31 October 2018

Atlet Lari Terancam Kena Plantar Fasciitis pada Tumit

Atlet Lari Terancam Kena Plantar Fasciitis pada Tumit

Halodoc, Jakarta –  Plantar fasciitis adalah salah satu penyebab paling umum dari nyeri tumit. Ini melibatkan peradangan jaringan tebal yang membentang di bagian bawah kaki dan menghubungkan tulang tumit ke jari-jari kaki (plantar fascia).

Plantar fasciitis umumnya menyebabkan rasa sakit yang menusuk yang biasanya terjadi dengan langkah pertama di pagi hari. Ketika kamu bangun dan bergerak lebih banyak, rasa sakit biasanya menurun, tetapi mungkin kembali setelah berdiri lama atau setelah bangun dari duduk.

Plantar fasciitis lebih sering terjadi ke atlet termasuk pelari. Selain itu, orang-orang yang kelebihan berat badan dan mereka yang memakai sepatu dengan dukungan yang tidak memadai memiliki peningkatan risiko plantar fasciitis.

Dalam keadaan normal, fasia plantar berfungsi seperti tali busur untuk menyerap goncangan serta mendukung lengkungan di kaki. Jika ketegangan dan stres pada tali busur itu menjadi terlalu besar perlukah bisa muncul di fasia. Peregangan berulang dan robekan dapat menyebabkan fasia menjadi iritasi atau meradang. Meskipun pada banyak kasus plantar fasciitis, tetapi penyebabnya tidak jelas.

Diagnosa Plantar Fasciitis

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa tekstur di kakimu apakah ada pembengkakan atau tidak serta lokasi pasti rasa sakit. Hal itu untuk memastikan bahwa itu bukan hasil dari masalah kaki yang berbeda.

Dokter mungkin meminta kamu untuk melenturkan kaki saat mereka mendorong fasia plantar. Ini dilakukan untuk melihat apakah rasa sakit semakin memburuk saat kamu melenturkan dan lebih baik saat kamu mengerucutkan kaki. Dokter juga akan memeriksa apakah kamu memiliki rona kemerahan di lokasi kaki yang bermasalah ataupun pembengkakan ringan.

Dokter akan mengevaluasi kekuatan otot dan kesehatan saraf kamu dengan memeriksa:

  1. Refleks

  2. Bentuk otot

  3. Indera peraba dan penglihatan

  4. Koordinasi

  5. Keseimbangan

Faktor Risiko

Meskipun plantar fasciitis dapat muncul tanpa penyebab yang jelas, tetapi faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko berkembangnya plantar fasciitis adalah sebagai berikut:

  1. Usia

Plantar fasciitis paling umum terjadi antara usia 40 dan 60 tahun.

  1. Jenis latihan tertentu

Aktivitas yang menempatkan banyak tekanan di tumit dan jaringan yang menempel, seperti lari jarak jauh, aktivitas balistik melompat, menari balet, dan tari aerobik dapat berkontribusi pada kemunculan plantar fasciitis yang lebih dini. Makanya para atlet ataupun mereka yang terlalu aktif berolahraga tinggi risiko mengalami kondisi ini.

  1. Mekanik kaki

Penapakan kaki yang tidak pas, memiliki lengkungan tinggi, atau bahkan memiliki pola berjalan yang tidak normal dapat memengaruhi cara pendistribusian berat badan ke kaki. Hal itu terjadi ketika kamu berdiri sehingga menambahkan stres pada fascia plantar.

  1. Kegemukan

Massa berlebih dapat memberikan tekanan ekstra di plantar fascia.

  1. Pekerjaan yang membuatmu Terlalu Lama berdiri

Pekerja pabrik, guru, dan orang lain yang menghabiskan sebagian besar jam kerja mereka berjalan atau berdiri di atas permukaan yang keras dapat merusak plantar fascia-nya.

  1. Sering Mengenakan Heels Tinggi

Terlalu sering mengenakan heels tinggi dapat menyebabkan tumit lelah dan tendon mengencang, sehingga pembagian massa tubuh yang tidak berimbang pada kaki. Akibatnya, sensasi sakit akan kamu rasakan di bagian tumit.

Mengabaikan gejala plantar fasciitis dapat menyebabkan nyeri tumit kronik yang menghambat aktivitas rutinmu. Mengubah caramu berjalan untuk meminimalkan nyeri plantar fasciitis dapat menyebabkan masalah kaki, lutut, pinggul, ataupun punggung.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai plantar fasciitis serta gejala dan penanganannya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Hubungi Dokter, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga: