Awas, Asam Lambung Naik Jika Kebanyakan Makan Daging Saat Diet

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Awas, Asam Lambung Naik Jika Kebanyakan Makan Daging Saat Diet

Halodoc, Jakarta – Metode diet ada banyak sekali jenisnya, meski tujuannya sama, yaitu menurunkan berat badan. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua metode diet yang ada itu baik untuk kesehatan. Sebutlah diet keto, sebuah metode diet yang populer beberapa tahun belakangan, yang juga menuai banyak kontroversi. 

Diet keto merupakan metode penurunan berat badan yang dilakukan dengan cara menerapkan pola makan tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Ya, dalam pelaksanaanya, Keto Warrior (sebutan untuk orang yang menjalankan diet keto), diharuskan untuk menghindari segala bentuk karbohidrat, dan hanya diperbolehkan untuk mengonsumsi makanan tinggi lemak.

Baca Juga: Gejala Penyakit Asam Lambung pada Pria dan Wanita

Pola makan seperti itu diharapkan dapat melatih tubuh untuk menggunakan protein yang masuk sebagai sumber energi, menggantikan karbohidrat. Salah satu makanan tinggi lemak yang disarankan untuk dikonsumsi Keto Warrior adalah daging-dagingan. Namun, pola makan seperti ini menuai kontroversi, terutama dalam hal konsumsi daging berlebihan.

Protein dalam daging memang dapat menjadi sumber energi dalam tubuh manusia. Namun jika dikonsumsi terus-menerus dalam jumlah besar, dapat meningkatkan risiko penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD), yaitu kondisi munculnya rasa terbakar di dada akibat asam lambung yang naik ke kerongkongan. 

Hal ini karena konsumsi daging dalam jumlah yang wajar saja dapat meningkatkan asam lambung. Itulah sebabnya ketika daging dikonsumsi dalam jumlah banyak atau berlebihan, produksi lemak dalam tubuh akan meningkat, dan asam lambung pun akan ikut meningkat. Namun, hal ini bukan berarti kamu tidak boleh menjalani diet keto, ya.

Baca Juga: Puasa Sembuhkan Asam Lambung, Benarkah?

Sebenarnya, jika dijalani dengan benar dan mengikuti arahan dari dokter gizi, menjalani diet keto aman-aman saja. Oleh karena itu, sebelum kamu memutuskan untuk menjalani diet keto, atau metode diet apapun, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu pada dokter gizi, dan pahami berbagai efek sampingnya.

Sekarang, konsultasi dengan dokter gizi bisa semudah berkirim pesan, lewat aplikasi Halodoc. Tak hanya dokter gizi, ada juga ribuan dokter lainnya yang siap bantu atasi keluhanmu selama menjalani diet tertentu. Jadi, pastikan sudah download dan install aplikasi Halodoc di ponselmu, ya. 

Hal-Hal yang Juga Sebabkan Asam Lambung Naik

Asam lambung naik dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak ataupun orang dewasa. Gejala khas dari asam lambung naik adalah heartburn atau rasa seperti terbakar di dada, yang dapat bertambah parah setelah makan atau saat berbaring. Gejala penyakit asam lambung juga dapat disertai dengan keluhan gangguan pencernaan lainnya, seperti mual, maag, dan sesak napas.

Hal-hal yang dapat menyebabkan asam lambung naik ada cukup banyak. Salah satu yang telah dijelaskan sebelumnya adalah konsumsi daging berlebihan. Selain itu, kondisi ini juga dapat terjadi karena kebiasaan makan terlalu banyak, atau langsung berbaring setelah makan.

Baca Juga: Sembuhkan Asam Lambung dengan 5 Makanan Ini

Jika dijelaskan secara medis, penyakit asam lambung terjadi karena melemahnya katup kerongkongan bagian bawah (sfingter). Hal ini membuat katup jadi terbuka pada kondisi tertentu, yang seharusnya tetap dalam posisi tertutup (kecuali saat makan) agar asam lambung tidak naik ke atas. 

Melemahnya sfingter kerongkongan itu membuat asam pada lambung berbalik naik ke kerongkongan, padahal tidak sedang makan. Jika kondisi ini terus-menerus terjadi, lapisan kerongkongan akan mengalami iritasi hingga peradangan, akibat asam lambung yang naik.

Selain konsumsi daging berlebihan dan kebiasaan makan yang buruk, penyakit asam lambung juga dapat terjadi karena beberapa faktor lain, yaitu:

  • Obesitas.
  • Mengalami masalah pada jaringan ikat, misalnya scleroderma.
  • Ada tonjolan di perut bagian atas yang bisa naik sampai ke diafragma (hiatal hernia).
  • Pengosongan perut yang memakan waktu lama.
  • Merokok.
  • Waktu makan terlalu dekat dengan waktu tidur.
  • Terlalu banyak makan makanan tertentu, seperti makanan berlemak dan gorengan.
  • Minum kopi.
  • Minum teh.
  • Minum alkohol.
  • Mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti aspirin.

Referensi:
American Gastroenterological Association. Diakses pada 2019. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Gastroesophageal Reflux Disease.
Healthline. Diakses pada 2019. The Ketogenic Diet: A Detailed Beginner's Guide to Keto.