• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Trauma Pelecehan Seksual, Ini 3 Cara Atasi yang Tepat

Trauma Pelecehan Seksual, Ini 3 Cara Atasi yang Tepat

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Beberapa waktu belakangan, Indonesia sedang ramai membicarakan kasus pelecehan seksual yang dilakukan mahasiswa Indonesia di Manchester, Inggris, bernama Reynhard Sinaga. Ada 159 dakwaan pelecehan seksual, dengan 48 korbannya merupakan pria. Dilansir dari BBC UK, The Crown Prosecution Service di Inggris mengatakan kasus ini merupakan kasus terbesar yang pernah terjadi di Inggris. 

Baca juga: Pelecehan Seksual dengan Bius di Inggris, Apa Sebenarnya Chemsex?

Bertanggung jawab dengan perbuatannya, pelaku diancam menjalankan hukuman penjara seumur hidup. Kasus ini membuat banyak masyarakat Indonesia terkejut. Ramai pemberitaan tentang pelaku, namun di balik itu perlu dipahami ada banyak orang yang menjadi korban. Kondisi para korban tidak dapat diabaikan karena kasus ini dapat berdampak buruk bagi psikologis korban.

Mengenal Rape Trauma Syndrome

Kasus pelecehan seksual di Inggris yang dilakukan Reynhard sudah memasuki tahap persidangan. Pengadilan telah mendapatkan beberapa pernyataan dari korban, di antaranya korban ada yang mengalami depresi, stres hingga memiliki keinginan untuk bunuh diri. Kondisi ini membuat prihatin siapa saja yang mendengarnya. Mental Health America mengungkapkan, pelecehan seksual dapat menyebabkan depresi, gangguan kecemasan, Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), dan gangguan makan. Salah satu hal yang juga dapat dialami oleh korban adalah rape trauma syndrome.

Dilansir dari Washington University in St. Louis, rape trauma syndrome berkaitan dengan gangguan mental PTSD yang disebabkan oleh kekerasan seksual. Umumnya, pengidap rape trauma syndrome ini mengalami gejala pada gangguan perilaku, emosi, kognitif, dan pribadi.

Dilansir dari King County Sexual Assault Resources Center, ada rangkaian gejala yang dialami oleh korban, di mana disesuaikan dengan tahapan yang dialami. Ada dua kelompok reaksi, yaitu tahapan akut dan disorganisasi. 

Tahapan akut umumnya terjadi langsung setelah gangguan sedangkan disorganisasi adalah proses yang cukup panjang setelah alami gangguan. Umumnya, korban pelecehan seksual alami gejala, seperti rasa tidak nyaman berada di keramaian, sulit membangun kepercayaan dengan orang baru, alami serangan panik dan cemas berlebihan, depresi, dan alami rasa takut ketika harus bersentuhan dengan orang lain.

Baca juga: Ketahui Jenis Pelecehan Seksual dan Cara Menghadapinya

Trauma Pelecehan Seksual, Ini Cara Mengatasinya

Selain pendampingan yang intens, mengatasi trauma akibat pelecehan seksual yang dialami dapat dilakukan dengan cara:

1. Tidak Menyalahkan Diri Sendiri

Korban pelecehan seksual umumnya sering menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpanya. Sebaliknya, sebaiknya hentikan menyalahkan diri sendiri karena gangguan ini terjadi bukan kesalahan korban. Tidak ada salahnya setelah korban menjalani kehidupan yang baru, lakukan hal-hal yang menyenangkan dan perawatan diri.

2. Jalani Terapi Jika Dibutuhkan

Dilansir dari situs Good Therapy, ada terapi yang bisa dijalankan untuk mengatasi rasa trauma yang kamu alami pasca pelecehan seksual. Kamu bisa lakukan deep therapy, terapi kognitif, dan serta eye movement desensitization and reprocessing therapy. Terapi ini digunakan untuk mengurangi trauma atau ingatan korban terhadap kejadian yang berlangsung.

3. Cari Teman untuk Bertukar Cerita

Beberapa korban pada kasus di Inggris, mengungkapkan bahwa korban berusaha menutupi kasus yang terjadi dari orang-orang terdekatnya. Padahal, bertukar cerita pada kerabat yang dipercaya atau profesional dapat membantu untuk mengatasi trauma akibat pelecehan seksual yang dialami. Tidak ada salahnya kunjungi psikolog pada rumah sakit terdekat agar kamu dapat bertukar cerita dan mengatasi trauma yang kamu alami dengan seseorang yang tepat.

Baca juga: Jangan Anggap Sepele, 5 Gurauan Ini Termasuk Pelecehan Seksual

Memberikan dukungan secara mental dan fisik bagi korban menjadi cara untuk membantu korban untuk mengatasi rasa trauma yang dirasakan. Hal penting yang harus dipahami adalah wajib untuk menjaga keprivasian atau kerahasiaan korban agar proses trauma healing yang dijalani dapat membuahkan hasil yang baik dan positif.

Referensi:
Good Therapy. Diakses pada 2020. Recovery From Sexual Assault
King County Sexual Assault Resource Center. Diakses pada 2020. Rape Trauma Syndrome
Washington University in St. Louis. Diakses pada 2020.Rape Trauma Syndrome
Mental Health America. Diakses pada 2020. Sexual Assault and Mental Health