• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Vaksin COVID-19 di Australia Sebabkan HIV Positif Palsu, Ini Faktanya
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Vaksin COVID-19 di Australia Sebabkan HIV Positif Palsu, Ini Faktanya

Vaksin COVID-19 di Australia Sebabkan HIV Positif Palsu, Ini Faktanya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 15 Desember 2020
Vaksin COVID-19 di Australia Sebabkan HIV Positif Palsu, Ini Faktanya

Halodoc, Jakarta - Vaksin untuk menghentikan COVID-19 kini sudah mulai diedarkan ke berbagai negara-negara di seluruh dunia. Meskipun begitu, sebetulnya masih ada beberapa vaksin yang masih dalam uji klinis kepada manusia. Salah satu negara yang masih melakukan pengujian vaksin ini adalah Australia.

Namun, ada kabar yang cukup mengejutkan dari pengujian vaksin COVID-19 di Australia. Pengembangan vaksin COVID-19 di sana dilaporkan telah dihentikan karena ternyata bisa menyebabkan hasil tes HIV positif palsu. Lantas, apa yang bisa menyebabkan hal ini terjadi? Berikut ulasannya!

Baca juga: Vaksin Corona Tidak Cukup Sekali Suntik, Ini Alasannya

Penyebab Hasil Tes HIV Positif Palsu pada Pengembangan Vaksin COVID-19

Peneliti dari CSL dan University of Queensland (UQ) menjelaskan bahwa kemungkinan penyebab dari hasil tes HIV positif palsu dari pengujian vaksin COVID-19 ini terjadi karena vaksin menggunakan bagian kecil dari HIV.

Mengutip pernyataan di situs resminya, peneliti CSL menyebut protein HIV digunakan sebagai bahan stabilizer atau penyeimbang dalam vaksin. Sebetulnya vaksin ini tidak membuat seseorang terinfeksi HIV, tetapi tubuh ternyata bereaksi terhadap protein tersebut dan menghasilkan antibodi pada tingkat yang membuat para relawan terdeteksi positif HIV.

Sebelum melakukan pengujian, partisipan juga sudah diberitahu tentang kemungkinan ini, tetapi para ahli tidak menduga bahwa antibodi yang dihasilkan cukup untuk sampai mengelabui tes HIV. Untungnya sejauh ini tidak dilaporkan ada efek samping serius yang dilaporkan dari 216 relawan dalam uji klinis vaksin. Pemeriksaan lebih jauh juga mengonfirmasi bahwa tidak ada relawan yang terinfeksi oleh HIV.

Namun, karena menimbulkan kecemasan dan kemungkinan mengganggu upaya deteksi kasus HIV, akhirnya peneliti memutuskan menghentikan pengembangan vaksin ini. Brendan Murphy selaku kepala otoritas kesehatan Australia menyebutkan bahwa jika pengembangan vaksin ini diteruskan, kemungkinan vaksin akan efektif bekerja. Namun, mereka tak mau ambil risiko dengan hasil tes HIV positif palsu ini yang akan menimbulkan kebingungan dan keraguan di masyarakat. 

Baca juga: Ini Alasan Cuaca Dingin Meningkatkan Potensi Penyebaran COVID-19

Lantas, Bagaimana Perkembangan Vaksin di Australia? 

Akibat kemunculan hasil tes HIV positif palsu ini, Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan bahwa pemerintah Australia tidak mau terburu-buru untuk memberikan izin darurat penggunaan vaksin corona buatan Pfizer dan BioNTech.

Scott Morrison menyatakan Australia saat ini berada dalam kondisi yang berbeda dengan Inggris, yang mana sudah lebih dulu memberikan izin darurat penggunaan vaksin buatan Pfizer. Morrison menyebutkan bahwa pemerintahannya ingin memastikan bahwa warga Australia dan dirinya merasa sangat kuat dan memiliki keyakinan penuh mutlak bahwa ketika pengujian berhasil, mereka bisa mendapatkan suntikan vaksin. Jadi, kelak warga Australia bisa membuat keputusan untuk diri mereka sendiri dan untuk keluarga mereka dengan percaya diri. 

Australia hingga kini belum memberikan izin penggunaan vaksin Pfizer, dan Morrison mengatakan jika Australia masih mengamati penggunaannya di Inggris dan Amerika Serikat. Ia mengatakan akan belajar dari pengalaman kedua negara, terutama melalui perjanjian berbagi data dengan Inggris.

Pemerintah negeri kanguru berharap regulator menyetujui penggunaan vaksin corona dari Pfizer dan BioNTech pada akhir Januari kelak dan Australia diharapkan akan mulai melakukan vaksinasi pada Maret 2021.

Baca juga: Vaksin Corona Pfizer Mulai Digunakan di Inggris

Pemerintah dan semua pihak yang terkait di suatu negara memang akan memastikan bahwa vaksin yang kelak akan diberikan kepada rakyatnya benar-benar bisa bekerja dengan efektif guna menghentikan pandemi yang sudah berlangsung delapan bulan ini. Namun, selagi menunggu vaksin benar-benar bisa digunakan, kamu tetap perlu melakukan physical distancing, menjaga kebersihan pribadi, dan menggunakan masker jika berada di tempat umum. 

Jika kamu merasakan gejala mirip COVID-19, sebaiknya segera diskusikan dengan dokter di Halodoc. Dokter akan memberikan saran kesehatan yang bisa kamu lakukan, atau mungkin memintamu melakukan tes diagnosis untuk memastikan apakah gejala yang kamu alami terkait COVID-19 atau tidak. Praktis bukan? Yuk, gunakan aplikasi Halodoc untuk memudahkan mengakses layanan kesehatan untuk dirimu dan orang-orang terdekatmu.

Referensi:
Livescience. Diakses pada 2020. Why an Australian COVID-19 Vaccine Caused False-Positive HIV Tests.
The New York Times. Diakses pada 2020. Australia Scraps Covid-19 Vaccine That Produced H.I.V. False Positives.