Bagaimana Cara Mengobati Agranulositosis?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Bagaimana Cara Mengobati Agranulositosis?

Halodoc, Jakarta - Merupakan kondisi langka, agranulositosis ditandai dengan tidak bisanya sumsum tulang memproduksi granulosit dalam jumlah cukup. Granulosit adalah bagian dari sel darah putih yang bertugas membangun sistem kekebalan tubuh. Ketika mengalami agranulositosis, seseorang bisa berisiko tinggi untuk mengalami infeksi berulang atau kronis.

Pengobatan agranulositosis biasanya akan disesuaikan dengan apa yang menyebabkannya. Jika disebabkan oleh malaria, dokter akan memberikan pengganti obat tersebut. Namun, jika disebabkan oleh infeksi bakteri, agranulositosis biasanya dapat diobati dengan pemberian antibiotik. 

Baca Juga: 4 Jenis Kelainan Darah yang Pengaruhi Sel Darah Putih

Dokter biasanya akan meresepkan antibiotik berdasarkan tingkat keparahan kondisi yang diidap. Bahkan pada beberapa kasus, antibiotik bisa diberikan sebelum terjadi infeksi, agar infeksi bisa dicegah. Lebih jelasnya, berikut beberapa jenis obat yang bisa diberikan dokter untuk mengatasi agranulositosis, sesuai dengan penyebabnya:

  • Granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF). Metode ini dilakukan dengan menyuntikkan hormon yang merangsang sumsum tulang untuk menghasilkan lebih banyak granulosit. Penyuntikkan G-CSF biasanya diberikan di bawah kulit (subkutan), pada pengidap agranulositosis akibat obat kemoterapi. 

  • Imunosupresan. Jika disebabkan oleh kondisi autoimun, yaitu adanya kekebalan tubuh yang menyerang tubuh sendiri, dokter biasanya akan memberikan obat imunosupresan, yang dapat menekan kekebalan tubuh tersebut.

  • Transplantasi sumsum tulang. Pada kasus yang parah dan tidak lagi bisa ditangani melalui pengobatan biasa, transplantasi sumsum tulang dapat menjadi pilihan. Metode ini biasanya memberikan hasil terbaik untuk pengidap berusia di bawah 40 tahun dengan fungsi organ lain seperti jantung, ginjal, dan hati yang baik. 

Pengidap agranulositosis juga biasanya dianjurkan untuk tidak berada dalam situasi keramaian, guna meminimalkan risiko infeksi. Tak hanya itu, pengidap juga dianjurkan untuk menghindari makanan yang berpotensi terpapar bakteri, seperti buah atau sayur yang tidak dicuci atau dikupas dengan bersih.

Lebih jelasnya, sebaiknya kamu diskusikan langsung dengan dokter, terkait perawatan rumahan dan perubahan gaya hidup yang perlu dilakukan untuk menunjang pengobatan. Sekarang, diskusi dengan dokter juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc, lho. Lewat fitur Chat atau Voice/Video Call, kamu bisa obrolkan langsung apapun yang ingin kamu tanyakan seputar gangguan kesehatan yang kamu idap. 

Baca Juga: Dampak Kelebihan Sel Darah Putih dalam Tubuh

Gejala Agranulositosis yang Perlu Diwaspadai

Pada kondisi normal, jumlah sel darah putih dalam tubuh haruslah berkisar antara 1500-8000 granulosit (neutrofil) per mikroliter darah. Seseorang dikatakan mengalami agranulositosis jika jumlah sel darah putih kurang dari 100 neutrofil per mikroliter darah. Semakin rendah jumlahnya, semakin besar risiko untuk terkena infeksi berbahaya. 

Adapun gejala-gejala umum dari agranulositosis adalah:

  • Demam mendadak.

  • Panas dingin.

  • Penurunan tekanan darah yang menyebabkan kelemahan anggota badan.

  • Luka di mulut atau tenggorokan.

  • Sakit tenggorokan.

  • Gusi berdarah.

  • Kelelahan.

  • Gejala seperti flu.

  • Sakit kepala.

  • Berkeringat.

  • Pembengkakan kelenjar.

Jika gejala-gejala tersebut dibiarkan tanpa pengobatan, infeksi bisa menyerang hingga ke dalam darah dan menyebabkan keracunan (sepsis). Sepsis dapat mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan cepat. Oleh karena itu, jika mengalami gejala-gejala tersebut, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter, ya. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.

Baca Juga: Ini Alasan Luka Bisa Menjadi Sepsis

Hal-Hal yang Dapat Menyebabkan Agranulositosis

Agranulositosis dapat disebabkan oleh berbagai hal. Pada beberapa kasus, kondisi ini bisa disebabkan oleh kelainan genetik bawaan sejak lahir. Sementara pada beberapa kasus lainnya bisa terjadi karena efek samping obat atau prosedur medis tertentu, seperti kemoterapi.

Terkait obat, agranulositosis dapat terjadi karena efek samping beberapa jenis obat berikut:

  • Obat antitiroid, seperti carbimazole dan methimazole (Tapazole).

  • Obat antiradang, seperti sulfasalazine (Azulfidine), dipyrone (Metamizole), dan obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID).

  • Antipsikotik, seperti clozapine (Clozaril).

  • Antimalaria, seperti quinine.

Agranulositosis juga bisa terjadi karena masalah atau kondisi medis tertentu yang bisa membuat tubuh kekurangan sel darah putih. Misalnya paparan bahan kimia, kanker yang menyerang sumsum tulang, infeksi serius, paparan radiasi, penyakit autoimun, transplantasi sumsum tulang, hingga kekurangan gizi.

Referensi:

Medical News Today. Diakses pada 2019. Agranulocytosis: Types, causes, and symptoms

Healthline. Diakses pada 2019. Agranulocytosis

Cleveland Clinic. Diakses pada 2019. Agranulocytosis