sama. Tentu saja demi satu tujuan, yaitu viral.

Prank yang Bertanggung jawab

Kalau Sigmund Freud bilang, lelucon adalah kebenaran yang dibungkus dengan senyuman. Dalam arti walaupun tujuan dari lelucon itu cuma “humor” sebenarnya ada unsur kesengajaan dan pelampiasan emosi.

Baca juga: Suka Menyebar Kebencian di Media Sosial Tanda Gangguan Mental, Benarkah?

Banyak lelucon yang kalau ditilik menunjukkan pandangan seseorang atau kelompok akan suatu hal. Misalnya, lelucon etnis, ras, ataupun prasangka-prasangka sosial lainnya. Lelucon sarkasme kerap dibumbui dengan kebenaran yang menunjukkan kemarahan atau permusuhan tersirat yang ingin dikeluarkan. 

Bahkan, penghinaan diri yang dilakukan dengan cara bercanda dapat menunjukkan ketidakpercayaan diri. Dorongan mengeluarkan lelucon ataupun prank ini disuburkan oleh perkembangan platform, sehingga akhirnya prank/lelucon menjadi sesuatu yang biasa karena dibiasakan. 

Tidak ada yang salah dari melakukan prank asalkan bertanggung jawab dan dilakukan tidak secara berlebihan, apalagi kalau tujuan utamanya untuk viral. Kita tidak bisa mengendalikan perkembangan teknologi, tetapi sejatinya kita bisa mengendalikan perilaku untuk tidak menyuburkan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan secara massal. Apalagi kalau sampai membudaya.

Kamu tentu masih ingat prank ojol di mana seseorang memesan makanan sampai jutaan rupiah, kemudian ketika makanan sudah sampai, dia menyangkal telah memesan makanan tersebut. Ketika melakukan prank ketahui audiens, walaupun akhirnya hanya bercanda, tetapi emosi yang diakibatkan kejutan tersebut bisa jadi merusak kestabilan emosinya. 

Kita tidak pernah tahu apa yang dialami seseorang, bagaimana kondisi kesehatannya, belum tentu dia bisa menerima kejutan yang dibuat. Apalagi kalau kejutannya didahului dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. 

Sekarang ini sudah semakin banyak gangguan kesehatan mental yang membuat orang tidak stabil dalam berpikir, kalau kamu membutuhkan saran ataupun rekomendasi dari ahlinya mengenai isu psikologis, tanyakan saja di Halodoc

Dokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk kamu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Referensi:
Vice. Diakses pada 2019. What Our Love of Sadistic Pranks Tells Us About Ourselves.
New York Times. Diakses pada 2019. April Fool! The Purpose of Pranks.
Psychology Today. Diakses pada 2019. The Joke’s on Who?